22 Mei 2013
Keindahan Alam diatas Perairan Antara Biak-Makassar
Photo ini diambil pada hari Minggu, 19 Mei 2013 diatas perairan antara Biak sampai Makassar. Pesawat merpati yang membawa saya dari Jayapura ke Jakarta, transit dulu di Biak dan Makassar.
Sunrise di Atas Danau Sentani Jayapura
Sunrise diatas Danau Sentani Jayapura merupakan hasil bidikan sendiri dalam perjalanan ke Jayapura pada hari Sabtu, 18 Mei 2013. Keindahan alam di Jayapura sangat menarik untuk dijadikan salah satu tujuan kunjungan wisata bahari, terlebih Jayapura saat ini terlihat sangat rapi dan bersih.
12 Desember 2012
Ikan Subsidi dan “Degrowth” Ekonomi Perikanan
Ikan Subsidi dan “Degrowth” Ekonomi Perikanan
Suhana* | Selasa, 11 Desember 2012 - 14:55:48 WIB
: 107
(dok/ist)
Pemerintah harus menyediakan aturan yang tegas.
Kebijakan ekonomi perikanan sampai saat
ini belum menemukan suatu konsep yang benar-benar berpihak pada
kepentingan rakyat dan masa depan bangsa dan negara.
Menurut catatan
penulis, berbagai kebijakan ekonomi perikanan mulai dari Protekan
2003, Gerbang Mina Bahari, Revitalisasi Perikanan, Minapolitan dan
Blue Economic saat ini, semuanya berorientasi pada kepentingan asing,
terutama dalam memenuhi kebutuhan negara-negara maju akan sumber daya
ikan yang berkualitas tinggi.
Hal ini tercermin dari target indikator
kinerja utama Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mengedepankan
peningkatan volume ekspor ikan dan produk perikanan, dibandingkan
perbaikan dan peningkatan pasar dalam negeri. Lebih prihatin lagi,
pasokan ikan untuk memenuhi kebutuhan negara-negara maju tersebut
difasilitasi dengan BBM bersubsidi.
Penggunaan BBM bersubsidi untuk usaha
perikanan saat ini diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 15 Tahun 2012 tentang Harga Jual Eceran dan Konsumen Pengguna
Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu.
Dalam lampiran perpres tersebut
dijelaskan bahwa usaha perikanan termasuk yang memiliki yang dimaksud
dengan usaha perikanan tersebut adalah (a) Nelayan yang menggunakan
kapal ikan Indonesia dengan ukuran maksimum 30 GT dan diberikan
kebutuhan BBM paling banyak 25 (dua puluh lima) kiloliter/bulan untuk
kegiatan penangkapan ikan; (b) Nelayan yang menggunakan kapal ikan
Indonesia dengan ukuran di atas 30 GT dan diberikan kebutuhan BBM
paling banyak 25 (dua puluh lima) kiloliter/bulan untuk kegiatan
penangkapan ikan; (c) Pembudi daya-ikan kecil yang menggunakan sarana
pembudidayaan ikan untuk operasional perbenihan dan pembesaran.
Tingginya kepentingan asing di sektor
perikanan tercermin juga dari tingginya nilai investasi asing di
sektor kelautan dan perikanan. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM 2012) menunjukan bahwa sampai triwulan 2 2012, investasi sektor
perikanan 94,11 persen dikuasai asing.
Bahkan, dalam dua tahun
terakhir (2010 dan 2011) investasi asing di sektor perikanan mencapai
di atas 99 persen. Bahkan, informasi di lapangan menunjukkan
kapal-kapal perikanan yang bersumber dari investasi asing tersebut
semuanya berbendera Indonesia, hal ini dimaksudkan supaya mereka bisa
menikmati BBM bersubsidi yang disediakan pemerintah.
Subsidi perikanan (BBM, pakan, kapal,
dll) sampai saat ini penulis masih memandang sangat diperlukan untuk
mendukung usaha perikanan nasional, khususnya usaha perikanan kecil
dan menengah (UMKM Perikanan).
Dengan adanya subsidi perikanan
tersebut diharapkan ikan-ikan yang dihasilkan oleh subsidi perikanan
tersebut dapat seratus persen dimanfaatkan dan dinikmati masyarakat
Indonesia sendiri, melalui ketersediaan ikan-ikan kualitas baik
dengan harga subsidi.
Namun demikian, yang terjadi sampai
saat ini ikan-ikan hasil tangkapan nelayan dan perusahaan perikanan
skala industri yang telah memanfaatkan BBM bersubsidi sebagian besar
diekspor ke pasar-pasar negara maju, seperti Jepang, Uni Eropa dan
Amerika Serikat, terutama untuk ikan-ikan kualitas 1 dan 2.
Hasil
survei lapangan penulis di beberapa lokasi sentra produksi perikanan
menunjukkan bahwa ikan-ikan berkualitas 1 dan 2 rata-rata diekspor ke
Jepang, Amerika dan Uni Eropa, sementara ikan kualitas 3, 4 dan ikan
asin rata-rata untuk konsumsi restoran dan pasar lokal.
Artinya bahwa
selama ini pemerintah secara sistematis telah berperan dalam
menyediakan pasokan kebutuhan ikan negara maju dengan memanfaatkan
uang rakyat.
Peningkatan Gizi Rakyat
Polanco (2012) menyatakan bahwa
konsumsi ikan masyarakat merupakan fungsi dari pendapatan yang dapat
dibelanjakan dan harga ikan. Dengan meningkatnya pendapatan atau
menurunnya harga ikan maka akan berdampak positif terhadap
peningkatan konsumsi ikan masyarakat.
Peran subsidi perikanan adalah
untuk menurunkan biaya produksi yang harus ditanggung para nelayan
dan pengusaha perikanan. Biaya produksi perusahaan perikanan 60-70
persen merupakan biaya untuk bahan bakar minyak.
Dengan demikian,
seharusnya ikan-ikan segar yang berkualitas bagus yang dihasilkan
kapal-kapal perikanan bersubsidi tersebut dipasarkan di dalam negeri
dengan harga terjangkau (harga subsidi). Ini karena anggaran subsidi
BBM tersebut berasal dari uang rakyat, jadi sudah sepantasnya juga
ikan hasil produksinya dinikmati rakyat Indonesia.
Selain itu, ketersediaan ikan subsidi
berkualitas baik tersebut diperlukan guna meningkatkan kualitas
sumber daya manusia Indonesia yang saat ini kondisi gizinya sangat
mengkhawatirkan, terutama sumber daya manusia di sentra-sentra
produksi ikan.
Dokumen Bappenas (2010) menunjukkan bahwa bayi yang
kekurangan gizi masih sangat tinggi, terutama di provinsi-provinsi
berbasis sektor kelautan dan perikanan.
Misalnya Maluku (27,8
persen), Maluku Utara (22,8 persen), Nusa Tenggara Timur (33,6
persen), Nusa Tenggara Barat (24,8 persen), Sulawesi Tenggara (27,6
persen), Papua (21,2 persen), Papua Barat (23,2 persen), Gorontalo
(25,4 persen), Riau (21,4 persen), Kalimantan Barat (22,5 persen),
dan Kalimantan Timur (19,3 persen).
Berdasarkan kondisi
tersebut sudah saatnya ikan-ikan yang dihasilkan dari subsidi
perikanan dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia. Oleh sebab
itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah, yaitu
pertama reorientasi kebijakan ekonomi perikanan dari pertumbuhan
volume ekspor ikan (growth) ke penurun volume ekspor (degrowth).
Hal
ini sesuai dengan amanat Pasal 25B Ayat (2) UU No 45 Tahun 2009
tentang Perubahan UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan yang secara
tegas menyatakan bahwa pengeluaran hasil produksi usaha perikanan ke
luar negeri (ekspor) dilakukan apabila produksi dan pasokan di dalam
negeri telah mencukupi kebutuhan konsumsi nasional.
Kedua, pemerintah harus menyediakan
aturan yang tegas terkait siapa saja yang dapat memanfaatkan BBM
bersubsidi di sektor perikanan. Industri perikanan yang akan
memanfaatkan BBM bersubsidi diharuskan membuat nota kesepahaman agar
ikan-ikan yang dihasilkan industri tersebut 100 persen untuk
kepentingan masyarakat Indonesia.
Industri perikanan nasional harus
didorong untuk berkomitmen dalam meningkatkan kualitas sumber daya
manusia Indonesia yang baik melalui ketersediaan ikan-ikan
berkualitas gizi yang baik dengan harga yang terjangkau. Sementara
itu, kapal-kapal asing berbendera Indonesia dilarang 100 persen
menggunakan BBM bersubsidi.
Ketiga, tindak tegas
para pelaku ekspor dan impor ikan ilegal. Data UN-Comtrade (2011)
mengindikasikan semakin maraknya ekspor ikan tuna ilegal dari
Indonesia ke Thailand. Pada 2000 tercatat dugaan ekspor ikan tuna
Albacore secara ilegal mencapai 52 persen dari total volume ekspor
ikan tuna Albacore Indonesia ke Thailand, yaitu mencapai 271.419
kg dengan nilai mencapai US$ 1.070.630.
Sementara itu, pada 2010, dugaan ekspor ikan tuna Albacore ilegal ke
Thailand semakin meningkat sampai 69,20 persen dari total volume
ekspor ikan tuna Albacore Indonesia ke Thailand. Volume ekspor ikan
tuna Albacore ilegal dari Indonesia ke Thailand tahun 2010
diperkirakan mencapai 2.352.724 kg dengan nilai mencapai US$
8.326.839.
Jadi, pemerintah perlu menyusun
kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat dan masa depan bangsa
melalui “Degrowth” Ekonomi Perikanan dan Gerakan Makan Ikan Segar
Produksi Dalam Negeri.
*Penulis adalah Kepala Riset Pusat
Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim.
Sumber : http://www.shnews.co/detile-12072-ikan-subsidi-dan-%E2%80%9Cdegrowth%E2%80%9D-ekonomi-perikanan.html#
20 November 2012
Ikan Wader : Rekreasi Perikanan Bendungan Gerak Bojonegoro
Bendungan gerak berada di kecamatan Trucuk
Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Bendungan tersebut dibangun membelah sungai Bengawan Solo dengan luas
mencapai 1.841.752 meter persegi. Bendungan tersebut dibangun selain sebagai
pengendali Banjir yang kerapkali melanda Bojonegoro dan sekitarnya akibat dari
meluapnya air Bengawan Solo,juga berfungsi sebagai penyedia air pertanian,
kebutuhan air bersih pdam, kebutuhan bahan baku air industri dan sebagai sarana
wisata bagi masyarakat Bojonegoro.
Ikan wader merupakan jenis ikan sungai yang
ada yang di Bendungan Gerak Bengawan Solo, hasil tangkapan di jual ke
pengunjung bendungan, sisanya di bawa ke pasar terdekat. Harga ikan dijual Rp.
5000 per kg. Ikan hasil tangkapan perhari rata-rata diatas 50 kg. Menangkap ikan wader oleh kelompok nelayan lokal
menjadi pusat perhatian para pengunjung wisata bendungan gerak. Perhatian
pengunjung tertuju pada alat tangkap ikan yang digantung tepat diatas permukaan
air deras yang keluar dari pintu bendungan. Alat tangkap tersebut dibuat oleh
para nelayan untuk menjebak ikan-ikan wader yang memiliki perilaku meloncat
menerjang derasnya air yang keluar dari mulut bendungan tersebut. Al hasil ikan
wader yang meloncat tersebut terjebak dalam alat tangkap yang sudah dipasang
tersebut.
Yang menjadi daya tarik
lainnya adalah ketika ikan meloncat menerjang air bendungan, para nelayan
dengan semangat bertepuk tangan seakan-akan menyemangati ikan-ikan yang ada di
aliran sungai tersebut untuk terus meloncat, bahkan para pengunjung pun turut
serta bertepuk tangan untuk menyemangati ikan-ikan meloncat. Sehingga proses
memangkap ikan wader tersebut terlihat sangat meriah dengan tepuk tangan
nelayan dan para pengunjung lokasi wisata tersebut. Memang belum ada riset yang
membuktikan antara tepuk tangan penyemangat dari nelayan dan pengunjung wisata
dengan jumlah ikan yang tertangkap. Tapi itulah salah satu keunikan dari cara
menangkap ikan wader ini. Pengamatan penulis dalam 3-5 menit, alat tangkap
tersebut sudah terisi sekitar 2-3 kg ikan wader.
Gambar 1. Alat tangkap diletakkan di atas permukaan air yang keluar dari mulut bendungan. Ikan wader yang meloncat menerjang arus air terjebak di alat tangkap tersebut.
Gambar 2. Alat Tangkap yang sudah terisi ikan wader diangkat
Gambar 3. Ikan wader hasil tangkapan di jual ke para pengunjung wisata Bendungan Gerak dan ke pasar-pasar terdekat.
Sumber : Hasil rekreasi liburan 17 November 2012
15 Oktober 2012
Koleksi Perpustakaan Suhana
| DAFTAR BUKU/JURNAL/MAJALAH/PAPER | |||||||||||
| KOLEKSI PERPUSTAKAAN SUHANA | |||||||||||
| No | Judul | Pengarang | Tahun Terbit | Penerbit | ISBN/ISSN | Edisi | Jumlah Halaman | Bentuk | Cetak | Bidang | |
| 1 | World Fisheries : a social-ecological analysis | Rosemary E. Ommer ...(et.al) | 2011 | Blackwell Publishing Ltd | 978-1-4443-3467-8 | First | 407 + xxii | Buku | Ada | Ada | Sosial-Ecologi |
| 2 | Advances in fisheries economics : festschrift in honour of Professor Gordon R. Munro | Trond Bjørndal ... [et al.] | 2007 | Blackwell Publishing Ltd | 978-1-4051-4161-1 | First | 305 + viii | Buku | Ada | Ada | Ekonomi |
| 3 | An Introduction To Ecological Economics | Robert Costanza, John Cumberland, Herman Daly, Robert Goodland and Richard Norgaard | 1997 | St. Lucie Press and ISEE | 1-884015-72-7 | First | 275 | Buku | Ada | Ada | Ekologi-Ekonomi |
| 4 | Applications of Simulation Methods in Environmental and Resource Economics | Riccardo Scarpa and Anna Alberini | 2005 | Springer | 978-1-4020-3684-2 | First | 431 | Buku | Ada | Ada | Ekonomi |
| 5 | Bioeconomics of fisheries management | Lee G. Anderson and Juan Carlos Seijo | 2010 | Blackwell Publishing Ltd | 978-0-8138-1732-3 | First | 319 | Buku | Ada | Ada | Ekonomi |
| 6 | Economic and Environmental Impact of Free Trade in East and South East Asia | Kakali Mukhopadhyay and Paul J. Thomassin | 2010 | Springer | 978-90-481-3507-3 | First | 219 | Buku | Ada | Ada | Ekonomi |
| 7 | Environmental & Natural Resources Economics | Tom Tientenberg and Lynne Lewis | 2012 | Pearson Education | 978-0-13-139257-1 | 9th ed. | 696 | Buku | Ada | Ada | Ekonomi |
| 8 | Fair Trade For All. How Trade Can Promote Development | Joseph E. Stiglits and Andrew Charlton | 2005 | Oxford University Press | 978–0–19–929090–1 | First | 344 | Buku | Ada | Ada | Ekonomi |
| 9 | Globalisation, domestic politics and regionalism: the ASEAN Free Trade Area | Helen E.S.Nesadurai | 2003 | Routledge | 0-203-33968-1 | First | 230 | Buku | Ada | Ada | Ekonomi Politik |
| 10 | Globalization : Effects on Fisheries Resources | William W. Taylor, Michael G. Schechter and Lois G. Wolfson | 2007 | Cambridge University Press | 978-0-511-36644-4 | First | 580 | Buku | Ada | Ada | Ekonomi Politik |
| 11 | Institutions, Ecosystems, and Sustainability | Robert Costanza, Elinor Ostrom, Bobbi Low, and James Wilson | 2001 | Lewis Publishers | 1-56670-389-1 | First | 286 | Buku | Ada | Ada | Kelembagaan |
| 12 | International economics : theory & policy | Paul R. Krugman, Maurice Obstfeld, Marc J. Melitz | 2012 | Addison-Wesley | 978-0-13-214665-4 | Ninth | 736 | Buku | Ada | Ada | Ekonomi |
| 13 | International Economics of Resource Efficiency. Eco-Innovation Policies for a Green Economy | Raimund Bleischwitz, Paul J.J. Welfens and ZhongXiang Zhang | 2011 | Springer | 978-3-7908-2601-2 | First | 425 | Buku | Ada | Ada | Ekonomi |
| 14 | Maple and Mathematica. A Problem Solving Approach for Mathematics | Inna Shingareva and Carlos Lizarraga-Celaya | 2007 | Springer | 978-3-211-73264-9 | First | 274 | Buku | Ada | Ada | Matematika |
| 15 | Recreation Fisheries. Ecological, Economic and Social Evaluation | Tony J. Pitcher and Charles E. Hollingworth | 2002 | Blackwell Science Ltd | 0-632-06391-2 | First | 290 | Buku | Ada | Ada | Ekonomi |
| 16 | Stakeholders : theory and practice | Andrew L. Friedman and Samantha Miles | 2006 | Oxford University Press | 978-0-19-926987-7 | First | 361 | Buku | Ada | Ada | Sosial |
| 17 | Sustainable resource use : institutional dynamics and economics | Alex Smajgl and Silva Larson | 2007 | Earthscan | 978-1-84407-459-4 | First | 289 | Buku | Ada | Ada | Sumberdaya Alam |
| 18 | The Trade Impact of European Union Preferential Policies. An Analysis Through Gravity Models | Luca De Benedictis and Luca Salvatici | 2011 | Springer | 978-3-642-16564-1 | First | 252 | Buku | Ada | Ada | Ekonomi |
| 19 | Econometric Analysis of Cross Section and Panel Data | Je¤rey M. Wooldridge | The MIT Press | First | 740 | Buku | Ada | Tidak | Ekonomterik | ||
| 20 | Solutions Manual and Supplementary Materials for Econometric Analysis of Cross Section and Panel Data | Je¤rey M. Wooldridge | The MIT Press | First | 135 | Buku | Ada | Tidak | Ekonometrik | ||
| 21 | Property Law and Economics | Boudewijn Bouckaert | 2010 | Edward Elgar Publishing Limited | 978 1 84720 565 0 | First | 350 | Buku | Ada | Tidak | Hukum |
| 22 | Analysis Of Transaction Cost | Manoj Shah | 2007 | Sunrise Publishers | 978-93-8-0207-061 | First | 383 | Buku | Ada | Tidak | Kelembagaan |
| 23 | Coastal governance | Richard Burroughs | 2011 | ISLAND PRESS | 978-1-59726-485-3 | First | 256 | Buku | Ada | Tidak | Kelembagaan |
| 24 | Handbook Of New Institutional Economics | Claude Menard and Mary M. Shirley | 2005 | Springer | 978-0-387-25092-2 | First | 875 | Buku | Ada | Tidak | Kelembagaan |
| 25 | Marine Mineral resources | Fillmore C.F. Earney | 1990 | Routledge | 0-415-02255-X | First | 434 | Buku | Ada | Tidak | Sumberdaya Alam |
| 26 | A Guide to The Measurement of the Market Data for the Ocean and Coastal Economy in the National Ocean Economics Program | Charles S. Colgan | 2007 | National Ocean Economics Program (NOEP) | First | 49 | Buku | Ada | Tidak | Ekonomi | |
| 27 | Resource Economics | Jon M. Conrad | 1999 | Cambridge University Press | 0 511 02252 2 | First | 224 | Buku | Ada | Tidak | Ekonomi Sumberdaya |
| 28 | The economics of nature and the nature of economics | Cutler J. Cleveland, David I. Stern, Robert Costanza | 2001 | Edward Elgar Publishing Limited | 1 85898 980 9 | First | 304 | Buku | Ada | Tidak | Ekonomi Sumberdaya |
| 29 | The New Institutional Economics and Third World Development | John Harriss, Janet Hunter and Colin M. Lewis | 1995 | Routledge | 0-203-75253-8 | First | 375 | Buku | Ada | Tidak | Ekonomi Kelembagaan |
| 30 | The Oxford Handbook of Comparative Institutional Analysis | Glenn Morgan, John L. Campbell, Colin Crouch, Ove Kaj Pedersen and Richard Whitley | 2010 | Oxford University Press | 978–0–19–923376–2 | First | 724 | Buku | Ada | Tidak | Kelembagaan |
| 31 | A Survey of Sustainable Development : Social and Economic Dimensions | Jonathan M. Harris, Timothy A. Wise, Kevin P. Gallagher and Neva R. Goodwin | 2001 | ISLAND PRESS | 1-55963-862-1 | First | 450 | Buku | Ada | Tidak | Sosial |
| 32 | A theory of the state: economic rights, legal rights, and the scope of the state | Yoram Barzel | 2002 | Cambridge University Press | 0-521-80605-4 | First | 304 | Buku | Ada | Tidak | Kelembagaan |
09 Oktober 2012
Info Jurnal Gratis : Natural Resource Modeling
Bagi para pengunjung setia blog ini, silahkan bisa download jurnal Natural Resources Modeling Volume 25, Issue 1, Pebruari 2012. Lengkapnya bisa diakses di : http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/nrm.2012.25.issue-1/issuetoc
Salam
Suhana
Salam
Suhana
Natural Resource Modeling
© Wiley Periodicals, Inc.
Special Issue: 25 Years of Natural Resource Modeling: Perspectives of Then and Now
February 2012
Volume 25, Issue 1
Pages 1–272
Editorial
- You have free access to this contentINTRODUCTION TO THE SPECIAL ISSUE : 25 YEARS OF NATURAL RESOURCE MODELING: PERSPECTIVES OF THEN AND NOW (pages 1–4)Catherine A. Roberts
Article first published online: 30 DEC 2011 | DOI: 10.1111/j.1939-7445.2011.00111.x
Original Articles
- You have free access to this contentMATHEMATICAL MODELING OF VIRAL ZOONOSES IN WILDLIFE (pages 5–51)L. J. S. ALLEN, V. L. BROWN, C. B. JONSSON, S. L. KLEIN, S. M. LAVERTY, K. MAGWEDERE, J. C. OWEN and P. VAN DEN DRIESSCHE
Article first published online: 30 DEC 2011 | DOI: 10.1111/j.1939-7445.2011.00104.x
- You have free access to this contentNONSPATIAL AND SPATIAL MODELS IN BIOECONOMICS (pages 52–92)JON M. CONRAD and MARTIN D. SMITH
Article first published online: 30 DEC 2011 | DOI: 10.1111/j.1939-7445.2011.00102.x
- You have free access to this contentA BIOMASS FLOW APPROACH TO POPULATION MODELS AND FOOD WEBS (pages 93–121)WAYNE M. GETZ
Article first published online: 30 DEC 2011 | DOI: 10.1111/j.1939-7445.2011.00101.x
- You have free access to this contentTHE EVOLUTION OF QUANTITATIVE MARINE FISHERIES MANAGEMENT 1985–2010 (pages 122–144)RAY HILBORN
Article first published online: 30 DEC 2011 | DOI: 10.1111/j.1939-7445.2011.00100.x
- You have free access to this contentA BRIEF AND BIASED LOOK AT SPATIAL STRUCTURE IN ECOLOGICAL MODELS: A ROUTE TO INDIVIDUAL-BASED MODELS (pages 145–167)ROLAND H. LAMBERSON
Article first published online: 30 DEC 2011 | DOI: 10.1111/j.1939-7445.2011.00103.x
- You have free access to this contentECONOMICS AND THE MODELING OF WATER RESOURCES AND POLICIES (pages 168–218)JAMES F. BOOKER, RICHARD E. HOWITT, ARI M. MICHELSEN and ROBERT A. YOUNG
Article first published online: 30 DEC 2011 | DOI: 10.1111/j.1939-7445.2011.00105.x
- You have free access to this contentNEW HORIZONS FOR MANAGING THE ENVIRONMENT: A REVIEW OF COUPLED SOCIAL-ECOLOGICAL SYSTEMS MODELING (pages 219–272)M. SCHLÜTER, R. R. J. MCALLISTER, R. ARLINGHAUS, N. BUNNEFELD, K. EISENACK, F. HÖLKER, E.J. MILNER-GULLAND, B. MÜLLER, E. NICHOLSON, M. QUAAS and M. STÖVEN
Article first published online: 30 DEC 2011 | DOI: 10.1111/j.1939-7445.2011.00108.x
Langganan:
Postingan (Atom)
Saatnya Mewujudkan Negara Kepulauan Indonesia
"UUD 1945 Pasal 25E telah mengamantkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang"



