<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945</id><updated>2011-11-07T11:21:58.765+07:00</updated><title type='text'>Archipelago Economic Center</title><subtitle type='html'>Membangun Ekonomi Kepulauan Indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>121</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-4593732123650836816</id><published>2011-11-07T11:21:00.003+07:00</published><updated>2011-11-07T11:21:58.930+07:00</updated><title type='text'>Bantuan Kapal dan Konflik Perebutan Wilayah</title><content type='html'>&lt;div class="date"&gt;31.10.2011 10:14&lt;/div&gt;&lt;h1&gt;Bantuan Kapal dan Konflik Perebutan Wilayah&lt;/h1&gt;&lt;h1&gt;&lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/content/read/bantuan-kapal-dan-konflik-perebutan-wilayah/" target="_blank"&gt;http://www.sinarharapan.co.id/content/read/bantuan-kapal-dan-konflik-perebutan-wilayah/&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/h1&gt;&lt;div class="writer"&gt;Penulis : Suhana* &amp;nbsp; &lt;span class="countTop"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="content-detail"&gt;          &lt;div class="subheader"&gt;           &lt;div class="news-single-img"&gt;&lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/index.php?eID=tx_cms_showpic&amp;amp;file=uploads%2Fpics%2Fkapal_nelayan_bersandar_02.JPG&amp;amp;md5=fcac90bb72f0c3043a4e926a788d3aaa2e192e2c&amp;amp;parameters[0]=YTo0OntzOjU6IndpZHRoIjtzOjQ6IjgwMG0iO3M6NjoiaGVpZ2h0IjtzOjM6IjYw&amp;amp;parameters[1]=MCI7czo3OiJib2R5VGFnIjtzOjQyOiI8Ym9keSBiZ0NvbG9yPSIjZmZmZmZmIiBz&amp;amp;parameters[2]=dHlsZT0ibWFyZ2luOjA7Ij4iO3M6NDoid3JhcCI7czozNzoiPGEgaHJlZj0iamF2&amp;amp;parameters[3]=YXNjcmlwdDpjbG9zZSgpOyI%2BIHwgPC9hPiI7fQ%3D%3D" target=""&gt;&lt;img alt="" border="0" height="188" src="http://www.sinarharapan.co.id/typo3temp/pics/c773ad6e16.jpg" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;            &lt;div class="news-single-imgcaption" style="width: 250px;"&gt;(foto:dok/ist)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana mengalihkan sebagian anggaran program 1.000 kapal nelayan berbobot mati di atas 30 gross ton (GT) untuk pengadaan kapal yang berukuran lebih kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          &lt;span style="font-size: x-small;"&gt; Hal itu guna merespons keputusan rapat kerja Komisi IV DPR, yang mendesak pemerintah mengevaluasi kembali program pengadaan 100 kapal periode 2010-2014 agar lebih berguna bagi nelayan kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          &lt;a href="" name="yui_3_2_0_1_1319681786573673"&gt;&lt;/a&gt; Rencana pemerintah untuk menurunkan ukuran kapal bantuan bagi nelayan hendaknya dicermati secara hati-hati, apakah dengan diberikannya bantuan kapal yang lebih kecil nelayan akan semakin sejahtera atau bahkan sebaliknya.&lt;br /&gt;           Pemerintah perlu membuka kembali data dalam 10 tahun terakhir ini terkait kasus-kasus perebutan wilayah tangkap antarnelayan kecil di perairan Indonesia, yang sangat tinggi. &lt;br /&gt;          Misalnya awal Mei 2005 di Perairan Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, telah terjadi pertikaian antarnelayan dalam perebutan wilayah tangkapan ikan. Pertikaian tersebut telah mengakibatkan sembilan kapal nelayan habis terbakar (&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 4 Mei 2005). &lt;br /&gt;           Akar permasalahan berbagai pertikaian perebutan wilayah tangkap tersebut lebih didominasi oleh semakin menurunnya sumber daya ikan di wilayah perairan Indonesia dan belum terkendalinya jumlah kapal dan nelayan kecil di perairan Indonesia. &lt;br /&gt;          Dengan demikian, apabila sekarang ini KKP mau menambah jumlah kapal kecil di wilayah perairan Indonesia, penulis khawatir program tersebut akan semakin memperkeruh masalah perebutan wilayah tangkap di perairan Indonesia.&lt;br /&gt;          &lt;b&gt;Kebijakan Tanggung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;           Sejauh ini, sejumlah kebijakan demi mengatasi masalah perebutan wilayah tangkap antarnelayan kecil di perairan Indonesia sudah dicoba pemerintah. Namun akibat perencanaan yang tidak matang, kebijakan-kebijakan tersebut gagal di tengah jalan. &lt;br /&gt;          Misalnya pada periode pemerintahan Megawati, pemerintah mencanangkan program transmigrasi nelayan Pantai Utara Jawa ke wilayah perairan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) guna menghindari kelebihan nelayan di perairan Pantai Utara Jawa. &lt;br /&gt;          Namun, karena tidak ada perencanaan yang matang, program trasmigrasi nelayan tersebut terkesan tak lebih hanya “mentransmigrasikan” kemiskinan nelayan dari Pulau Jawa ke wilayah perairan lain. &lt;br /&gt;           Saat ini pemerintah mencanangkan program restrukturisasi kapal milik nelayan kecil diganti dengan kapal-kapal di atas 30 GT, dengan harapan para nelayan kecil tersebut dapat mengakses wilayah perairan ZEEI dan laut lepas.&lt;br /&gt;           Namun, karena belum ada perencanaan yang matang, keberadaan program tersebut kini menimbulkan berbagai masalah di lapangan dan terancam gagal. &lt;br /&gt;           Hal itu tercermin dari empat indikator. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 2011 terhadap realisasi anggaran KKP tahun anggaran 2010 tercatat adanya beberapa satuan kerja (satker) pada Tugas Pembantuan, dalam hal ini pemerintah daerah kabupaten/kota, yang tidak merealisasikan anggaran untuk pengadaan kapal di atas 30 GT. &lt;br /&gt;          Berdasarkan laporan BPK tersebut, berarti pelaksanaan bantuan kapal untuk restrukturisasi kapal nelayan tidak dibuat dengan perencanaan yang matang. &lt;br /&gt;          &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, KKP sebagai penggagas program tersebut jelas belum memahami karakteristik para nelayan kecil dan kondisi sumber daya ikan di perairan Indonesia.&lt;br /&gt;           Karakteristik nelayan kecil berbeda dengan karakter nelayan yang menggunakan kapal di atas 30 GT, mulai dari perilaku menangkap ikan sampai pada penguasaan teknologi yang ada di kapal jelas sangat jauh berbeda. &lt;br /&gt;          Akibatnya, dengan waktu yang sangat &lt;i&gt;mepet&lt;/i&gt; tersebut sangat tidak masuk akal apabila pemerintah dapat mengubah karakteristik nelayan kecil menjadi nelayan dengan kapal 30 GT tersebut. Apalagi tidak diikuti dengan program-program adaptasi nelayan kecil tersebut menjadi nelayan besar. &lt;br /&gt;           Terkait dengan kondisi sumber daya ikan di perairan Indonesia, saat ini kondisi penangkapan di laut pertumbuhannya sudah mulai terbatas, mengingat sudah mulai banyak kawasan perairan yang &lt;i&gt;fully-exploited &lt;/i&gt;maupun mengalami &lt;i&gt;over fishing &lt;/i&gt;seperti yang telah dilaporkan Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan dalam hasil evaluasinya tahun 2006.&lt;br /&gt;           Namun, walaupun kondisi sudah kritis, sampai saat ini Menteri Kelautan dan Perikanan belum menjalankan amanat UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, yang secara tegas mengamanatkan agar segera menyusun keputusan menteri terkait rencana pengelolaan perikanan nasional (Pasal 7). &lt;br /&gt;          &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, seandainya saja benar kapal tersebut diberikan kepada para nelayan kecil, penulis yakin hal itu malah akan makin menjerumuskan nelayan terhadap ketergantungan kepada para tengkulak. Biaya pengoperasian kapal di atas 30 GT sangat besar, bisa mencapai puluhan juta rupiah sekali trip. &lt;br /&gt;          Apalagi, BBM yang dipakai untuk kapal ikan di atas 30 GT dikenakan harga nonsubsidi (harga industri). Pertanyaannya: darimana para nelayan kecil mendapat biaya operasional kapal tersebut kalau bukan dari para tengkulak? Terlebih pihak perbankan pun belum mau mengucurkan kredit modal untuk para nelayan. &lt;br /&gt;          Ujung-ujungnya, kapal-kapal itu akan berganti pemilik ke para tengkulak. Kalau hal itu sampai terjadi, jelas bantuan kapal akan semakin menjerumuskan para nelayan kecil pada praktik-praktik yang melanggar hukum.&lt;br /&gt;          &lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, pascapelaksanaan bantuan kapal 30 GT tersebut, produksi perikanan tangkap dipastikan tidak bakal meningkat signifikan. Bahkan laporan audit BPK (2011) menunjukkan bahwa dari total produksi perikanan nasional tahun 2010, 50,55 persen disumbangkan perikanan budi daya.&lt;br /&gt;           Artinya, peran perikanan tangkap terlihat semakin menurun dalam kontribusi terhadap produksi perikanan nasional. Ini sesuai dengan kondisi sumber daya perikanan tangkap tersebut.&lt;br /&gt;           Selain itu, kesejahteraan nelayan tidak meningkat signifikan, bahkan cenderung menurun. Hal ini tercermin dari terus menurunnya nilai tukar nelayan. &lt;br /&gt;          Data Badan Pusat Statistik (2011) terlihat bahwa rata-rata nilai tukar nelayan nasional per September 2011 tercatat hanya mencapai 103,80, atau menurun jika dibandingkan tahun 2009 yang nilainya mencapai 105,05.&lt;br /&gt;          &lt;b&gt;Harus Matang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;          &lt;a href="" name="yui_3_2_0_1_1319681786573661"&gt;&lt;/a&gt; Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, KKP perlu kembali mematangkan perencanaan restrukturisasi kapal nelayan tersebut. Pengalihan bantuan kapal 30 GT menjadi kapal-kapal yang berukuran lebih kecil tidak akan menyelesaikan masalah nelayan dan pengelolaan sumber daya ikan di lapangan.&lt;br /&gt;           Seandainya program tersebut dilaksanakan, penulis melihat hanya menyelesaikan tekanan politik saja, sementara masalah perebutan sumber daya ikan antarnelayan Indonesia akan semakin parah. Ini karena kapal-kapal kecil akan semakin menumpuk di wilayah pesisir Indonesia, sementara kondisi sumber daya ikan terus menurun. &lt;br /&gt;           Karena itu, KKP sebelum melanjutkan program restrukturisasi kapal tersebut hendaknya mematangkan lebih dahulu perencanaan program tersebut. &lt;br /&gt;          Selain itu, KKP hendaknya segera menyusun keputusan menteri terkait rencana pengelolaan perikanan nasional, sebagaimana diamanatkan dalam UU Perikanan. Ini dimaksudkan agar program bantuan kapal tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi sumber daya ikan nasional. &lt;br /&gt;           Program-program bimbingan adaptasi dari nelayan kecil (pantai) menjadi nelayan besar (ZEE dan laut lepas) juga perlu dikedepankan guna menjaga kesuksesan program tersebut. Dukungan perbankan jgua diharapkan. Ini dimaksudkan agar ketergantungan nelayan terhadap para tengkulak akan semakin menurun. &lt;br /&gt;          Alhasil, tanpa adanya perencanaan yang matang, program bantuan kapal akan berujung pada krisis sumber daya ikan, konflik, dan kemiskinan nelayan, serta semakin menjamurnya praktik korupsi.&lt;br /&gt;          &lt;i&gt;*Penulis adalah Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;sumber : http://www.sinarharapan.co.id/content/read/bantuan-kapal-dan-konflik-perebutan-wilayah/ &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-4593732123650836816?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/4593732123650836816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=4593732123650836816' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/4593732123650836816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/4593732123650836816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/11/bantuan-kapal-dan-konflik-perebutan.html' title='Bantuan Kapal dan Konflik Perebutan Wilayah'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-5090547732409060340</id><published>2011-09-24T16:39:00.003+07:00</published><updated>2011-09-24T16:39:46.188+07:00</updated><title type='text'>Negara Kelautan Pengimpor 1,8 Juta Ton Garam</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="writer"&gt;Penulis : Suhana* &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span class="countTop"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="content-detail"&gt;										&lt;div class="subheader"&gt;											&lt;div class="news-single-img"&gt;&lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/index.php?eID=tx_cms_showpic&amp;amp;file=uploads%2Fpics%2Fimpor_garam_01.jpg&amp;amp;md5=db1e94b93adccd8121cb774aa1536c4c58451ea9&amp;amp;parameters[0]=YTo0OntzOjU6IndpZHRoIjtzOjQ6IjgwMG0iO3M6NjoiaGVpZ2h0IjtzOjM6IjYw&amp;amp;parameters[1]=MCI7czo3OiJib2R5VGFnIjtzOjQyOiI8Ym9keSBiZ0NvbG9yPSIjZmZmZmZmIiBz&amp;amp;parameters[2]=dHlsZT0ibWFyZ2luOjA7Ij4iO3M6NDoid3JhcCI7czozNzoiPGEgaHJlZj0iamF2&amp;amp;parameters[3]=YXNjcmlwdDpjbG9zZSgpOyI%2BIHwgPC9hPiI7fQ%3D%3D" target=""&gt;&lt;img alt="" border="0" height="132" src="http://www.sinarharapan.co.id/typo3temp/pics/f1cfccb159.jpg" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;												&lt;div class="news-single-imgcaption" style="width: 250px;"&gt;(foto:dok/ist)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Sebulan lebih masalah garam nasional menjadi perbincangan publik, baik di media massa maupun dalam forum-forum diskusi lainnya, seperti di pertemuan &lt;i&gt;focus group discussion &lt;/i&gt;(FGD) kantor &lt;i&gt;Sinar Harapan&lt;/i&gt; pekan lalu. &lt;br /&gt;										Kisruh garam diawali dengan banjirnya garam impor legal maupun ilegal di awal 2011. Akibatnya harga garam petani anjlok. Garam impor memang sangat menekan para petani garam nasional, karena di beberapa sentra garam saat ini sedang panen raya. &lt;br /&gt;										Akan tetapi pada 2010 harus diakui garam impor sangat diperlukan untuk memenuhi konsumsi garam nasional. Proses produksi garam yang masih mengandalkan proses alami dari panas sinar matahari telah menjadi kendala ketika cuaca buruk, seperti yang terjadi sepanjang 2010.&lt;br /&gt;										 Produksi garam nasional pada 2010 hanya mencapai 30.000 ton, sehingga pemerintah mengimpor lebih dari 2,1 juta ton guna memenuhi kebutuhan nasional. Rata-rata impor garam nasional setiap tahunnya mencapai 1,8 juta ton (UN Comtrade 2010).&lt;br /&gt;										Kisruh garam impor terjadi karena pemerintah tidak konsisten dan tegas menerapkan Surat Keputusan Menperindag No 360/MPP/Kep/5/2004 yang mengatur tentang (1) kewajiban bagi industri yang mengimpor garam (importir terdaftar garam) untuk membeli 50 persen kebutuhannya dari garam lokal terlebih dahulu, (2) dilarang mengimpor garam pada masa tertentu (satu bulan sebelum panen, selama panen, dan dua bulan setelah panen garam rakyat), serta dilarang mengimpor garam bila harga garam rakyat terlalu rendah (di bawah Rp 145.000 per ton untuk mutu K1, Rp 100.000 per ton untuk K2, dan Rp 70.000 untuk K3). Kenyataan di lapangan, SK Menperindag tersebut tak laku.&lt;br /&gt;										&lt;b&gt;Mutu Rendah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;										Sebagian besar masyarakat mempertanyakan kenapa Indonesia yang lautnya luas masih mengimpor garam. Seharusnya para pemangku kepentingan (baca: pemerintah) sadar hal itu dan membuat kebijakan pergaraman nasional yang baik.&lt;br /&gt;										Catatan penulis menunjukkan tingginya impor garam disebabkan oleh, &lt;i&gt;pertama,&lt;/i&gt; produksi garam nasional 100 persen masih mengandalkan panas matahari. Proses produksi garam nasional yang masih sangat tradisional tersebut menjadi pemicu rendahnya produksi garam nasional. &lt;br /&gt;										Sampai saat ini tidak dikembangkan teknologi tepat guna dan ekonomis yang dapat diaplikasikan oleh para petambak garam. Akibatnya, produksi garam nasional masih sangat tergantung pada kondisi cuaca, kalau panas matahari cukup, produksi garam meningkat dan sebaliknya. &lt;br /&gt;										Penulis menilai pemerintah tidak serius membenahi proses produksi garam nasional. Seharusnya sejak lama pemerintah dan perguruan tinggi dapat mengembangkan berbagai teknologi tepat guna dan ekonomis bagi para petani garam, namun hal itu hanya berhenti di angan-angan. Bahkan ketika ditanyakan pada kalangan perguruan tinggi dan pemerintah: adakah ahli garam di Indonesia? Jawabannya, banyak yang tidak tahu siapa ahli garam yang ada di negara bahari ini.&lt;br /&gt;										&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, garam yang diproduksi petambak tradisional kualitasnya rendah, sehingga para pengusaha lebih menyukai garam impor yang berkualitas tinggi namun harganya murah.&lt;br /&gt;										 Secara hukum ekonomi perilaku pengusaha garam nasional tersebut dapat dibenarkan. Meskipun demikian, tanpa adanya pembinaan yang baik terhadap para petambak garam nasional agar mutu produksi mereka meningkat, sama saja dengan membiarkan mereka terus terpuruk.&lt;br /&gt;										&lt;b&gt;Perlu Kebijakan Tuntas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;										Ada tiga hal pokok yang sering menjadi masalah bagi petani garam, yaitu harga, mutu, dan distribusi produk. Kalau kita lihat saat ini, penentuan harga garam di tingkat petani lebih banyak ditentukan pada mekanisme pasar, walaupun dalam SK Menperindag Tahun 2004 telah ditentukan patokan harga di tingkat titik pengepul (&lt;i&gt;collecting point&lt;/i&gt;) di sentra-sentra garam rakyat. &lt;br /&gt;										 Penentuan harga dalam realisasinya belum dilaksanakan, tidak dilakukan secara konsisten dan konsekuen meskipun telah ditetapkan dan diatur keputusan pemerintah.&lt;br /&gt;										Belum adanya standardisasi mutu yang baku dan disepakati pemangku kepentingan terkait, setidak-tidaknya oleh petani garam dan pihak produsen garam olahan, sangat merugikan petani.&lt;br /&gt;										 Selama ini penentuan mutu oleh produsen secara sepihak berdasarkan hasil visualisasi produk. Petani garam tidak mengetahui secara pasti spesifiksi teknis kelas mutu dan harga yang berlaku. Keterbatasan akses informasi dimanfaatkan produsen dalam penentuan mutu produk garam petani.&lt;br /&gt;										Sementara itu, upaya untuk meningkatkan mutu dan jumlah garam rakyat yang diproduksi juga mengalami banyak kendala, antara lain makin buruknya mutu air laut sebagai bahan baku pembuatan garam, makin sempit dan kecilnya petak-petak ladang garam karena kepemilikan per orang/penguasaan lahan yang terbatas, bersaing dengan penggunaan lahan yang lebih produktif, lamanya musim hujan dan tingginya curah hujan pada waktu tertentu, dan makin tingginya biaya produksi di saat harga garam rakyat jatuh.&lt;br /&gt;										Berdasarkan hal tersebut, kisruh garam impor ini hendaknya dijadikan pintu masuk untuk memperbaiki kebijakan pergaraman nasional yang saat ini masih sangat amburadul. Perlu ada kebijakan yang tuntas guna memperbaiki kondisi pergaraman dan kesejahteraan petani garam nasional. &lt;br /&gt;										 Petani garam tidak hanya memerlukan kucuran anggaran bantuan modal saja, tetapi perlu juga didukung kebijakan lainnya seperti perbaikan kualitas perairan laut nasional sebagai bahan baku para petani garam. &lt;br /&gt;										 Selain itu juga peran perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset milik pemerintah lainnya perlu dioptimalkan guna menghasilkan teknologi-teknologi tepat guna dan ekonomis dalam mendukung produksi garam nasional. &lt;br /&gt;										Alhasil, tanpa adanya kebijakan yang tuntas, yang melibatkan semua sektor, penulis khawatir kisruh garam impor ini hanya akan berakhir tanpa ada perbaikan yang berarti bagi para petani garam nasional. Dengan begitu, garam impor akan terus menghantui para petani garam nasional. &lt;br /&gt;										&lt;i&gt;*Penulis adalah &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/content/read/negara-kelautan-pengimpor-18-juta-ton-garam/ &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;									&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-5090547732409060340?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/5090547732409060340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=5090547732409060340' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5090547732409060340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5090547732409060340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/09/negara-kelautan-pengimpor-18-juta-ton.html' title='Negara Kelautan Pengimpor 1,8 Juta Ton Garam'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-8432324812739351075</id><published>2011-06-06T05:09:00.000+07:00</published><updated>2011-06-06T05:10:51.763+07:00</updated><title type='text'>Pekerja Asing Distop</title><content type='html'>Kompas, 6 Juni 2011 | 03.31 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerja Asing Distop&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Kementerian Kelautan dan Perikanan mulai menghentikan rekomendasi penggunaan tenaga kerja asing bagi kapal perikanan Indonesia. Penghentian tenaga kerja asing diberlakukan bagi semua kapal ikan baik yang mengajukan izin baru maupun perpanjangan izin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Dedy Sutisna, Sabtu (4/6) di Jakarta, mengemukakan, salah satu syarat penerbitan ataupun perpanjangan surat izin penangkapan ikan maupun surat izin kapal pengangkut ikan adalah tidak mempekerjakan tenaga kerja asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dedy, ketentuan tentang penghentian rekomendasi tenaga kerja asing mulai diterapkan Maret 2011. Adapun regulasi terkait penghentian tersebut sedang dirumuskan dalam revisi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2008 tentang Usaha Perikanan Tangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Secara bertahap, pemerintah menghentikan penggunaan tenaga kerja asing di kapal perikanan,” kata Dedy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik Perusahaan Perikanan Harini Group, Harini Nalendra, menilai, tenaga kerja Indonesia sesungguhnya memiliki keunggulan bekerja di kapal ikan, bahkan hingga tingkat internasional. Ia mencontohkan, di kapal-kapal ikan Jepang, jumlah tenaga kerja Indonesia dibandingkan dengan Jepang saat ini berbanding 4 : 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, kendala yang masih perlu dibenahi adalah sertifikasi yang mumpuni agar tenaga kerja memiliki akreditasi yang diakui internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana mengemukakan, jumlah tenaga kerja asing di kapal ikan di Laut Arafura hingga kini hampir 100 persen dari total awak kapal. Dibutuhkan kepastian implementasi di lapangan melalui pendaratan seluruh hasil tangkapan kapal perikanan di pelabuhan Indonesia seperti yang diamanatkan oleh UU Perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Selama hasil tangkapan tidak didaratkan di pelabuhan-pelabuhan nasional, sulit untuk dapat mengontrol tenaga kerja asing,” ujar Suhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan hal itu, aparat pengawasan KKP juga perlu mendorong inspeksi ke kapal perikanan di tengah laut sehingga dapat dikontrol apakah tenaga kerja di kapal perikanan asing atau tidak. (LKT)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-8432324812739351075?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/8432324812739351075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=8432324812739351075' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8432324812739351075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8432324812739351075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/06/pekerja-asing-distop.html' title='Pekerja Asing Distop'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-8501088328494146721</id><published>2011-06-04T06:01:00.000+07:00</published><updated>2011-06-04T06:03:13.265+07:00</updated><title type='text'>Dominasi Tenaga Kerja Asing Masih Tinggi</title><content type='html'>Kompas, 4 Juni 2011 | 05.22 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi Tenaga Kerja Asing Masih Tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Dominasi tenaga kerja asing dalam sektor perikanan di Indonesia masih tinggi. Sejak Oktober 2010 sampai Maret 2011, jumlah tenaga kerja asing mencapai 1.199 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan tahun 2010, jumlah tenaga kerja asing di kapal perikanan masih di atas 70 persen. Padahal, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan mensyaratkan maksimal 30 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana, di Jakarta, Jumat (3/6), menilai, dominasi tenaga kerja asing merupakan dampak dari ketidakkonsistenan pemerintah dalam menjalankan Undang-Undang Perikanan. Selain itu, mengurangi peluang tenaga kerja nasional di sektor perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhana mencontohkan, apabila 200 kapal ikan mempekerjakan 30 anak buah kapal, kapal itu dapat menyerap 6.000 tenaga kerja nasional. Minimnya penyerapan tenaga kerja dalam negeri itu kontradiktif dengan upaya pemerintah mengembangkan sekolah perikanan nasional. ”Pemerintah perlu tegas mendorong penyerapan tenaga kerja perikanan dalam negeri,” kata Suhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu diperburuk dengan banyaknya kapal ikan asing di perairan Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, jumlah usaha penangkapan ikan yang dicabut karena tidak berizin dan melanggar hingga Mei 2011 mencapai 217 unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengakui, sebagian hasil tangkapan ikan di perairan Indonesia tidak didaratkan di Indonesia, tetapi dibawa langsung ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, pasokan ikan dalam negeri kurang sehingga Indonesia beberapa kali mengimpor ikan. Kapal berbobot mati di atas 30 ton yang dimiliki pengusaha Indonesia kurang dari 2 persen dari total kapal yang beroperasi. Selebihnya milik pengusaha asing. (LKT)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-8501088328494146721?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/8501088328494146721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=8501088328494146721' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8501088328494146721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8501088328494146721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/06/dominasi-tenaga-kerja-asing-masih.html' title='Dominasi Tenaga Kerja Asing Masih Tinggi'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-763109265384153468</id><published>2011-05-30T10:28:00.000+07:00</published><updated>2011-05-30T10:29:01.210+07:00</updated><title type='text'>Bertumpu pada Revolusi Biru</title><content type='html'>&lt;div class="subtitle"&gt;             Sektor Kelautan | Peningkatan Impor Dipicu Berlakunya ACFTA        &lt;/div&gt;         &lt;div class="title"&gt;             Bertumpu pada Revolusi Biru                      &lt;/div&gt;                     &lt;div class="images"&gt;             &lt;img src="http://koran-jakarta.com/images/berita/63323.jpg" alt="Tooltip" width="350" height="250" /&gt;             &lt;div class="images_sumber"&gt;ANTARA&lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;                 &lt;div class="content"&gt;             &lt;p&gt;Hingga saat ini, revolusi biru masih terus gencar  digaungkan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Fadel Muhammad. Dalam  pandangan Fadel, perubahan paradigma pembangunan dari daratan ke lautan  itu perlu terus didorong dan dijadikan mainstream pembangunan nasional  karena banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Presiden juga sudah menyatakan dukungan mengenai pembangunan kelautan tersebut," ujar dia di Jakarta, Jumat (27/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi  merealisasikan pembangunan kelautan tersebut, KKP membuat sejumlah  program. Bersamaan dengan acara peluncuran Indonesia’s Blue Revolution,  kemarin, Fadel menjanjikan adanya terobosan dan strategi baru  pembangunan kelautan. Terobosan yang dimaksud ialah merevitalisasi  sumber-sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan sumber  pertumbuhan ekonomi baru di bidang kelautan dan perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama  ini, sumber pertumbuhan berasal dari perikanan tangkap, perikanan budi  daya, wisata bahari, pertambangan, transportasi laut, dan pengembangan  jasa kelautan. Berdasarkan Pusat Data Statistik dan Informasi KKP,  diketahui kontribusi produk domestik bruto sektor perikanan tahun 2010  mencapai 3,1 persen, dan ditargetkan meningkat menjadi 3,5 persen pada  tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain PDB, nilai ekspor ditargetkan meningkat tahun  ini, yakni bisa mencapai 3,2 miliar dollar AS. Hingga akhir 2010, nilai  ekspor perikanan diperkirakan 2,79 miliar dollar AS atau meningkat dari  realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 2,46 miliar dollar AS. Pihak  KKP juga menargetkan adanya peningkatan produksi perikanan. Apabila  rata-rata produksi perikanan nasional selama ini mencapai 6,4 juta ton  per tahun, pada 2011 produksi ditargetkan meningkat 20 hingga 30 persen  setelah pembangunan sekitar 24 minapolitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum Terealisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi  program revolusi biru KKP, Kepala Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan  Peradaban Maritim (P2KM) Suhana menyatakan program itu belum sepenuhnya  terealisasi. Dia juga menilai kebijakan yang diambil pemerintah tidak  konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada awalnya, perikanan budi daya dan minapolitan  yang fokus kegiatan untuk mendorong revolusi biru, namun  program-programnya sampai saat ini belum berjalan. Tahun ini fokus  kebijakan berubah dengan mendorong perikanan tangkap. Jika kebijakannya  tidak konsisten, maka akan sulit mencapai target pembangunan perikanan,"  tandas Suhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhana juga menyoroti pembangunan perikanan pada  triwulan I-2011 yang dipandangnya belum ada perbaikan signifikan  dibanding dengan periode yang sama tahun lalu. Hal itu, tambah dia,  didasarkan pada beberapa indikator, seperti meningkatnya laju impor,  tidak berkembangnya industri perikanan, serta kesejahteraan nelayan yang  tidak kunjung membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih buruknya tingkat kesejahteraan  nelayan dibenarkan pula oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP)  Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Yussuf Solichien. Menurut dia,  pembangunan perikanan belum mampu mendongkrak taraf hidup nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenyataannya  nelayan masih jauh dari sejahtera, bahkan 90 persen dari mereka tidak  sekolah dan hanya lulus sekolah dasar. Kondisi itu ironis karena tidak  sesuai dengan amanat UUD terkait perlindungan pemerintah terhadap  rakyat," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, peningkatan laju impor, jelas  Suhana, bisa dilihat dari pencapaian periode Januari hingga Februari  2011 yang mencapai 71,12 juta dollar AS. Kenaikan laju impor selama  periode itu mencapai 54,68 persen. Padahal, pada periode yang sama tahun  sebelumnya, peningkatan impor hanya 32,23 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhana  menyatakan peningkatan laju impor itu dipicu oleh berlakunya ASEAN-China  Free Trade Agreement (ACFTA). Peningkatan impor itu, tambahnya, tidak  berdampak pada peningkatan kapasitas industri perikanan. Data Bank  Indonesia (2011) menunjukkan rata-rata kapasitas industri perikanan yang  terpakai pada triwulan I-2011 adalah 68,82 persen. Hal itu menunjukkan  impor produk perikanan yang masuk ke Indonesia tidak digunakan untuk  bahan baku, tetapi justru dominan untuk dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut,  Suhana menuturkan tingginya laju impor ikan dan produk perikanan pada  2011 diduga berdampak terhadap penurunan pendapatan nelayan nasional.  Hal itu dikarenakan konsumen lebih memilih ikan impor yang harganya  cenderung lebih murah ketimbang ikan hasil produksi nelayan dan pembudi  daya ikan nasional. aan/E-2&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber : http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/63323&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-763109265384153468?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/763109265384153468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=763109265384153468' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/763109265384153468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/763109265384153468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/05/bertumpu-pada-revolusi-biru.html' title='Bertumpu pada Revolusi Biru'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-2812770263812230898</id><published>2011-05-25T05:42:00.000+07:00</published><updated>2011-05-25T05:44:14.593+07:00</updated><title type='text'>Sektor Perikanan Didominasi Asing</title><content type='html'>Sektor Perikanan Didominasi Asing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas, Rabu 25 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Investasi sektor perikanan saat ini didominasi asing. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal, selama triwulan I-2011, total investasi di sektor perikanan mencapai 1,2 juta dollar AS atau sekitar Rp 10,28 miliar dan seluruhnya merupakan investasi asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana, Selasa (24/5) di Jakarta, mengemukakan, penguasaan investor asing dalam sektor perikanan menunjukkan minat investor dalam negeri belum membaik sejak triwulan II-2009. Tahun 2010, investasi perikanan juga didominasi asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi asing di sektor perikanan itu juga tecermin dari tingginya laju impor ikan serta belum berkembangnya industri perikanan nasional. Untuk itu, diperlukan terobosan agar kebijakan perikanan mengedepankan kemajuan usaha dalam negeri dan bukan kepentingan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rendahnya minat investor dalam negeri di sektor perikanan perlu segera diantisipasi pemerintah agar ekonomi perikanan dapat tumbuh dengan kekuatan nasional,” kata Suhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada dikemukakan Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Perikanan Indonesia Herwindo. Dominasi asing di sektor perikanan masih sangat besar, antara lain dari banyaknya bahan baku yang diekspor, sedangkan pasokan ke industri pengolahan lokal minim. Akibatnya, Indonesia bergantung impor bahan baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, unit pengolahan ikan hingga kini belum efektif menggandeng armada kapal perikanan untuk pasokan bahan baku. Sebagian pengusaha penangkapan ikan mengeluhkan harga ikan di tingkat unit pengolah ikan yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Badan Pusat Statistik (2011) menunjukkan, nilai impor ikan dan produk perikanan bulan Januari-Februari 2011 sebesar 71,12 juta dollar AS, atau melonjak dibandingkan periode yang sama tahun 2010 sebesar 32,23 juta dollar AS. Sementara itu, nilai ekspor produk perikanan Januari-Februari tahun 2011 berkisar 320,71 juta dollar AS, atau tumbuh 15,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2010. (LKT/MHF)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-2812770263812230898?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/2812770263812230898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=2812770263812230898' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/2812770263812230898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/2812770263812230898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/05/sektor-perikanan-didominasi-asing.html' title='Sektor Perikanan Didominasi Asing'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-333917918633686650</id><published>2011-05-16T06:03:00.000+07:00</published><updated>2011-05-16T06:04:29.288+07:00</updated><title type='text'>Pembangunan Perikanan Lamban</title><content type='html'>Pembangunan Perikanan Lamban &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Senin, 16 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA – Pemerintah mengakui pembangunan sektor perikanan untuk triwulan pertama 2011 agak lamban. Beberapa indikator menunjukkan program pemberdayaan nelayan tidak menggunakan perencanaan yang matang. Dampaknya, tidak ada perbaikan signifi kan dalam peningkatan kesejahteraan nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembangunan perikanan triwulan pertama 2011 menunjukkan belum ada perbaikan signifikan jika dibandingka periode yang sama tahun lalu, beberapa indikator menunjukkan laju impor meningkat, industri perikanan tidak berkembang, dan kesejahteraan nelayan tidak kunjung membaik,” kata Kepala Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim (P2KM) Suhana kepada Koran Jakarta, Minggu (15/5) Suhana menerangkan dari sisi impor triwulan pertama 2011, nilai impor periode Januari-Februari tercatat 71,12 juta dollar AS atau naik 54,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2010 yang tercatat hanya 32,23 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat bersamaan nilai ekspor produk perikanan Januari-Februar 2011 hanya naik 15,17 persen dibandingkan tahun lalu dari 272,05 juta dollar AS menjadi 320,71 juta dolar AS. Melonjaknya impor produk ikan dipicu pemberlakuan perdagangan bebas AC-FTA. &lt;br /&gt;aan/E-12&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-333917918633686650?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/333917918633686650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=333917918633686650' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/333917918633686650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/333917918633686650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/05/pembangunan-perikanan-lamban.html' title='Pembangunan Perikanan Lamban'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-8998074311312940157</id><published>2011-05-10T12:59:00.000+07:00</published><updated>2011-05-10T13:00:05.297+07:00</updated><title type='text'>Pemerintah Susun Sistem Logistik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-c9wGkSLHjcI/TcjURHY0s4I/AAAAAAAAAIg/FDbcupg4M9I/s1600/pemerintah%2Bsiapkan%2Bsistem%2Blogistik.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 344px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-c9wGkSLHjcI/TcjURHY0s4I/AAAAAAAAAIg/FDbcupg4M9I/s400/pemerintah%2Bsiapkan%2Bsistem%2Blogistik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604963126768612226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-8998074311312940157?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/8998074311312940157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=8998074311312940157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8998074311312940157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8998074311312940157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/05/pemerintah-susun-sistem-logistik.html' title='Pemerintah Susun Sistem Logistik'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-c9wGkSLHjcI/TcjURHY0s4I/AAAAAAAAAIg/FDbcupg4M9I/s72-c/pemerintah%2Bsiapkan%2Bsistem%2Blogistik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-4941580200430509378</id><published>2011-05-04T06:01:00.000+07:00</published><updated>2011-05-04T06:04:12.307+07:00</updated><title type='text'>Lebih dari 400 Kilometer Pantai Indonesia Alami Erosi</title><content type='html'>Kompas, 4 Mei 2011 | 04.10 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 400 Kilometer Pantai Indonesia Alami Erosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Perusakan ekologi pantai oleh manusia yang diperparah imbas cuaca ekstrem membuat lebih dari 400 kilometer pesisir Indonesia di 100 lebih lokasi di 17 provinsi terancam erosi pantai. Wilayah terparah adalah pesisir utara Jawa, seluruh pesisir Bali, pesisir timur Lampung, dan pesisir Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Erosi dipicu oleh arus sejajar pantai yang dibangkitkan oleh gelombang,” kata Direktur Pesisir dan Lautan Kementerian Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono, Selasa (3/5) di Jakarta. Menurut dia, erosi membuat banyak pantai di Indonesia tergerus, bukan karena abrasi. Abrasi pantai adalah pelapukan batuan pantai akibat peristiwa geologis atau hantaman gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subandono menilai, ulah manusia merupakan penyumbang terbesar kerusakan pesisir, bukan cuaca ekstrem ataupun pemanasan global. Tindakan manusia yang merusak itu antara lain berupa penebangan hutan bakau, penambangan terumbu karang dan pasir pantai, serta pembangunan bangunan yang menjorok ke laut dan reklamasi pantai yang serampangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terumbu karang, pasir pantai, dan hutan bakau memiliki fungsi sebagai benteng alami pesisir karena mampu meredam kekuatan gelombang. Adapun bangunan yang menjorok ke laut dan reklamasi tanpa memerhatikan sel sedimen atau keseragaman kondisi fisik di lokasi tertentu akan menyebabkan erosi pada satu bagian pantai dan sedimentasi pada bagian pantai yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tiap ada bangunan menjorok ke laut sepanjang 1 kilometer, tingkat kerusakan di darat mencapai 5 km-10 km,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini membuat permukaan laut makin naik dan tinggi gelombang naik. Gelombang yang menerpa wilayah pesisir yang sudah tererosi semakin besar. Hal itu karena gelombang awal melintasi wilayah laut yang dalam akibat tidak ada benteng penahan gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana menambahkan, tidak tertanganinya erosi pantai merupakan buah pengabaian sistem tata ruang wilayah pesisir. Akibatnya, struktur ekologis wilayah pesisir terganggu dan berdampak pada masyarakat pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hutan bakau sebagai benteng alam tak bisa digantikan dengan bangunan apa pun,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata ruang wilayah pesisir memiliki dua aspek yang harus diperhatikan, yaitu aspek dari darat dan laut. Kalaupun tata ruang wilayah pesisir diperhatikan, umumnya masih terkonsentrasi pada aspek darat dan abai dengan aspek laut, terutama persoalan gelombang dan arus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kerusakan daratan dipastikan akan merusak wilayah pesisir. Namun, kerusakan pesisir juga banyak dipicu oleh persoalan dari laut,” kata Suhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subandono menyatakan, solusi terbaik untuk mengurangi dampak erosi pantai adalah mengembalikan kondisi wilayah itu sama dengan aslinya. Jika erosi dipicu oleh penebangan hutan bakau, maka harus dihijaukan kembali. Bila erosi akibat hilangnya terumbu karang, maka karang harus dihidupkan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pembangunan tembok atau tanggul hanya akan memindahkan masalah,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan bakau berguna sebagai penyerap karbon dan limbah beracun serta tempat pemijahan ikan. Adapun terumbu karang tempat habitat ikan. (MZW)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-4941580200430509378?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/4941580200430509378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=4941580200430509378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/4941580200430509378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/4941580200430509378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/05/lebih-dari-400-kilometer-pantai.html' title='Lebih dari 400 Kilometer Pantai Indonesia Alami Erosi'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-104242218679837435</id><published>2011-05-02T10:55:00.000+07:00</published><updated>2011-05-02T10:56:37.042+07:00</updated><title type='text'>KKP Melanggar Janji</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-6JWDlf8avYA/Tb4rX0zMZPI/AAAAAAAAAIQ/mplLLZfxV_o/s1600/KKP%2Bingkar%2Bjanji-rakyat%2Bmerdeka%2B31%2Bapril%2B2011.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 196px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-6JWDlf8avYA/Tb4rX0zMZPI/AAAAAAAAAIQ/mplLLZfxV_o/s400/KKP%2Bingkar%2Bjanji-rakyat%2Bmerdeka%2B31%2Bapril%2B2011.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601962674805826802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-104242218679837435?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/104242218679837435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=104242218679837435' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/104242218679837435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/104242218679837435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/05/kkp-melanggar-janji.html' title='KKP Melanggar Janji'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-6JWDlf8avYA/Tb4rX0zMZPI/AAAAAAAAAIQ/mplLLZfxV_o/s72-c/KKP%2Bingkar%2Bjanji-rakyat%2Bmerdeka%2B31%2Bapril%2B2011.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-6588921473772767014</id><published>2011-04-30T19:43:00.000+07:00</published><updated>2011-04-30T19:45:38.104+07:00</updated><title type='text'>Ekonomi Perikanan, CAFTA dan MEA 2015</title><content type='html'>Sumber : Sinar Harapan, 30.04.2011 10:06&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi Perikanan, CAFTA, dan MEA 2015&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Suhana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;￼&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sangat wajar apabila diimplementasikan CAFTA, Indonesia tidak siap menghadapi gempuran produksi China, termasuk serbuan ikan impor dari China. Hal yang sama akan terjadi pada MEA 2015 apabila pemerintah tidak mempersiapkan secara sistematis MEA 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan ekonomi perikanan tahun 2010 merupakan periode yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena dimulainya kesepakatan perdagangan bebas antara China dan ASEAN (Free Trade Agremeent China–ASEAN (CAFTA). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sektor perikanan menjadi tonggak kembalinya kekuatan asing.(foto:dok/ist)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai dampak dari tidak adanya persiapan dan perencanaan yang sistematis tahun-tahun sebelumnya, implementasi CAFTA di sektor perikanan menjadi tonggak kembalinya kekuatan asing dalam menguasai sektor perikanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini ditunjukkan dengan tiga indikator, yaitu pertama meningkatnya investasi asing di sektor perikanan. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM 2011) menunjukkan bahwa investasi asing (PMA) tahun 2010 meningkat 71,67 persen dibandingkan dengan tahun 2009, yaitu dari US$ 5,1 juta tahun 2009 meningkat menjadi US$ 18 juta tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang berbeda terjadi pada penanaman modal dalam negeri (PMDN). Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM 2011) menunjukkan bahwa PMDN tahun 2010 turun Rp 23,7 miliar dibandingkan dengan tahun 2009, di mana pada 2010 investasi dalam negeri hanya mencapai Rp 1 miliar, sementara tahun 2009 investasi dalam negeri mencapai Rp 24,7 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurunnya investasi dalam negeri dan meningkatnya investasi asing di sektor perikanan sejalan dengan tidak konsistennya kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kalau kita kembali melihat dorongan pemangku kepentingan sektor perikanan sejak 2007 untuk membatasi kepentingan asing di sektor perikanan sangat tinggi, puncaknya ketika Menteri Kelautan dan Perikanan mengesahkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen-KP) No 5 Tahun 2008 tentang izin usaha perikanan tangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dipertegas kembali dengan disahkannya revisi UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan menjadi UU No 45 Tahun 2009 tentang Perikanan pada masa akhir periode Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu jilid I dan DPR periode 2004-2009. Pada kedua peraturan perundang-undangan tersebut kepentingan asing di sektor perikanan sangat diperketat dan lebih mendorong keterlibatan nelayan, pembudi daya ikan, investor dalam negeri, dan pengusaha ikan nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, investasi asing pada sektor perikanan tahun 2008 dan 2009 menurun drastis, dan minat investasi dalam negeri cenderung meningkat. Data BKPM (2011) menunjukkan bahwa PMA tahun 2007 mencapai US$ 24,7 juta dan menurun drastis pada 2008 hanya mencapai US$ 2,4 juta dan akhir 2009 kembali meningkat menjadi US$ 5,1 juta. Sementara itu, pascakeluarnya Permen KP No 5 Tahun 2008 minat investasi dalam negeri mulai tumbuh. Data BKPM (2011) menunjukkan bahwa PMDN tahun 2007 hanya sebesar Rp 3,1 miliar menjadi Rp 24,7 miliar pada 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, memasuki periode Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, (Permen-KP) No 5 Tahun 2008 tentang izin usaha perikanan tangkap diupayakan untuk direvisi kembali dengan memasukkan kepentingan asing. Draf Revisi Permen KP No 5 Tahun 2008 Pasal 2 Ayat (1) poin d menyebutkan bahwa jenis usaha perikanan tangkap meliputi penangkapan ikan terpadu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam Pasal 36 Ayat 2 disebutkan bahwa usaha perikanan tangkap terpadu dilaksanakan oleh (1) usaha perikanan tangkap terpadu dengan fasilitas penanaman modal dalam negeri dan (2) usaha perikanan tangkap terpadu dengan fasilitas penanaman modal asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam Pasal 37 Ayat 1 disebutkan perusahaan perikanan dengan fasilitas penanaman modal asing wajib membangun dan/atau memiliki sekurang-kurangnya unit pengolahan ikan (UPI) serta menggunakan tenaga kerja berkewarganegaraan Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa ayat dalam Draf Revisi Permen KP No 5 Tahun 2008 tersebut jelas sarat dengan kepentingan pengusaha asing dalam mengeksploitasi sumber daya ikan di Indonesia. Apalagi fasilitas penanaman modal asing dalam draf permen kelautan dan perikanan tersebut diberikan peluang untuk langsung mengekspor ikan langsung ke luar negeri, karena hanya diwajibkan membangun beberapa unit pengolahan ikan saja di dalam negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dalam Permen KP No 5 Tahun 2008 sudah jelas bahwa 100 persen hasil tangkapan harus diolah di dalam negeri. Walaupun implementasi Permen KP No 5 Tahun 2008 tersebut sampai saat ini belum optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, besarnya laju pertumbuhan impor ikan nasional. Data UN-Comtrade (2011) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan nilai impor ikan dan produk perikanan Indonesia tahun 2010 meningkat tajam sebesar 31,13 persen dibandingkan 2009. Sementara itu, laju pertumbuhan nilai ekspor ikan dan produk perikanan Indonesia tahun 2010 hanya meningkat sebesar 15,18 persen dibandingkan tahun 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pascaimplementasi CAFTA, ikan impor dari China sangat mendominasi ikan impor yang masuk ke Indonesia, yaitu mencapai 38,41 persen dari total impor ikan Indonesia (UN-Comtrade 2011). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya laju impor ikan dari China telah berdampak terhadap penurunan nilai Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) ikan dan produk perikanan Indonesia ke China. Sementara nilai ekspor ikan dari Indonesia ke China tahun 2010 cenderung menurun sehingga neraca perdagangan ikan dan produk perikanan Indonesia menjadi negatif. Fenomena seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak 2009, namun pada 2010 ini terus mengalami penurunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam periode 1996-2008, nilai ISP ikan dan produk perikanan Indonesia ke China masih bernilai positif dengan nilai rata-rata sebesar 0,75 (UN Comtrade 2011). Artinya bahwa pada periode 1996-2008 sebenarnya ekspor ikan Indonesia ke China sudah menuju tingkat kematangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, memasuki tahun 2009 dan 2010 perdagangan ikan dan produk perikanan Indonesia terus mengalami penurunan yang drastis seiring dengan terus meningkatnya laju impor ikan dan produk perikanan dari China ke Indonesia. Oleh sebab itu, apabila kondisi tersebut tidak ditanggulangi secara cepat dan tepat, dikhawatirkan daya saing ikan dan produk perikanan Indonesia ke China akan semakin terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tidak berkembangnya industri pengolahan ikan nasional. Tingginya laju impor tahun 2010 ternyata tidak berdampak nyata terhadap peningkatan kapasitas industri perikanan yang terpakai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Bank Indonesia (2011) menunjukkan bahwa rata-rata kapasitas industri perikanan yang terpakai mengalami penurunan menjadi 71,76 persen dari sebelumnya (2009) yang tercatat sebesar 74,05 persen. Hal ini menunjukkan bahwa ikan dan produk perikanan yang masuk ke Indonesia bukan merupakan sumber bahan baku bagi industri pengolahan perikanan nasional, tetapi lebih didominasi oleh ikan dan produk perikanan yang siap konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga indikator tersebut terlihat berjalan secara sistematis sehingga berkuasanya kembali kekuatan asing di sektor perikanan berlangsung secara cepat. Alhasil, apabila kondisi tersebut tidak mengalami perubahan maka tidak menutup kemungkinan MEA 2015 akan semakin mengancam kelestarian sumber daya ikan, pendapatan perikanan nasional, penyerapan tenaga kerja perikanan dan kesejahteraan nelayan serta pembudi daya ikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Kepala Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-6588921473772767014?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/6588921473772767014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=6588921473772767014' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/6588921473772767014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/6588921473772767014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/04/ekonomi-perikanan-cafta-dan-mea-2015.html' title='Ekonomi Perikanan, CAFTA dan MEA 2015'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-6271324910261907848</id><published>2011-04-25T12:51:00.003+07:00</published><updated>2011-05-02T11:13:33.862+07:00</updated><title type='text'>Info Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-VW7GfhV8x3U/Tb4vVN9t1gI/AAAAAAAAAIY/_DnGaLYC754/s1600/Graphic1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 291px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-VW7GfhV8x3U/Tb4vVN9t1gI/AAAAAAAAAIY/_DnGaLYC754/s400/Graphic1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601967028067751426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Segera terbit buku berjudul :&lt;br /&gt;Ekonomi Politik Kebijakan Kelautan Indonesia.&lt;br /&gt;Penulis Suhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nantikan kabar selanjutnya...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-6271324910261907848?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/6271324910261907848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=6271324910261907848' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/6271324910261907848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/6271324910261907848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/04/info-buku.html' title='Info Buku'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-VW7GfhV8x3U/Tb4vVN9t1gI/AAAAAAAAAIY/_DnGaLYC754/s72-c/Graphic1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-166361857904165336</id><published>2011-04-25T11:07:00.000+07:00</published><updated>2011-04-25T11:08:33.226+07:00</updated><title type='text'>Ribuan Ton Ikan Impor Diloloskan</title><content type='html'>&lt;h6&gt;Senin,&lt;br /&gt;25 April 2011&lt;/h6&gt;     &lt;div class="kompas"&gt;&lt;img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k11/cetak/images/logo_kompas.gif" /&gt;&lt;/div&gt;                                                                           &lt;h1 class="judul_artikel"&gt;Ribuan Ton Ikan Impor Diloloskan&lt;/h1&gt;                                                                                                                          &lt;div id="article_content" style="padding-top: 12px; line-height: 18px; font-size: 12px; color: rgb(105, 105, 105);"&gt;                                 &lt;p&gt;Jakarta, Kompas  - Ribuan ton ikan impor ilegal, yang ditahan di pelabuhan perikanan dan  bandar udara, dilepaskan ke dalam negeri. Pelepasan ikan impor itu  dilakukan setelah mendapat izin dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berdasarkan  data Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil  Perikanan, hingga akhir pekan lalu, total produk perikanan impor yang  tidak diizinkan masuk sebanyak 12.060.506 kilogram (12.060 ton) atau 245  kontainer. Dari jumlah ikan impor yang ditolak tersebut, sejumlah  2.360.000 kg (2.360 ton) ikan dilepaskan ke dalam negeri setelah  mendapat izin dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Direktur  Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian  Kelautan dan Perikanan Victor Nikijuluw, menjelaskan, izin impor ikan  tersebut diberikan untuk kepentingan pengolahan ikan, kebutuhan umpan,  serta ikan yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri. ”Kami bukan  melarang impor ikan, tetapi mengelola impor,” ujar Victor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terhitung  sejak Maret 2011, Kementerian Kelautan dan Perikanan menahan ribuan ton  ikan beku impor di lima pelabuhan perikanan dan satu bandar udara.  Penahanan ikan impor dilakukan karena tidak memiliki izin impor hasil  perikanan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal P2HP KKP sesuai  dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2010.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menteri  Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad pernah menyatakan, tidak ada  toleransi dan kompromi terhadap produk ikan impor yang tidak punya izin.  Ribuan ton ikan impor yang tidak memiliki izin itu akan segera  dipulangkan ke negara asal (Kompas, 21/3). Ikan impor ilegal yang  ditolak dan sudah dipulangkan atau diekspor ulang ke negara asal hingga  Kamis pekan lalu mencapai 4.172.950 kg (4.172 ton) atau 152 kontainer.  Ikan impor ilegal yang dalam proses pemulangan ke negara asal sebanyak  2.399.049 kg (2.399 ton).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kebutuhan industri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara  terpisah, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban  Maritim Suhana&lt;/span&gt; menilai, ikan impor yang tidak memiliki izin seharusnya  dipulangkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Suhana menambahkan,  pemerintah seharusnya mengeluarkan data terkait berapa kebutuhan bahan  baku industri pengolahan nasional dan berapa persen yang harus disuplai  dari impor. Hal ini diperlukan guna menghindari impor ikan ilegal yang  mengatasnamakan kebutuhan industri pengolahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berdasarkan data  survei BI, kapasitas terpakai industri pengolahan pada 2010 jumlahnya  cenderung menurun dibandingkan tahun 2009. Padahal, impor ikan meningkat  tajam sampai di atas 31 persen. Kapasitas industri yang terpakai pada  industri perikanan tahun 2010 rata-rata sekitar 71 persen, sementara  tahun 2009 tercatat rata-rata di atas 74 persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Victor  Nikijuluw, pihaknya sedang menghitung dan mengevaluasi kebutuhan riil  impor ikan. Hingga saat ini, pengajuan izin impor ikan ke KKP sudah  mencapai tiga juta ton per tahun. Permintaan izin impor didominasi untuk  ikan kembung dan layang. ”Kebutuhan impor ikan sangat bergantung pada  produksi dalam negeri. Penghitungan kebutuhan impor akan dievaluasi  setiap enam bulan,” ujar Victor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Menteri Perdagangan Mari  Elka Pangestu, prinsip utama impor perikanan adalah, pertama, keamanan  dan kesehatan produk. Kedua, pemenuhan syarat-syarat yang telah  ditentukan. (LKT)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/25/03502315/ribuan.ton.ikan.impor.diloloskan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-166361857904165336?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/166361857904165336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=166361857904165336' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/166361857904165336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/166361857904165336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/04/ribuan-ton-ikan-impor-diloloskan.html' title='Ribuan Ton Ikan Impor Diloloskan'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-5256370050193025761</id><published>2011-02-22T12:42:00.005+07:00</published><updated>2011-02-22T16:20:36.320+07:00</updated><title type='text'>Swasembada Garam 2015</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-hKybpiIhFQU/TWNNYkMsNDI/AAAAAAAAAH4/vxwlk78Wlf0/s1600/grafik%2Bekspor%2Bimpor%2Bgaram%2Bindonesia.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 283px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-hKybpiIhFQU/TWNNYkMsNDI/AAAAAAAAAH4/vxwlk78Wlf0/s400/grafik%2Bekspor%2Bimpor%2Bgaram%2Bindonesia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5576385848043910194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah melalui kementerian kelautan dan perikanan sudah mencanangkan  swasembada garam tahun 2015. Hal ini didorong oleh kondisi yang  menunjukan bahwa sebaga negara kepulauan indonesia sampai saat ini  merupakan negara pengimpor garam. Selain itu juga kondisi petambak garam  di indonesia terlihat belum mengalami peningkatan dari tahun-ketahun.  Hal ini seiring dengan harga garam dari petambak nasional yang tidak  mengalami peningkatan yang berarti, bahkan yang terjadi dibeberapa  daerah diperparah lagi dengan rendahnya kualitas garam hasil produksi  petambak nasional. Untuk mewujudkan swasembada garam di Indonesia bukan  permasalahan yang mudah.&lt;br /&gt;Tantangan utamanya adalah kondisi cuaca, hasil  studi penulis (2010) di kabupaten pamekasan jawa timur, menunjukan bahwa  para petambak garam di kabupaten pamekasan sepanjang tahun 2010 tidak  melakukan aktivitas penggaraman dikarenakan terjadinya hujan sepanjang  tahun 2010 di wilayah tersebut.&lt;br /&gt;Menurut catatan para petambak, normalnya  para petambak dalam setahun bisa melakukan aktivitas penggaraman selama  6 bulan dan dalam 1 bulan biasanya bisa panen garam sekitar 2-4 kali  panen. Artinya dalam setahun mereka dapat melakukan panen sekitar 12-24  kali panen. Akan tetapi sepanjang tahun 2010 ternyata mereka tidak satu  kalipun melakukan panen garam. Inilah tantangan utama yang perlu  dipertimbangkan oleh pemerintah dalam mencanangkan program swasembada  garam tahun 2015. Pemerintah perlu bekerjasama dengan badan meteorologi  dan geofisika dalam menentukan wilayah-wilayah yang dapat dijadikan  lokasi penggaraman yang ideal, artinya musim penghujannya lebih rendah  dibandingkan musim kemarau. Sebagai negara tropis pertimbangan musim  dalam menentukan lokasi penggararam nasional guna mencapai target  swasembada garam 2015 menjadi keharusan.&lt;br /&gt;Selain faktor cuaca, faktor lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah  masalah pencemaran perairan. Kita ketahui bahwa di beberapa wilayah  perairan indonesia diduga sudah mengalami pencemaran yang akut. Faktor  pencemaran perairan ini akan sangat menentukan kualitas garam yang di  produksi, misalnya apabila di suatu perairan tersebut sudah tercemar  timbal, maka secara logika garam yang diproduksi akan mengandung timbal  juga, karena timbal tidak ikut menguap seperti air, timbal akan terikat  di kristal-kristal garam yang diproduksi oleh para petambak garam.  Dengan demikian apabila garam tersebut dikonsumsi oleh manusia, maka  dengan sendirinya akan terkena dampaknya, seperti gangguang kesehatan.  Berdasarkan hal tersebut survey kualitas perairan di lokasi penggaraman  menjadi suatu kebutuhan yang mendesak, agar produksi garam nasional  terlindung dari zat pencemar yang dapat merugikan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung .........&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-5256370050193025761?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/5256370050193025761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=5256370050193025761' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5256370050193025761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5256370050193025761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/02/indonesia-net-importir-garam.html' title='Swasembada Garam 2015'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-hKybpiIhFQU/TWNNYkMsNDI/AAAAAAAAAH4/vxwlk78Wlf0/s72-c/grafik%2Bekspor%2Bimpor%2Bgaram%2Bindonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-4503665481009924071</id><published>2011-02-10T10:54:00.001+07:00</published><updated>2011-02-10T10:59:03.796+07:00</updated><title type='text'>Nilai Tukar Nelayan Tahun 2010 Menurut Propinsi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-pjLC-zoqSFI/TVNiJseWdSI/AAAAAAAAAHw/EfPetYTw2EQ/s1600/Nilai%2BTukar%2BNelayan%2BTahun%2B2010.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 283px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-pjLC-zoqSFI/TVNiJseWdSI/AAAAAAAAAHw/EfPetYTw2EQ/s400/Nilai%2BTukar%2BNelayan%2BTahun%2B2010.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571905082684241186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-4503665481009924071?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/4503665481009924071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=4503665481009924071' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/4503665481009924071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/4503665481009924071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/02/nilai-tukar-nelayan-tahun-2010-menurut.html' title='Nilai Tukar Nelayan Tahun 2010 Menurut Propinsi'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-pjLC-zoqSFI/TVNiJseWdSI/AAAAAAAAAHw/EfPetYTw2EQ/s72-c/Nilai%2BTukar%2BNelayan%2BTahun%2B2010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-1069226618795989565</id><published>2011-02-07T09:56:00.004+07:00</published><updated>2011-02-07T10:43:24.588+07:00</updated><title type='text'>Impor Ikan Bakal Melonjak</title><content type='html'>&lt;b&gt;Impor Ikan Bakal Melonjak  &lt;/b&gt;&lt;h1&gt;&lt;span style="color: rgb(186, 8, 8);font-size:180%;" &gt; &lt;/span&gt; &lt;/h1&gt;&lt;img src="http://www.koran-jakarta.com/gambarberita/2011-02-07/Ekonomi/Sektor%20Riil/" width="200px" align="left" border="0" hspace="12" /&gt;                          &lt;div align="left"&gt;                                                   &lt;/div&gt;                         &lt;span class="SpellE"&gt;                                                 Senin, 07 Februari 2011                  &lt;br /&gt;                                           &lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;b&gt; Sektor Perikanan , Produksi Anjlok Akibat Mahalnya Biaya Operasi &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                    &lt;/span&gt;  &lt;p&gt;  &lt;span class="SpellE"&gt;  JAKARTA – Tingginya biaya produksi dan terbatasnya pasokan bahan bakar  minyak (BBM) memicu mahalnya harga produk ikan di dalam negeri sehingga  sulit bersaing dengan produk impor. Akibatnya, impor produk ikan tahun  ini diprediksi bakal mengalami lonjakan. “Saat ini, ikan dan produk  perikanan impor mulai mengancam hasil tangkapan nelayan dan pembudi daya  ikan. Produk kita kalah bersaing karena dari sisi biaya produksi lebih  mahal dibandingkan dengan negara asia lain,” kata Kepala Pusat Kajian  Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana kepada Koran Jakarta,  Minggu (6/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data PBB/UN Comtrade, hingga akhir 2010, Indonesia masuk  tujuh besar negara importir ikan terbesar di Asia. Urutan pertama  ditempati China dengan volume impor 47 persen, Thailand 12 persen,  Vietnam delapan persen, Jepang delapan persen, Malaysia delapan persen,  Korea Selatan lima persen, dan Indonesia empat persen. Suhana  memprediksi peta perdagangan ikan dan produk perikanan akan terus  berubah, dan impor ikan yang dilakukan Indonesia akan melonjak jika  tidak ada langkah-langkah serius dari pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, pemerintah masih memilih impor saat terjadi paceklik  untuk menjaga pasokan dan tidak menyelamatkan hasil produksi nelayan dan  pembudi daya ikan saat produksi melimpah. “KKP harus melindungi produk  ikan dalam negeri dari masuknya ikan dan produk ikan impor. Distribusi  perdagangan ikan antarwilayah perlu diperbaiki sehingga tidak terjadi  penumpukan di sentra perikanan. Langkah itu perlu sehingga produk  pembudi daya bisa terserap,” ungkapnya. Selain itu, kata Suhana, KKP  perlu menyiapkan langkah konkret untuk menekan biaya produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, saat ini, pembudi daya dan nelayan tangkap masih berkutat  pada persoalan mahalnya harga pakan serta terbatasnya pasokan BBM.  Kepedulian Pemerintah Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron,  kepedulian pemerintah terhadap nelayan tangkap dan budi daya ikan  domestik masih minim. Ia menyatakan jika persoalan mahalnya harga pakan  tidak mampu diselesaikan pemerintah, angka impor ikan dan produk ikan  berpotensi melonjak. “Jika masalah harga pakan tidak teratasi, daya  saing produk ikan dalam negeri akan lemah dan impor ikan akan terus  meningkat. Pakan ikan itu 40 persen dari biaya produksi pembudi daya,”  jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu berakibat pada perbedaan harga produk ikan dalam negeri  dibandingkan impor. Ia mencontohkan saat ini harga jual lele di dalam  negeri 10 ribu-11 ribu rupiah per kilogram, sedangkan lele impor dari  Malaysia hanya 7.500 rupiah per kilogram. Murahnya harga lele dari  Malasysia, kata Herman, dipicu oleh murahnya biaya produksi dan dukungan  pemerintah terhadap pembudi daya. Selain didukung subsidi, pemerintah  Malaysia melindungi pasar domestiknya dengan pengenaan bea masuk yang  kompetitif. Dari kondisi itu, kata Herman, KKP perlu melakukan langkah  perlindungan bagi pembudi daya, di antaranya memberikan subsidi pakan  untuk menekan ongkos produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca Buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Martani Husaeni  mengakui terjadinya lonjakan harga ikan laut disebabkan minimnya  produksi ikan darat serta minimnya hasil tangkapan ikan karena banyak  nelayan tidak melaut. Berdasarkan data dari KKP, 473.983 nelayan di 41  kabupaten/ kota tidak bisa melaut karena cuaca buruk. Untuk mengurangi  dampak sosial, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad,  pemerintah akan mempercepat penyaluran bantuan sosial bagi para nelayan.  Bantuan tersebut dikeluarkan karena terdapat sekitar 457 ribu nelayan  di 20 provinsi yang tidak bisa melaut akibat cuaca buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percepatan pencairan dana bansos bagi nelayan akan dilakukan tanpa  menunggu prosedur yang berbelit-belit dalam pencairan dana. Dana bansos  yang dapat digunakan dalam APBN 2011 sebesar 540 miliar rupiah dalam  bentuk dana dekonsentrasi. Dana itu ada dalam pos anggaran Kementerian  Sosial.&lt;br /&gt;aan/ito/E-12&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="SpellE"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="SpellE"&gt;Sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=74647&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Lampiran&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MFYb5vruOck/TU9qPFc5tuI/AAAAAAAAAHo/jUKE8xeNyFU/s1600/10%2Bnegara%2Beksportir%2Btahun%2B2009.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 283px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_MFYb5vruOck/TU9qPFc5tuI/AAAAAAAAAHo/jUKE8xeNyFU/s400/10%2Bnegara%2Beksportir%2Btahun%2B2009.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570788071474575074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="SpellE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;span class="SpellE"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-1069226618795989565?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/1069226618795989565/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=1069226618795989565' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/1069226618795989565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/1069226618795989565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2011/02/impor-ikan-bakal-melonjak.html' title='Impor Ikan Bakal Melonjak'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_MFYb5vruOck/TU9qPFc5tuI/AAAAAAAAAHo/jUKE8xeNyFU/s72-c/10%2Bnegara%2Beksportir%2Btahun%2B2009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-5298219135414348827</id><published>2010-12-15T13:28:00.002+07:00</published><updated>2010-12-15T13:38:10.211+07:00</updated><title type='text'>Jurnal Transisi Edisi Volume 6 No 2 Tahun 2010</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_MFYb5vruOck/TQhgeytM8jI/AAAAAAAAAHI/U32PZmIPA0M/s1600/cover%2Bjurnal%2Brekonstruksi%2Bkebijakan%2Bkelautan.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 265px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_MFYb5vruOck/TQhgeytM8jI/AAAAAAAAAHI/U32PZmIPA0M/s400/cover%2Bjurnal%2Brekonstruksi%2Bkebijakan%2Bkelautan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550792622857843250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Cover Jurnal Transisi Edisi Volume 6 No 2 Tahun 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jurnal Transisi diterbitkan oleh Institutte Strengthening Transition Society Studies (In-Trans Institute), yaitu lembaga non profit, non partisan dan idependen yang mempunyai fokus pada penguatan demokrasi di tingkat lokal guna terwujudnya tatanan masyarakat yang berkualitas dan memiliki kesadaran kritis menuju perubahan sosial yang berkeadilan melalui riset dan analisis pelaksanaan kebijakan pembangunan di daerah dan melakukan peningkatan kapasitas sosial bagi masyarakat serta melakukan publikasi hasil riset dan pengalaman lapangan.&lt;br /&gt;Dalam edisi ini, saya diminta untuk menulis tentang kebijakan ekonomi kelautan dan perikanan. Judul tulisan saya dalam edisi khusus kelautan ini adalah "Redesain Kebijakan Ekonomi Kelautan dan Perikanan untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian sumberdaya".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-5298219135414348827?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/5298219135414348827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=5298219135414348827' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5298219135414348827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5298219135414348827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2010/12/jurnal-transisi-edisi-volume-6-no-2.html' title='Jurnal Transisi Edisi Volume 6 No 2 Tahun 2010'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_MFYb5vruOck/TQhgeytM8jI/AAAAAAAAAHI/U32PZmIPA0M/s72-c/cover%2Bjurnal%2Brekonstruksi%2Bkebijakan%2Bkelautan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-4133732039023478051</id><published>2010-08-23T13:45:00.000+07:00</published><updated>2010-08-23T13:46:15.329+07:00</updated><title type='text'>Malaysia di Balik Insiden Perairan Bintan</title><content type='html'>&lt;span class="news-single-timedata"&gt;Harian Sinar Harapan, Senin, 23 Agustus 2010 13:04 &lt;/span&gt;          &lt;h1&gt;Malaysia di Balik Insiden Perairan Bintan&lt;/h1&gt;          &lt;p&gt;OLEH: SUHANA&lt;/p&gt;          &lt;br /&gt;         &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Seminggu terakhir ini bangsa Indonesia dikejutkan dengan insiden penangkapan tiga aparat Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Tanjung Balai Karimun, Provinsi Riau, di perairan Tanjung Berakit, Pulau Bintan, oleh Marine Police Malaysia. &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;          &lt;table align="right" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="1"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;            &lt;td&gt;&lt;img src="http://www.sinarharapan.co.id/typo3temp/pics/6fa19bfe33.jpg" alt="" title="" height="180" width="240" /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;          &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;          &lt;p&gt;Insinden tersebut menyita perhatian masyarakat Indonesia, termasuk media masa.&lt;br /&gt;Kita patut berterima kasih pada semua media masa atas laporannya tersebut, karena telah mengingatkan bangsa ini bahwa kita masih punya masalah perbatasan dengan Malaysia di perairan Bintan.&lt;br /&gt;Kalau kita cermati secara mendalam, insiden perairan Bintan merupakan salah satu strategi “licik” Malaysia untuk mengklaim perairan Bintan sebagai wilayah kedaulatannya yang sampai saat ini perundi­ngannya masih mengalami kebuntuan. Sebelumnya, pemerintah Malaysia pernah mengklaim wilayah perairan tersebut merupakan wilayah kedaulatannya dengan me­ngeluarkan peta, namun pemerintah Indonesia sudah melayangkan penolakan atas peta tersebut.&lt;br /&gt;Meski demikian, upaya Malaysia untuk mengklaim perairan tersebut ternyata tidak berhenti sampai di situ, mereka terus melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan bahwa perairan tersebut masuk ke dalam kedaulatan mereka. Saat ini, pemerintah Malaysia memanfaatkan kelengahan pengawasan pencurian ikan oleh aparat Indonesia di wilayah perairan perbatasan.&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa jumlah hari operasi Kapal Pengawas Kelautan dan Perikanan tahun 2010 ini mengalami penurunan dari 180 hari menjadi 100 hari, akibatnya, pengawasan pencurian ikan di perairan Indonesia menjadi lengah. Dengan begitu, tidak heran kalau aktivitas pencurian ikan di perairan Indonesia saat ini cenderung meningkat. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (2010) menunjukkan bahwa sampai akhir juni 2010 tercatat dari 116 kapal ikan ilegal yang tertangkap kapal pengawas perikanan, 112 di antaranya merupakan kapal ikan asing, termasuk kapal Malaysia. Berkurangnya hari operasi kapal pengawas tersebut merupakan dampak kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan yang merealokasi anggaran di Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Diplomasi Indonesia&lt;br /&gt;Penulis menduga bahwa lima kapal nelayan yang melakukan pencurian ikan di wilayah perairan Bintan tersebut sengaja disuruh oleh pemerintah Malaysia untuk menangkap ikan di wilayah tersebut. Hal ini dimaksudkan apabila tidak ada tindakan protes dari aparat Indonesia, mereka dapat mengkalim bahwa perairan tersebut merupakan wilayah kedaulatannya.&lt;br /&gt;Dugaan tersebut dikuatkan dengan cepatnya Marine Police Malaysia mengadang kapal Pengawas Kelautan dan Perikanan yang menangkap para nelayan yang sedang mencuri ikan tersebut. Yang akhirnya tiga aparat Pengawas Kelautan dan Perikanan Indonesia turut ditahan oleh Marine Police Malaysia. Meskipun begitu, hasil diplomasi singkat antara pemerintah Indonesia dengan Malaysia memutuskan untuk melakukan barter antara tiga aparat Pengawas Kelautan dan Perikanan RI dengan tujuh nelayan yang ditahan aparat Indonesia.&lt;br /&gt;Sebenarnya, “barter” tiga aparat Pengawasan Kelautan dan Perikanan dengan tujuh nelayan Malaysia yang ditahan oleh aparat Indonesia merupakan salah satu bentuk kekalahan Tim Diplomasi Indonesia dan kemenangan bagi pemerintah Malaysia. Dengan adanya barter tersebut, secara tidak langsung pemerintah Malaysia ingin menunjukkan pada dunia internasional bahwa sebenarnya ketujuh nelayan Malaysia tersebut melakukan penangkapan ikan di wilayah perairan Malaysia. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya proses hukum sesuai peraturan perundang-unda­ngan Indonesia yang mengatur masalah pencurian ikan. Inilah kesalahan serius yang dilakukan Tim Diplomasi Indonesia dalam penyelesaian masalah tersebut. Seharusnya, Pemerintah Indonesia melakukan protes diplomatik terhadap pemerintah Malaysia atas insiden penangkapan tiga aparat Pengawasan Kelautan dan Perikanan oleh Marine Police Malaysia dan mempro­ses menurut hukum yang berlaku terhadap tujuh nelayan Malaysia yang tertangkap.&lt;br /&gt;Kalau kita cermati secara detail, strategi pemerintah Malaysia dalam berupaya mengklaim perairan Bintan sebagai wilayah kedaulatannya tersebut, merupakan strategi lama yang pernah mereka lakukan dalam memenangi kasus perebutan Pulau Sipadan dan Ligitan tahun 2002. Kalau kita lihat kembali dokumen perebutan Pulau Sipadan dan Ligitan, perundingan Indonesia dan Malaysia waktu itu me­ngalami hal yang sama, yaitu kebuntuan. Akhirnya, waktu itu disepakati bahwa sampai belum adanya keputusan tetap tentang kepemilikan kedua pulau tersebut, maka statusnya disepakati status quo. Meski demikian, dalam kondisi status quo tersebut pemerintah Malaysia telah memanfaatkan kelengahan Pemerintah Indonesia atas pengawasan terhadap kedua pulau tersebut dengan cara memberikan izin untuk membuat berbagai sarana wisata di kedua pulau tersebut. Upaya pemerintah Malaysia tersebut berhasil dilakukan karena tidak ada protes dari pemerintah Indonesia.&lt;br /&gt;Dalam Sidang Mahkamah Internasional tahun 2002, Mahkamah Internasional sempat memutuskan bahwa pemerintah Indonesia dan Malaysia tidak berhak atas Pulau Ligitan dan Sipadan berdasarkan traktat. Mahkamah selanjutnya mempertimbangkan pertanyaan apakah Indonesia atau Malaysia dapat memiliki hak kepemilikan (title) atas pulau-pulau sengketa berdasarkan effectivites (penguasaan efektif) yang diajukan mereka.&lt;br /&gt;Dalam kaitan ini, Mahkamah menentukan apakah klaim kedaulatan para pihak berdasarkan kegiatan-kegiatan yang membuktikan adanya suatu tindakan nyata, pelaksanaan kewenangan secara terus-menerus terhadap kedua pulau, antara lain mi­salnya (adanya) iktikad dan keinginan untuk bertindak sebagai perwujudan kedaulatan. Berdasarkan effectivites (penguasaan efektif) tersebut, maka pada tanggal 17 Desember 2002 Mahkamah Internasional mengakui pe­nguasaan efektif yang telah dilakukan oleh pemerintah Malaysia atas Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan, dan selama penguasaan efektif tersebut tidak ada gugatan atau protes dari pemerintah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatkan Pengawasan&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut, pemerintah Indonesia perlu lebih waspada terhadap berbagai upaya pemerintah Malaysia dalam mengkalim wilayahnya di wilayah perairan perbatasan. Sampai saat ini, perundingan perbatasan laut antara Indonesia dengan Malaysia masih menyimpan permasalahan di empat kawasan yang masih membutuhkan pembahasan untuk mencapai suatu kesepakatan, yaitu Selat Malaka untuk penentuan batas ZEE, Selat Malaka Bagian Selatan untuk penentuan batas Laut Teritorial, Laut China Selatan untuk penentuan batas Laut Teritorial dan ZEE, dan Laut Sulawesi untuk penentuan batas Laut Teritorial, ZEE dan Landas Kontinen.&lt;br /&gt;Selain empat kawasan tersebut di atas, masih ada satu kawasan batas laut yang harus dibicarakan antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, yaitu wilayah laut di sekitar Pulau Batu Puteh atau Pedra Branca yang terletak di sebelah utara Pulau Bintan, lokasi insiden penangkapan tiga aparat Pengawas Kelautan dan Perikanan Indonesia oleh kapal patroli Marine Police Malaysia pada tanggal 13 Agustus 2010.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia perlu terus meningkatkan upaya kehadiran kapal pengawas–TNI AL, Kapal Pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kapal Patroli Kepolisian–di perairan perbatasan Indonesia, khususnya dengan perbatasan Malaysia. Selain itu juga, pemerintah Indonesia perlu terus menekan negara-negara tetangga yang belum menyepakati beriktikad baik dalam menyepakati batas wilayah dengan Indonesia, seperti Singapura dan Malaysia.&lt;br /&gt;Bentuk penekanan tersebut dapat dilakukan melalui pe­ninjauan kembali berbagai program kerja sama antara Indonesia dengan negara tetangga, seperti dua program konservasi laut regional yang melibatkan Indonesia dan Malaysia (Sulu Sulawesi Marine Ecoregion/SSME dan Coral Triangle Initiative/CTI). Kedua program tersebut hendaknya dihentikan sementara sampai ada kesepahaman batas wilayah di laut antara Indonesia dan Malaysia.&lt;br /&gt;Kita harus paham bahwa di sekitar wilayah dua program konservasi laut tersebut (Sulu Sulawesi Marine Ecoregion/SSME dan Coral Triangle Initiative/CTI) ada blok ambalat yang menjadi incaran Malaysia pasca-Pulau Sipadan dan Ligitan menjadi milik Malaysia. Oleh sebab itu, penulis mengusulkan agar permasalahan penyelesaian batas wilayah ini harus menjadi prasyarat keberlanjutan dua program konservasi tersebut. Alhasil, tanpa adanya upaya yang lebih tegas dan komprehensif, dikhawatirkan keutuhan NKRI akan terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-4133732039023478051?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/4133732039023478051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=4133732039023478051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/4133732039023478051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/4133732039023478051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2010/08/malaysia-di-balik-insiden-perairan.html' title='Malaysia di Balik Insiden Perairan Bintan'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-4855465084898412157</id><published>2010-08-16T09:26:00.000+07:00</published><updated>2010-08-16T09:27:02.274+07:00</updated><title type='text'>Men-KP Jangan Abaikan “Illegal Fishing”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="news-single-timedata"&gt;Harian Umum, Sinar Harapan, Jumat, 13 Agustus 2010 12:54 &lt;/span&gt;          &lt;h1&gt;Men-KP Jangan Abaikan “Illegal Fishing”&lt;/h1&gt;          &lt;p&gt;OLEH: SUHANA&lt;/p&gt;          &lt;br /&gt;         &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Illegal fishing merupakan kejahatan perikanan  yang sudah terorganisasi secara matang, mulai di tingkat nasional sampai  internasional. &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;          &lt;table align="right" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="1"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;            &lt;td&gt;&lt;img src="http://www.sinarharapan.co.id/typo3temp/pics/6fa19bfe33.jpg" alt="" title="" height="180" width="240" /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;          &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;          &lt;p&gt;Bahkan, Organisasi Pangan Internasional (FAO) telah  menempatkan illegal fishing sebagai kejahatan perikanan yang perlu  mendapatkan perhatian serius. Sejak tahun 1992, FAO telah memprakarsai  pembentukan suatu tata laksana perikanan yang bertanggung jawab, salah  satunya memberantas praktik illegal fishing.&lt;br /&gt;Prakarsa FAO tersebut  lahir melalui Deklarasi Cancun tahun 1992 pada International Conference  on Responsible Fishing. Pascadeklarasi Cancun, berbagai kebijakan  internasional untuk memberantas kejahatan perikanan ini banyak dibentuk.  Inisiatif FAO tersebut telah banyak mendapat sambutan baik dari seluruh  negara, termasuk Indonesia. Bahkan, Uni Eropa sejak awal tahun 2010 ini  telah menerapkan aturan semua produk perikanan yang masuk ke pasar Uni  Eropa harus bebas dari praktik Illegal-Unreported-Unregulated (IUU)  Fishing. Penerapan kebijakan tersebut telah berdampak pada beberapa  perusahaan perikanan Indonesia saat ini. Menurut catatan Asosiasi  Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia,  pascapemberlakuan aturan Uni Eropa tersebut, ada 15 kapal perikanan  Indonesia yang hasil tangkapannya ditolak pasar Uni Eropa karena diduga  melakukan praktik pencurian ikan.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, di  tengah-tengah dunia yang tengah memerangi kejahatan perikanan ini,  Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sejak awal berdiri bernama  Departemen Eksplorasi Laut sampai Departemen Kelautan dan Perikanan  Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I sangat konsen terhadap pemberantasan  kejahatan perikanan, tiba-tiba saat ini upaya untuk memerangi praktik  illegal fishing ini mengalami penurunan yang sangat signifikan. Hal ini  dapat ditunjukkan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan  (Men-KP) Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang mengurangi Hari Operasi  Kapal Pengawas Perikanan dari 180 hari menjadi 100 hari.&lt;br /&gt;Pengurangan  hari operasi tersebut merupakan dampak dari adanya kebijakan realokasi  anggaran di Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2010 untuk  mengembangkan budi daya perikanan. Meskipun begitu, ternyata kebijakan  realokasi anggaran tersebut saat ini menimbulkan masalah serius bagi  keberlangsungan ekonomi dan sumber daya perikanan nasional ke depan.&lt;br /&gt;Pengurangan  hari operasi pengawasan ini akan memicu semakin maraknya praktik  pencurian ikan di perairan Indonesia. Data Kementerian Kelautan dan  Perikanan (2010) menunjukkan bahwa tren kapal perikanan asing yang masuk  secara ilegal ke perairan Indonesia sejak Januari sampai Juni 2010  cenderung meningkat. Mereka telah memanfaatkan kelengahan pemerintah  Indonesia dalam mengawasi perairan indonesia. Hal ini dapat dilihat dari  jumlah kapal ikan asing yang tertangkap, yang sampai akhir Juni 2010  tercatat dari 116 kapal ikan ilegal yang tertangkap kapal pengawas  perikanan, 112 di antaranya merupakan kapal ikan asing.&lt;br /&gt;Bahkan,  Harian Kompas (7/7/2010) memperkirakan praktik pencurian ikan oleh kapal  asing akan meningkat pada bulan Juli-Agustus ini. Prediksi tersebut  bukan tanpa dasar. Berbagai hasil riset menunjukkan ikan tuna yang  menjadi target utama kapal ikan asing di wilayah ZEEI pada Mei-Agustus  berada di kedalaman antara 80-140 meter di bawah permukaan air laut.  Artinya, pada bulan-bulan tersebut sangat cocok untuk melakukan  penangkapan ikan tuna, karena tidak memerlukan upaya yang sangat besar.  Karena pada bulan-bulan lainnya ikan tuna berada pada kedalaman di bawah  140 meter di bawah permukaan air laut, sehingga memerlukan upaya yang  besar untuk menangkapnya.&lt;br /&gt;Selain itu juga, kalau melihat data FAO  (2001), diperkirakan kerugian Indonesia dari perikanan ilegal tersebut  mencapai sekitar US$ 4 miliar. Kalau kita lihat dari perkembangan harga  ikan rata-rata setiap tahunnya berkisar US$ 1.000-US$ 2.000 per ton  ikan, maka apabila kita asumsikan harga ikan rata-rata sebesar US$ 1.000  per ton, jumlah ikan yang dicuri mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.  Sementara itu, apabila harga ikan rata-rata diasumsikan sekitar US$  2.000 per ton, maka jumlah ikan yang dicuri sekitar 2 juta ton per  tahun.&lt;br /&gt;Lebih lanjut lagi, apabila kita asumsikan rata-rata tonase  kapal ilegal yang menangkap ikan di perairan Indonesia mencapai 200 ton  dan setiap tahunnya melakukan empat kali trip penangkapan, maka jumlah  kapal ilegal per tahun mencapai 2.500-5.000 kapal.&lt;br /&gt;Atas dasar hal  tersebut, hendaknya Men-KP dapat menyadari pentingnya upaya serius untuk  memberantas praktik kejahatan perikanan di perairan Indonesia. Hal ini  selain akan berdampak terhadap kelestarian sumberdaya ikan, juga  berdampak pada nasib ekspor produk ikan nasional dan keberlangsungan  program minapolitan yang dijadikan program andalan Men-KP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minapolitan&lt;br /&gt;Penanganan  illegal fishing secara komprehensif akan mendukung target pemerintah  dalam program minapolitan. Hal ini didasarkan pada masih tingginya  ketergantungan pengembangan budi daya ikan terhadap hasil tangkapan  nelayan di laut. Apalagi, sampai saat ini pemerintah dan pembudi daya  ikan nasional belum dapat menemukan alternatif pakan ikan selain  bersumber dari ikan rucah hasil tangkapan nelayan. Hasil penelitian  Daniel Pauly (2006), untuk menghasilkan 1 kg daging ikan kerapu (atau  ikan karnivora lainnya), bisa membutuhkan 5-10 kg ikan rucah/small  pelagic hasil tangkapan nelayan.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut, sangat  tepat jika dalam mendukung program minapolitan, Men-KP memperbaiki dan  meningkatkan upaya pengawasan dan pengendalian kejahatan perikanan yang  telah menguras banyak sumber daya ikan di perairan Indonesia oleh kapal  asing dan kapal perikanan nasional. Men-KP hendaknya mengembalikan Hari  Operasi Kapal Pengawas Perikanan menjadi 180 hari.&lt;br /&gt;Selain itu,  hendaknya Men-KP merumuskan langkah-langlah komprehensif dalam menangani  illegal fishing. Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian  khusus, yaitu pertama, peningkatan kesadaran dan kerja sama antarseluruh  pemangku kepentingan perikanan dan kelautan nasional dalam  pemberantasan praktik illegal fishing. Hal ini perlu dilakukan karena  illegal fishing selama ini banyak dilakukan oleh pemangku kepentingan  perikanan itu sendiri, termasuk pemerintah dan pengusaha perikanan. Hal  mendesak yang perlu dilakukan adalah memberantas KKN dalam pengurusan  izin penangkapan ikan.&lt;br /&gt;Kedua, peningkatan peran Indonesia dalam  kerja sama pengelolaan perikanan regional. Dengan meningkatkan peran  ini, Indonesia dapat meminta negara lain untuk memberlakukan sanksi bagi  kapal yang menangkap ikan secara ilegal di perairan Indonesia. Data KKP  (2010) menunjukkan bahwa sepanjang periode Januari-Juni 2010, kapal  ikan asing yang melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia  didominasi oleh Malaysia, Vietnam, Thailand, RRC, dan Filipina. Dengan  menerapkan kebijakan anti-illegal fishing secara regional, upaya  pencurian ikan oleh kapal asing dapat ditekan serendah mungkin. Kerja  sama ini juga dapat diterapkan dalam konteks untuk menekan biaya  operasional MCS, sehingga joint operation untuk VMS (Vessel Monitoring  Systems), misalnya, dapat dilakukan.&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis,  pemberantasan illegal fishing di perairan Indonesia saat ini tidak bisa  ditawar-tawar lagi. Artinya, pemerintah dan para pemangku kepentingan  perikanan dan kelautan lainnya perlu bekerja sama untuk memberantasnya.  Karena apabila hal ini tidak secepatnya dilakukan, maka program  minapolitan hanya akan menjadi jargon seperti program-program  sebelumnya, yaitu Protekan 2003, Gerbang Mina Bahari, dan Revitalisasi  Perikanan. Sudah saatnya potensi sumber daya ikan di perairan Indonesia  dimanfaatkan secara penuh oleh masyarakat Indonesia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/men-kp-jangan-abaikan-illegal-fishing/?tx_ttnews[years]=2010&amp;amp;tx_ttnews[months]=08&amp;amp;tx_ttnews[days]=13&amp;amp;cHash=088b9da33a&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-4855465084898412157?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/4855465084898412157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=4855465084898412157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/4855465084898412157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/4855465084898412157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2010/08/men-kp-jangan-abaikan-illegal-fishing.html' title='Men-KP Jangan Abaikan “Illegal Fishing”'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-8600009067546453048</id><published>2010-07-23T10:35:00.000+07:00</published><updated>2010-07-23T10:36:15.735+07:00</updated><title type='text'>Nelayan Dialihkan ke Budidaya</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Nelayan Dialihkan ke Budidaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Perlu Diberi Pemahaman soal Perubahan Iklim&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;JAKARTA, KOMPAS - Guna mengantisipasi gangguan cuaca dan dampak perubahan iklim, nelayan diarahkan untuk beralih profesi ke perikanan budidaya. Saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan menginventarisasi wilayah tangkapan ikan yang terkena dampak cuaca ekstrem.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Hal itu dikemukakan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad di Jakarta, Selasa (20/7). Ia mengemukakan, perikanan budidaya merupakan instrumen mata pencarian alternatif bagi nelayan karena perubahan iklim dan alam tidak bisa dilawan. Budidaya laut yang diarahkan bagi nelayan antara lain ikan kerapu dan rumput laut&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Dari Kementerian Pertanian, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Tanaman Pangan sekaligus Kepala Balitbang Pertanian Gatot Irianto mengatakan, perubahan iklim tak hanya berdampak buruk. Masih banyak petani di be-lahan daerah lain yang diuntungkan karena mereka bisa menikmati kenaikan harga produk pertanian meski tidak terlalu besar.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Manfaatkan teluk&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Perikanan budidaya, ujar Fadel, dapat dilakukan dengan memanfaatkan teluk dan perairan yang terlindung agar tidak terganggu gelombang tinggi.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Kini sedang disiapkan tenaga penyuluh perikanan untuk mengubah pola pikir dan menggiring nelayan beralih ke budidaya. "Ini tugas berat karena mereka (nelayan) belum terbiasa," ujarnya&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan Gellwynn Jusuf mengemukakan, tingginya gelombang di sejumlah perairan Indonesia disebabkan beberapa faktor, di antaranya badai Coson di Filipina. Akibat perubahan iklim, kini intensitas badai ditengarai terus meningkat.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Upaya jangka pendek&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Fadel mengatakan, upaya jangka pendek adalah dengan menyalurkan dana bantuan tanggap darurat nelayan di Kementerian Sosial senilai Rp 200 miliar. Bantuan itu berupa beras dan kebutuhan pokok senilai Rp 200.000-Rp 300.000 per nelayan serta mengoptimalkan asuransi kecelakaan bagi nelayan.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Namun, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil Sudirman Saad mengemukakan, "Bencana (paceklik) ini sangat lokal&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;sehingga masih bisa ditangani pemerintah daerah," ujarnya Bantuan itu berupa penyaluran beras dari pemerintah. Dicadangkan 100 ton di setiap kabupaten/kota dan 200 ton di setiap provinsi.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepala Riset Pusat Kajian Sumber Daya Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana&lt;/span&gt; mengemukakan, upaya adaptasi dengan mengalihkan profesi nelayan tak akan mengatasi masalah.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Faktanya, tidak mudah mengubah kebiasaan nelayan. Sebaliknya, merosotnya aktivitas melaut nelayan justru menjadi peluang maraknya pencurian ikan oleh kapal-kapal besar. "Yang perlu dilakukan pemerintah adalah memperkuat kemampuan nelayan, bukan menghentikan aktivitas mereka," ujar Suhana.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Sementara itu, Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan Riza Damanik menegaskan, untuk menolong nelayan, ada prasyarat, yaitu, pertama, harus ada sistem pengamanan bagi nelayan yang berbasis ekosistem, misalnya nelayan kawasan perairan Laut Jawa bagian selatan. "Harus melepaskan belenggu sektoral dan administratif. Sifatnya konsorsium nelayan," ujarnya. Yang kedua adalah trans- paransi dan akuntabilitas pengambilan keputusan. Keduanya bisa dilakukan tanpa perlu menunggu dana.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Pemahaman masyarakat&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Koordinator Isu Hutan dan Iklim World Wide Fund for Nature Indonesia Iwan Wibisono di sela-sela semiloka Media Massa dalam Mendukung Konservasi, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kemarin, menegaskan, pemerintah harus mulai membangun pemahaman masyarakat terkait perubahan iklim agar mereka segera bisa beradaptasi karena gejala perubahan iklim mulai tampak, seperti gagal panen akibat hujan yang masih turun.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;"Pemerintah harus menetapkan apakah ini (cuaca ekstrem) terjadi karena perubahan iklim. Kalau memang itu yang terjadi, seharusnya ada langkah-langkah yang disiapkan guna membangun kesiapan masyarakat untuk beradaptasi," ujarnya&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Pemahaman itu berarti meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi perubahan lingkungan beserta dampaknya agar kerugian bisa diminimalisasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Menurut Iwan, yang dilakukan pemerintah saat ini bersifat sporadis sehingga tak mengena Padahal, isu perubahan iklim amatnyata dan sulit dipahami. "Bagi masyarakat, perubahan iklim adalah hal baru sehingga perlu dikomunikasikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Pendekatannya juga harus pendekatan kultural," katanya&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Kumpady Widen, dosen pascasarjana Universitas Palangkaraya, mengatakan, isu perubahan iklim belum sampai ke masyarakat pedalaman. Kalaupun ada informasi, biasanya hanya sampai ke tingkat kepala desa Masyarakat sendiri belum menganggap isu itu penting karena masyarakat Dayak bukan pembaca Tradisi mereka adalah tradisi bertutur. "Padahal, bahasa terkait perubahan iklim masih terlalu ilmiah sehingga sulit dipahami meski dampaknya saat ini sudah dirasakan," ujarnya&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Kumpady juga meminta agar masyarakat Dayak diberikan kesempatan menerapkan hukum adat terkait upaya menjaga lingkungan. Selama ini, akibat intervensi pemerintah, kepala adat cenderung takut menerapkan hukum adat secara optimal.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Tantangan bersama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Di bidang pertanian, menurut Gatot Irianto, untuk komoditas padi, hujan berkepanjangan pada musim kemarau ternyata sangatmenguntungkan. Jutaan lahan tadah hujan bisa dimanfaatkan, yang biasanya tak bisa dilakukan. Memang untuk jenis komoditas tertentu, seperti kedelai, ada banyak kendala karena curah hujan tinggi dan terus-menerus akan menghambat pertumbuhan.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Kementerian Pertanian, kata Gatot, telah menyusun peta jalan strategi menghadapi perubahan iklim global. Rencana itu di antaranya berupa pengembangan infrastruktur, terutama jaringan irigasi, untuk mengurangi risiko banjir dan kekeringan, peningkatan kapasitas petani pada pemahaman soal perubahan iklim, dan penerapan teknologi adaptasi serta mitigasi. Ini disertai pengembangan sistem informasi peringatan dini bencana banjir dan kekeringan serta kalender tanaman.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Langkah adaptasi, tegas Gatot, difokuskan pada aplikasi teknologi adaptif, seperti penyesuaian pola tanam, penggunaan varietas unggul yang adaptif terhadap kekeringan, genangan/banjir, salinitas, dan umur pendek, misalnya varietas Inpari dan Inpago. Juga akan dikembangkan sistem penyuluhan serta sistem asuransi pertanian akibat risiko iklim dan diversifikasi pangan.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;O.KT/WER/MAS/ISW)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;color:#333399;"&gt;Sumber : Kompas 21 Juli 2010,hal.1 &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-8600009067546453048?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/8600009067546453048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=8600009067546453048' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8600009067546453048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8600009067546453048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2010/07/nelayan-dialihkan-ke-budidaya.html' title='Nelayan Dialihkan ke Budidaya'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-8324510920879288954</id><published>2010-07-13T12:51:00.002+07:00</published><updated>2010-07-13T13:06:22.766+07:00</updated><title type='text'>Permendagri No 30 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan sumberdaya di wilayah laut</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:"Franklin Gothic Medium"; 	panose-1:2 11 6 3 2 1 2 2 2 4; 	mso-font-alt:"Trebuchet MS"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Bookman Old Style"; 	panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h1 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 1 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:102.85pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:center; 	text-indent:-102.85pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:1; 	tab-stops:84.15pt 102.85pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Bookman Old Style","serif"; 	mso-bidi-font-family:"Bookman Old Style"; 	mso-font-kerning:0pt;} h2 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 2 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:center; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:2; 	tab-stops:84.15pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Bookman Old Style","serif"; 	mso-bidi-font-family:"Bookman Old Style"; 	mso-ansi-language:IN;} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Header Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Body Text 2 Char"; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:121.55pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:-121.55pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:84.15pt 102.85pt 121.55pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Bookman Old Style","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Bookman Old Style"; 	mso-ansi-language:IN;} span.Heading1Char 	{mso-style-name:"Heading 1 Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 1"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Bookman Old Style","serif"; 	mso-ascii-font-family:"Bookman Old Style"; 	mso-hansi-font-family:"Bookman Old Style"; 	mso-bidi-font-family:"Bookman Old Style"; 	font-weight:bold;} span.Heading2Char 	{mso-style-name:"Heading 2 Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 2"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Bookman Old Style","serif"; 	mso-ascii-font-family:"Bookman Old Style"; 	mso-hansi-font-family:"Bookman Old Style"; 	mso-bidi-font-family:"Bookman Old Style"; 	mso-ansi-language:IN; 	font-weight:bold;} span.BodyText2Char 	{mso-style-name:"Body Text 2 Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Body Text 2"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Bookman Old Style","serif"; 	mso-ascii-font-family:"Bookman Old Style"; 	mso-hansi-font-family:"Bookman Old Style"; 	mso-bidi-font-family:"Bookman Old Style"; 	mso-ansi-language:IN;} span.HeaderChar 	{mso-style-name:"Header Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Header; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page WordSection1 	{size:612.0pt 936.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 64.8pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-page-numbers:num-in-dash 1; 	mso-paper-source:0;} div.WordSection1 	{page:WordSection1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:331685731; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:71092480 -2126357170 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l0:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l0:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:340936101; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:580279080 300969566 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	color:windowtext;} @list l1:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l1:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l1:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l2 	{mso-list-id:398677888; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-28543296 141090730 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l2:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l2:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l2:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l2:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l2:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l2:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l2:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l2:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l3 	{mso-list-id:440149845; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-172867748 -734903670 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l3:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l3:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l4 	{mso-list-id:466242594; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-286491044 -399495590 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 	{mso-level-tab-stop:120.75pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:120.75pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l4:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l4:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l5 	{mso-list-id:587155102; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1972791926 -131853814 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:45.75pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:45.75pt; 	text-indent:-27.75pt;} @list l5:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l5:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l5:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l5:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l5:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l5:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l5:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l5:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l6 	{mso-list-id:1054429413; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:137389780 -171703426 1520203224 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:45.75pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:45.75pt; 	text-indent:-27.75pt;} @list l6:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l6:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l6:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l6:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l6:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l6:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l6:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l6:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l7 	{mso-list-id:1095709522; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:267431922 141090730 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l7:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l7:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l7:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l8 	{mso-list-id:1310595000; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:827249586 141090730 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l8:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l8:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l8:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l8:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l8:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l8:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l8:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l8:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l8:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l9 	{mso-list-id:1326975515; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1734680486 -321255154 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l9:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l9:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l9:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l9:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l9:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l9:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l9:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l9:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l9:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l10 	{mso-list-id:1406341324; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1163587396 1523450880 -1768815262 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l10:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:45.75pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:45.75pt; 	text-indent:-27.75pt;} @list l10:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l10:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l10:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l11 	{mso-list-id:1442799602; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:405426982 -183495544 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l11:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:18.75pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.75pt; 	text-indent:-18.75pt;} @list l11:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l11:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l11:level4 	{mso-level-tab-stop:90.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:90.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l11:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:126.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:126.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l11:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:162.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:162.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l11:level7 	{mso-level-tab-stop:198.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:198.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l11:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:234.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:234.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l11:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:270.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:270.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l12 	{mso-list-id:1460758939; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1243382518 1449279884 -183495544 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l12:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l12:level2 	{mso-level-text:"\(%2\)"; 	mso-level-tab-stop:72.75pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.75pt; 	text-indent:-18.75pt;} @list l12:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l12:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l12:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l12:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l12:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l12:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l12:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l13 	{mso-list-id:1496066065; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2072248314 -183495544 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l13:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:18.75pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.75pt; 	text-indent:-18.75pt;} @list l13:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l13:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l13:level4 	{mso-level-tab-stop:90.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:90.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l13:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:126.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:126.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l13:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:162.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:162.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l13:level7 	{mso-level-tab-stop:198.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:198.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l13:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:234.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:234.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l13:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:270.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:270.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l14 	{mso-list-id:1522158873; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:142792062 1032085676 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l14:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:45.75pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:45.75pt; 	text-indent:-27.75pt;} @list l14:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l14:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l14:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l14:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l14:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l14:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l14:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l14:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l15 	{mso-list-id:1551070227; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1288949178 -183495544 300969566 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l15:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:18.75pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.75pt; 	text-indent:-18.75pt;} @list l15:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	color:windowtext;} @list l15:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l15:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l15:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l15:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l15:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l15:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l15:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l16 	{mso-list-id:1639262299; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-167239862 -1069493012 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l16:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l16:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l16:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l16:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l16:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l16:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l16:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l16:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l16:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l17 	{mso-list-id:1651211661; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1748475640 141090730 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l17:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l17:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l17:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l17:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l17:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l17:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l17:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l17:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l17:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l18 	{mso-list-id:1697543067; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1744697708 1523450880 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l18:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:45.75pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:45.75pt; 	text-indent:-27.75pt;} @list l18:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l18:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l18:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l18:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l18:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l18:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l18:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l18:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l19 	{mso-list-id:1732926386; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:277624320 141090730 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l19:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l19:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l19:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l19:level4 	{mso-level-tab-stop:90.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:90.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l19:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:126.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:126.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l19:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:162.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:162.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l19:level7 	{mso-level-tab-stop:198.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:198.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l19:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:234.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:234.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l19:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:270.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:270.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l20 	{mso-list-id:1794984504; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1401194682 916615050 -1356802046 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l20:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l20:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l20:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l20:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l20:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l20:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l20:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l20:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l20:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l21 	{mso-list-id:1869099675; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:878212926 -183495544 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l21:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:72.75pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.75pt; 	text-indent:-18.75pt;} @list l21:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l21:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l21:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l21:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l21:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l21:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l21:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l21:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l22 	{mso-list-id:1915428189; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1931097014 -1137404522 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l22:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l22:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l22:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:90.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:90.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l22:level4 	{mso-level-tab-stop:126.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:126.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l22:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:162.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:162.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l22:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:198.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:198.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l22:level7 	{mso-level-tab-stop:234.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:234.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l22:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:270.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:270.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l22:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:306.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:306.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l23 	{mso-list-id:1942030204; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1583290576 141090730 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l23:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l23:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l23:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l23:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l23:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l23:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l23:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l23:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l23:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l24 	{mso-list-id:2126844928; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1573941784 1115867444 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l24:level1 	{mso-level-text:"\(%1\)"; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l24:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l24:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l24:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l24:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l24:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l24:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l24:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l24:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} table.MsoTableGrid 	{mso-style-name:"Table Grid"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	border:solid windowtext 1.0pt; 	mso-border-alt:solid windowtext .5pt; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-border-insideh:.5pt solid windowtext; 	mso-border-insidev:.5pt solid windowtext; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;NOMOR 30 TAHUN 2010&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;TENTANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;PEDOMAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA DI WILAYAH LAUT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;MENTERI DALAM NEGERI&lt;b&gt;,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; width: 482.25pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="643"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 108.25pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Menimbang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 13.7pt;" valign="top" width="18"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 360.3pt;" valign="top" width="480"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;bahwa untuk melaksanakan   ketentuan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan   Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang   Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun   2004 tentang Pemerintahan Daerah, perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam   Negeri tentang Pengelolaan Sumber Daya di Wilayah Laut;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 108.25pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 13.7pt;" valign="top" width="18"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 360.3pt;" valign="top" width="480"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 108.25pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mengingat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 13.7pt;" valign="top" width="18"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 360.3pt;" valign="top" width="480"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Undang-Undang Nomor 8 Tahun   1985 tentang Organisasi&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Kemasyarakatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor   44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3298);&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Undang-Undang Nomor 27 Tahun   2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran   Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara   Republik Indonesia Nomor 4738);&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Undang-Undang Nomor 39 Tahun   2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun   2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 38   Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,   Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota   (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran   Negara Republik Indonesia Nomor 4737);&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 41   Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik   Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia   Nomor 4741);&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 8   Tahun 2008 tentang Tahapan Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi   Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia   Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 108.25pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 13.7pt;" valign="top" width="18"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 360.3pt;" valign="top" width="480"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 108.25pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 13.7pt;" valign="top" width="18"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 360.3pt;" valign="top" width="480"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;MEMUTUSKAN:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 108.25pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 13.7pt;" valign="top" width="18"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 360.3pt;" valign="top" width="480"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 108.25pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Menetapkan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 13.7pt;" valign="top" width="18"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 360.3pt;" valign="top" width="480"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEDOMAN   PENGELOLAAN SUMBER DAYA DI WILAYAH LAUT.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 108.25pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 13.7pt;" valign="top" width="18"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 360.3pt;" valign="top" width="480"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 108.25pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 13.7pt;" valign="top" width="18"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 360.3pt;" valign="top" width="480"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 102.85pt; text-align: center; text-indent: -102.85pt;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 102.85pt; text-align: center; text-indent: -102.85pt;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;BAB I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 102.85pt; text-align: center; text-indent: -102.85pt;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;KETENTUAN UMUM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 102.85pt; text-align: center; text-indent: -102.85pt;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h1 style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Pasal 1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dalam Peraturan Menteri ini   yang dimaksud dengan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pengelolaan sumber daya laut   adalah segala upaya mengoptimalkan manfaat sumber daya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;laut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sumber daya laut adalah unsur   hayati, non hayati yang terdapat di wilayah laut dan dapat digunakan untuk   meningkatkan kesejahteraan manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Wilayah laut adalah ruang laut   yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas   dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek   fungsional yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah   perairan kepulauan untuk provinsi paling jauh 12 (duabelas) mil laut dan 1/3   (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota termasuk   wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Eksplorasi adalah kegiatan   atau penyelidikan potensi kekayaan sumber daya laut yang pelaksanaannya   didasarkan pada kondisi lingkungannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Eksploitasi adalah kegiatan   atau usaha pemanfaatan sumber daya laut yang pelaksanaannya harus didasarkan   pada daya dukung lingkungannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kawasan konservasi adalah   bagian tertentu wilayah laut yang mempunyai ciri khas sebagai satu kesatuan   ekosistem yang dilindungi, dilestarikan yang pemanfaatannya dilakukan secara   bijaksana untuk mewujudkan pengelolaan secara berkelanjutan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Penataan ruang laut adalah   proses penetapan ruang/kawasan yang didasarkan pada sumber daya yang ada di   wilayah laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Nelayan tradisional adalah   masyarakat yang mata pencaharian sehari-hari mengeksploitasi sumber daya laut   yang dilakukan secara turun temurun dengan menggunakan bahan dan peralatan   tradisional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Masyarakat pesisir adalah   masyarakat desa/kelurahan yang tinggal di sepanjang daerah wilayah pesisir   yang dipengaruhi oleh kompleksitas, aktifitas dalam pengelolaan sumber daya   pesisir dan laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Organisasi kemasyarakatan   bidang kelautan, yang selanjutnya disebut ormas kelautan, adalah organisasi   non pemerintah bervisi kebangsaaan yang dibentuk oleh warga negara Indonesia   secara sukarela yang terdaftar di pemerintah daerah setempat serta bukan   organisasi sayap partai yang kegiatannya memajukan kehidupan sosial ekonomi   masyarakat nelayan, melestarikan potensi sumber daya laut dan mengembangkan   pengetahuan serta keterampilan masyarakat nelayan yang menggantungkan   hidupnya pada sumber daya laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;11.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pemberdayaan masyarakat adalah   upaya untuk mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi   yang dimiliki serta berupaya mengembangkan kapasitas masyarakat untuk   meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat desa/kelurahan pesisir   sehingga mampu menemukenali potensi yang ada dan mendayagunakannya secara   optimum, partisipatif untuk kemakmuran serta kesejahteraan bersama yang   berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;12.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pemangku kepentingan adalah   para pengguna yang mempunyai kepentingan langsung dalam pemanfaatan sumber   daya laut seperti nelayan tradisional, masyarakat pesisir, organisasi   kemasyarakatan bidang kelautan, nelayan modern, pembudidaya, pengusaha   pariwisata, dan pengusaha perikanan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;13.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Adaptasi adalah berbagai   tindakan penyesuaian terhadap dampak perubahan iklim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;14.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mitigasi adalah berbagai   tindakan aktif untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h2 style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h2 style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;BAB II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;KEWENANGAN PENGELOLAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h2 style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 2&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Daerah   berwenang mengelola sumber daya di wilayah laut sesuai kewenangannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kewenangan   untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat   (1) paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut   lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga)   dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h2 style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pengelolaan sumber daya di   wilayah laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;eksplorasi;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;eksploitasi;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;konservasi;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;adaptasi   dan perubahan iklim; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;pengaturan   administratif;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;pengaturan   tata ruang;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;g.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;pengelolaan   kekayaan laut;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;h.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;penegakan   hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan   kewenangannya oleh pemerintah; dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;i.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;ikut   serta dalam pemeliharaan keamanan dan kedaulatan negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h2 style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;h2 style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;BAB III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;PERENCANAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pemerintahan   daerah menyusun perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut   sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 sesuai kewenangannya yang terdiri atas:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -43.95pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;rencana   strategis;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -43.95pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;rencana   zonasi;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -43.95pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;rencana   pengelolaan; dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -43.9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;rencana   aksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penyusunan   perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut oleh provinsi   memperhatikan perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut   kabupaten/kota yang berada dalam wilayahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penyusunan   perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut oleh provinsi dan   kabupaten/kota memperhatikan perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah   laut provinsi dan kabupaten/kota yang berbatasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(4)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penyusunan   perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut yang menjadi kewenangan   pemerintah untuk kepentingan nasional, mengikutsertakan pemerintah provinsi   dan pemerintah kabupaten/kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(5)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penyusunan   perencaaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada   ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) dikoordinasikan oleh Menteri Dalam   Negeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Rencana   strategis dan rencana zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)   huruf a dan huruf b dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang   Daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Rencana   strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat visi, misi, dan arah   pembangunan daerah di bidang pengelolaan sumber daya di wilayah laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Rencana   zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat memuat kawasan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -43.9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;pemanfaatan   umum;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -43.9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;konservasi;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -43.9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;strategis   nasional tertentu; dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -43.9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;alur   laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(4)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penyusunan   rencana zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan memperhatikan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -43.9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;potensi   yang ada di wilayah laut; dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -43.9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;kawasan   konservasi yang ditetapkan oleh pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Rencana pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4   ayat (1) huruf c dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat   (1) huruf d dituangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam Rencana   Kerja Pembangunan Daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penyusunan perencanaan pengelolaan sebagaimana dimaksud   dalam Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, dan Pasal 7 berpedoman pada peraturan   perundang-undangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 9&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penyusunan   perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud   dalam Pasal 4 didasarkan atas data dan informasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Gubernur   dan bupati/walikota melakukan inventarisasi data dan informasi sebagaimana   dimaksud pada ayat (1) meliputi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;potensi   sumber daya yang ada;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;potensi   sumber daya yang telah dimanfaatkan dan&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;daya dukungnya; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;potensi   sumber daya yang belum dimanfaatkan dan&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;daya dukungnya; dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;badan   hukum yang diberi izin atau rekomendasi pemanfaatan sumber daya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 10&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Gubernur   dan Bupati/Walikota menyusun rencana penataan ruang laut di wilayahnya dengan   berpedoman pada rencana zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Rencana   penataan ruang laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari   Rencana Tata Ruang Wilayah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan   peraturan daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 11&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penyusunan   rencana penataan ruang laut di wilayah laut oleh provinsi memperhatikan   rencana penataan ruang laut kabupaten/kota yang berada dalam wilayahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penyusunan   rencana penataan ruang laut oleh provinsi dan kabupaten/kota memperhatikan   rencana penataan ruang laut provinsi dan kabupaten/kota yang berbatasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penyusunan   rencana penataan ruang laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)   dikoordinasikan dengan kementerian/LPNK terkait.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;BAB IV&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;PENGELOLAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Bagian Kesatu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Eksplorasi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h2 style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 12&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pemerintah Daerah dapat   melakukan eksplorasi terhadap sumber daya di wilayah laut sesuai dengan   kewenangannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Setiap orang dan badan hukum   dapat melakukan eksplorasi setelah memperoleh izin dari kepala daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ketentuan lebih lanjut   mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh izin sebagaimana dimaksud pada   ayat (2) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 13&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Setiap   orang dan badan hukum yang akan melakukan eskplorasi sumber daya di wilayah   laut yang menjadi kewenangan pemerintah, yang berada di wilayah laut kewenangan   pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus memperoleh izin dari   pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Setiap   orang dan badan hukum yang telah mendapat izin sebagaimana dimaksud pada ayat   (1) harus melapor kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gubernur atau   Bupati/Walikota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Gubernur   dan bupati/walikota melakukan pemantauan terhadap kegiatan yang dilakukan   oleh pihak yang telah mendapatkan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Bagian Kedua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Eksploitasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h2 style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 14&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pemerintah Daerah dapat   melakukan eksploitasi terhadap sumber daya di wilayah laut sesuai dengan   kewenangannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Setiap orang dan badan hukum   dapat melakukan eksploitasi setelah memperoleh izin dari kepala daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ketentuan lebih lanjut   mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh izin sebagaimana dimaksud pada   ayat (2) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 15&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Setiap   orang dan badan hukum yang akan melakukan eksploitasi sumber daya di wilayah   laut yang menjadi kewenangan pemerintah, yang berada di wilayah laut   kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus memperoleh   izin dari pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Setiap   orang dan badan hukum yang telah mendapat izin sebagaimana dimaksud pada ayat   (1) harus melapor kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gubernur atau   Bupati/Walikota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Gubernur   dan bupati/walikota melakukan pemantauan terhadap kegiatan yang dilakukan   oleh pihak yang telah mendapatkan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Bagian Ketiga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Konservasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 16&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Gubernur   dan Bupati/Walikota dapat menetapkan bagian tertentu wilayah lautnya sebagai   kawasan konservasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penetapan   kawasan konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada   peraturan perundang-undangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 17&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta pemangku   kepentingan berkewajiban untuk mengawasi dan melindungi kawasan konservasi   yang ditetapkan oleh pemerintah dan berada di wilayah laut sesuai dengan   kewenangannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Bagian Keempat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Adaptasi Dan Mitigasi Perubahan   Iklim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 18 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pemerintah Daerah dalam menyusun perencanaan   pengelolaan sumber daya di wilayah laut, wajib memasukkan materi yang memuat   upaya adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 19 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dilakukan dengan   melibatkan Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 20&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penyelenggaraan adaptasi dan   mitigasi perubahan iklim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 dilaksanakan   dengan memperhatikan aspek:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;sosial,   ekonomi, dan budaya masyarakat;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;kelestarian   lingungan hidup;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;kemanfaatan   dan efektivitas; serta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;lingkup   luas wilayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"   lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: center; text-indent: -28.1pt;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Bagian Kelima&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: center; text-indent: -28.1pt;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pengelolaan Kekayaan Laut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: center; text-indent: -28.1pt;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: center; text-indent: -28.1pt;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 21&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: center; text-indent: -28.1pt;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pemerintah   Daerah dapat melakukan pengelolaan kekayaan laut sesuai dengan kewenangannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pengelolaan   kekayaan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di   kawasan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.8pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;pemanfaatan   umum;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.8pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;konservasi;   dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 46.8pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;alur   laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pengelolaan   kekayaan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf c,   dilakukan secara terbatas sesuai peraturan perundang-undangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 22&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Setiap   orang dan badan hukum dapat melakukan pengelolaan kekayaan laut setelah   memperoleh izin dari kepala daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ketentuan lebih lanjut   mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh izin sebagaimana dimaksud pada   ayat (1) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 23&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Setiap   orang dan badan hukum yang akan melakukan pengelolaan kekayaan laut yang   menjadi kewenangan pemerintah, yang berada di wilayah laut kewenangan   pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus memperoleh izin dari   pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Setiap   orang dan badan hukum yang telah mendapat izin sebagaimana dimaksud pada ayat   (1) harus melapor kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gubernur atau   Bupati/Walikota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Gubernur   dan bupati/walikota melakukan pemantauan terhadap kegiatan yang dilakukan   oleh pihak yang telah mendapatkan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 24&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Nelayan tradisional&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;dikecualikan dari izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 25&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Setiap orang dan badan hukum yang melakukan kegiatan   penangkapan ikan di wilayah laut provinsi dan kabupaten/kota dengan   menggunakan kapal penangkap ikan, ukuran kapal yang diperbolehkan sesuai   dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: center; text-indent: -28.05pt;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Bagian Keenam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: center; text-indent: -28.05pt;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Penegakan Hukum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: center; text-indent: -28.05pt;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: center; text-indent: -28.05pt;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 26&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.05pt; text-align: center; text-indent: -28.05pt;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pemerintah   daerah melakukan penegakan hukum terhadap peraturan yang diterbitkan oleh   daerah dan/atau peraturan yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Setiap   orang yang mengetahui terjadinya pelanggaran dan/atau perbuatan pidana   terhadap kewenangan pemerintah dan pemerintah daerah yang berada di wilayah   laut berkewajiban melaporkan kepada aparat yang berwenang atau pemerintah   daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Bagian Ketujuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pemeliharaan Keamanan dan   Pertahanan Kedaulatan Negara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 27&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Gubernur   dan Bupati/Walikota serta setiap warga negara ikut serta dalam pemeliharaan   keamanan dan pertahanan kedaulatan negara di wilayah laut sesuai   kewenangannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pelaksanaan   keamanan dan pertahanan kedaulatan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)   dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;BAB V&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;PEMBERDAYAAN MASYARAKAT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 28&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;(1)&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Gubernur dan Bupati/Walikota dalam melakukan pengelolaan   sumber daya di wilayah laut harus melakukan pemberdayaan terhadap:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;nelayan   tradisional dan masyarakat pesisir; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;organisasi   masyarakat bidang kelautan; dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;lembaga   kemasyarakatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;(2)&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Pemberdayaan terhadap nelayan tradisional dan masyarakat   pesisir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan melalui   kegiatan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;sosialisasi   kebijakan pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota   mengenai kebijakan pengelolaan sumber daya di wilayah laut;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;bimbingan,   pelatihan dalam penggunaan teknologi tepat guna, penangkapan dan pengawetan   hasil tangkapan ikan serta pendampingan terhadap kegiatan budi daya;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;memfasilitasi   pembentukan koperasi nelayan yang bergerak dalam penyediaan sarana   penangkapan ikan/budi daya, pemasaran, dan simpan pinjam; dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 46.8pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;memfasilitasi   dengan pihak perbankan, koperasi, dan pengusaha ikan dalam penyediaan   permodalan atau pemberian kredit, pengadaan sarana penangkapan ikan dan budi   daya serta pemasaran hasil penangkapan ikan dan budi daya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;(3)&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Pemberdayaan terhadap organisasi masyarakat bidang kelautan   sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dilakukan melalui kegiatan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;sosialisasi   kebijakan pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota   mengenai pengelolaan sumber daya di wilayah laut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;bimbingan   dan pelatihan dalam penggunaan teknologi tepat guna, pengawetan ikan, dan   budi daya serta tata cara pembentukan koperasi; dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 46.8pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;sosialisasi   kebijakan dan tata cara pemeliharaan keamanan dan pertahanan kedaulatan negara   di wilayah laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;BAB VI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;PERAN SERTA MASYARAKAT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 29&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pemerintah   daerah mengikutsertakan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam setiap   kegiatan perencanaan dan pengelolaan sumber daya di wilayah laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.1pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pemerintah   daerah, badan hukum, dan individu yang melakukan pengelolaan sumber daya di   wilayah laut memperhatikan hukum adat dan kebiasaan yang berlaku pada   masyarakat setempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;BAB VII&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;PENDANAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 30&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Biaya   penyusunan dokumen rencana dan pengelolaan sumber daya di wilayah laut dapat   bersumber dari:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;APBN;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;APBD   Provinsi; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;APBD   Kabupaten/Kota; dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;sumber   lainnya yang sah dan tidak mengikat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;BAB VIII&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;PEMBINAAN DAN PENGAWASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 31&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Menteri   Dalam Negeri melakukan pembinaan dan pengawasan atas pengelolaan sumber daya   di wilayah laut yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah   Kabupaten/Kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pembinaan   sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;percepatan   penyusunan perencanaan dan pengelolaan sumber daya di wilayah laut;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;pemberdayaan   nelayan tradisional dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat   pesisir; dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;pemberdayaan   organisasi kemasyarakatan bidang kelautan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pengawasan   sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pelaksanaan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;percepatan   penyusunan perencanaan dan pengelolaan sumber daya di wilayah laut;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 3pt 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;pemberdayaan   nelayan tradisional dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat   pesisir; dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 46.75pt; text-align: justify; text-indent: -18.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;pemberdayaan   organisasi kemasyarakatan bidang kelautan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;BAB IX&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pasal 32&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal   ditetapkan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="margin-left: 297.8pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="231"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2" style="padding: 0cm 5.4pt; width: 173.3pt;" valign="top" width="231"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2" style="padding: 0cm 5.4pt; width: 173.3pt;" valign="top" width="231"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pada tanggal 15 April 2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 152.05pt;" valign="top" width="203"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;MENTERI   DALAM NEGERI&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 21.25pt;" valign="top" width="28"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 152.05pt;" valign="top" width="203"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"   lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 21.25pt;" valign="top" width="28"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 152.05pt;" valign="top" width="203"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"   lang="IT"&gt;ttd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 21.25pt;" valign="top" width="28"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 152.05pt;" valign="top" width="203"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"   lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 21.25pt;" valign="top" width="28"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 152.05pt;" valign="top" width="203"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;GAMAWAN FAUZI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 21.25pt;" valign="top" width="28"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 193&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-8324510920879288954?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/8324510920879288954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=8324510920879288954' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8324510920879288954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8324510920879288954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2010/07/permendagri-no-30-tahun-2010-tentang.html' title='Permendagri No 30 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan sumberdaya di wilayah laut'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-2952227043876960396</id><published>2010-07-05T10:14:00.002+07:00</published><updated>2010-07-05T10:21:26.726+07:00</updated><title type='text'>Informasi Jurnal Marine Policy</title><content type='html'>Salam Kepulauan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pengunjung blog yang memerlukan jurnal Marine Policy &lt;strong&gt;Volume 34, Issue 1, Pages 1-196 (January 2010)                          &lt;/strong&gt;silahkan klik link dibawah ini. Jurnal tersebut dapat didownload secara gratis, bagi yang tidak dapat mendownload jurnal tersebut silahkan kontak admin blog ini, mudah-mudahan kami dapat membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.sciencedirect.com/science?_ob=PublicationURL&amp;amp;_tockey=%23TOC%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_pubType=J&amp;amp;_auth=y&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=e4aa4d0fa162ea63049ba879da1d6310&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt;&lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4XC54B91" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 1. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4XC54B9-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=1&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=dd98713ea093f7601a97037d5464a069"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Editorial board/ aims and scope&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Page  IFC&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4XC54B9-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4XC54B9-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09001274&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=469d990d6d99af236b059366c218e93c','B6VCD-4XC54B9-1-abs','B6VCD-4XC54B9-1-figs','B6VCD-4XC54B9-1-refs','B6VCD-4XC54B9-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4XC54B9-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4XC54B9-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4XC54B9-1-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09001274&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=aef74de582e85714be7715d793d4e404&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (1533 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4XC54B9-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=9d156049bd3780181d2e3314080b59b8"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="margin: 2px;"&gt;&lt;div class="sectionH1 heading1" style="width: 100%; background-image: url(&amp;quot;/scidirimg/headerBG.gif&amp;quot;);"&gt; &lt;span style="padding: 2px;"&gt;Papers&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4W91CRJ1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 2. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W91CRJ-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=2&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=ccfd7adce0531d1c3ae7bab0e7544a0f"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Towards a ‘new form of governance’ in  science-policy relations in the European Maritime Policy&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages  1-6&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Jan-Stefan Fritz&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4W91CRJ-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4W91CRJ-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=2&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000505&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=32c1ac7afcf71708d1654249aa21b271','B6VCD-4W91CRJ-1-abs','B6VCD-4W91CRJ-1-figs','B6VCD-4W91CRJ-1-refs','B6VCD-4W91CRJ-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4W91CRJ-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4W91CRJ-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4W91CRJ-1-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000505&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=9177af5e85e4b193f4505bfbe347d61e&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (120 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W91CRJ-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=b6465310af4353d2bec8b7e7b23d0f75"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WD6Y1F1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 3. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WD6Y1F-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=3&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=b4703b64db3aa0825c5680fce49f59b3"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rational noncompliance and the liquidation  of Northeast groundfish resources&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 7-21&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dennis  M. King, Jon G. Sutinen&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WD6Y1F-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WD6Y1F-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=3&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000529&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=5bdfc41c1aec09da8489c762f85e6605','B6VCD-4WD6Y1F-1-abs','B6VCD-4WD6Y1F-1-figs','B6VCD-4WD6Y1F-1-refs','B6VCD-4WD6Y1F-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WD6Y1F-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WD6Y1F-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WD6Y1F-1-7&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000529&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=10e9ccc4b34d6aaa4e28386fd4b8e71d&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (492 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WD6Y1F-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=642365112e24f20cd05e132fce8cddfd"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WH0JWT1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 4. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WH0JWT-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=4&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=ec5035aba8ad180496a0f2bae15855ac"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Differences in livelihoods, socioeconomic  characteristics, and knowledge about the sea between fishers and  non-fishers living near and far from marine parks on the Kenyan coast&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages  22-28&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;J.E. Cinner, T.R. McClanahan, A. Wamukota&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WH0JWT-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WH0JWT-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=4&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000542&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=3de9beb8f9b93a318a13927959bace7e','B6VCD-4WH0JWT-1-abs','B6VCD-4WH0JWT-1-figs','B6VCD-4WH0JWT-1-refs','B6VCD-4WH0JWT-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WH0JWT-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WH0JWT-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WH0JWT-1-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000542&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=34f1e25c0a9405920e6c27e9a03553e4&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (138 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WH0JWT-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=fbe0a1a15c85f3193011fff7dba63a3d"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4W8KHT41" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 5. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W8KHT4-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=5&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=7b55abafec3f3c69785170df3cd67d6f"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Generating the evidence for marine fisheries  policy and management&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 29-35&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;John Holmes,  John Lock&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4W8KHT4-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4W8KHT4-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=5&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000554&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=7faa78384723936e5e84409d4057bdc1','B6VCD-4W8KHT4-1-abs','B6VCD-4W8KHT4-1-figs','B6VCD-4W8KHT4-1-refs','B6VCD-4W8KHT4-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4W8KHT4-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4W8KHT4-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4W8KHT4-1-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000554&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=54e867d69d33d07509f363c02b68648c&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (144 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W8KHT4-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=7bcc2d628abefc8828b120e1ad8a8f15"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4W9S2X71" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 6. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W9S2X7-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=6&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=f243b63b8b0528967143642f8b7e649d"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Venue shifts and policy change in EU  fisheries policy&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 36-41&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sebastiaan Princen&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4W9S2X7-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4W9S2X7-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=6&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000566&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=54f37b1811a59edeb8cdfef7e98223f5','B6VCD-4W9S2X7-1-abs','B6VCD-4W9S2X7-1-figs','B6VCD-4W9S2X7-1-refs','B6VCD-4W9S2X7-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4W9S2X7-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4W9S2X7-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4W9S2X7-1-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000566&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=f3f0cc4ec91cac903141d7890b30a702&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (131 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W9S2X7-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=845c7ffa15ed496a645effc1bbe2e0f4"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4W9V7KM1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 7. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W9V7KM-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=7&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=be690af984caed2ff71c636e5933fb41"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The economics of ending Canada's commercial  harp seal hunt&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 42-53&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;John Livernois&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4W9V7KM-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4W9V7KM-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=7&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000578&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=e19c9c40c649467d3a5e629ac27d4e1b','B6VCD-4W9V7KM-1-abs','B6VCD-4W9V7KM-1-figs','B6VCD-4W9V7KM-1-refs','B6VCD-4W9V7KM-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4W9V7KM-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4W9V7KM-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4W9V7KM-1-7&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000578&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=d29749fd012b0a382c7e245cc8dfa7af&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (282 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W9V7KM-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=fb8f02b1de9a4d311319b73739d39e03"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WBB7352" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 8. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WBB735-2&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=8&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=90310217feece144f15c7c4a0289818d"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;From community-based to centralised national  management—A wrong turning for the governance of the marine protected  area in Apo Island, Philippines?&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 54-62&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;E.J.  Hind, M.C. Hiponia, T.S. Gray&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WBB735-2','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WBB735-2&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=8&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X0900061X&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=b3e66dbe63bc443c0315ecf3caa2fcb2','B6VCD-4WBB735-2-abs','B6VCD-4WBB735-2-figs','B6VCD-4WBB735-2-refs','B6VCD-4WBB735-2-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WBB735-2-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WBB735-2" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WBB735-2-7&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X0900061X&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=f577fee90a295739ecaa02e15df0d3b6&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (281 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WBB735-2&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=be4d6f7f37ab03d837545a5c45e8f842"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WBB7353" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 9. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WBB735-3&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=9&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=a51776b5b6ea0068847c55574e1fd473"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;User fees as sustainable financing  mechanisms for marine protected areas: An application to the Bonaire  National Marine Park&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 63-69&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Steven M. Thur&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WBB735-3','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WBB735-3&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=9&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000657&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=d19d8679738e461912be10571f9e7c73','B6VCD-4WBB735-3-abs','B6VCD-4WBB735-3-figs','B6VCD-4WBB735-3-refs','B6VCD-4WBB735-3-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WBB735-3-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WBB735-3" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WBB735-3-3&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000657&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=0c9780332257a5f24fbde05eab487c33&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (169 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WBB735-3&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=8c3f39ef152ca3d0bfe9e288bcfab953"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WBB7354" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 10. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WBB735-4&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=10&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=05dd7c7b21705baa9eb422f202a61130"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fishing capacity management in Taiwan:  Experiences and prospects&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 70-76&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Hsiang-Wen  Huang, Ching-Ta Chuang&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WBB735-4','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WBB735-4&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=10&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000669&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=1afed0ff4445c0378a5f1d0e2813b44d','B6VCD-4WBB735-4-abs','B6VCD-4WBB735-4-figs','B6VCD-4WBB735-4-refs','B6VCD-4WBB735-4-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WBB735-4-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WBB735-4" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WBB735-4-7&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000669&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=7c8e1a16ca09d9beccb20dc791306d6b&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (198 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WBB735-4&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=7b51271c129b3ca5bcd291f35c4aa6a7"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4W9S2X72" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 11. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W9S2X7-2&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=11&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=3de7c4dd294c22a0ba0340895fcde1e3"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fishing institutions: Addressing regulative,  normative and cultural-cognitive elements to enhance fisheries  management&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 77-84&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Maricela de la  Torre-Castro, Lars Lindström&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4W9S2X7-2','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4W9S2X7-2&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=11&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000670&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=ee30480882a28fc2ffe3763b1cd36575','B6VCD-4W9S2X7-2-abs','B6VCD-4W9S2X7-2-figs','B6VCD-4W9S2X7-2-refs','B6VCD-4W9S2X7-2-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4W9S2X7-2-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4W9S2X7-2" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4W9S2X7-2-3&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000670&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=fdb28c89fdc12dcb74e7ec8abb726379&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (218 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W9S2X7-2&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=305481e991bd9411484003e3d2459d6d"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WBB7355" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 12. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WBB735-5&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=12&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=00f46da98709f5e40d0deda476d90cae"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A collective approach to Pacific islands  fisheries management: Moving beyond regional agreements&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages  85-91&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Quentin Hanich, Feleti Teo, Martin Tsamenyi&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WBB735-5','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WBB735-5&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=12&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000700&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=7e86cf82a1d507de3aa8a32223a0e084','B6VCD-4WBB735-5-abs','B6VCD-4WBB735-5-figs','B6VCD-4WBB735-5-refs','B6VCD-4WBB735-5-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WBB735-5-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WBB735-5" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WBB735-5-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000700&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=cd9f3cf36f08fb64bf457a26d51ba140&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (138 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WBB735-5&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=270da7eb11e7c0093324750724b3c267"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WFPPMP1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 13. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WFPPMP-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=13&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=7ff11a448da47607e29656b189bdbd88"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Banking on  cod:&lt;/span&gt; Exploring economic incentives for recovering Grand Banks and  North Sea cod fisheries&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 92-98&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;R.W.D.  Davies, R. Rangeley&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WFPPMP-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WFPPMP-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=13&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000712&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=bf12eca29f7f1558f3acd83fe6bdb051','B6VCD-4WFPPMP-1-abs','B6VCD-4WFPPMP-1-figs','B6VCD-4WFPPMP-1-refs','B6VCD-4WFPPMP-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WFPPMP-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WFPPMP-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WFPPMP-1-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000712&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=d309da822f2a81b662020db9d96403c0&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (149 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WFPPMP-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=adfd497e26efaed98473a4bebd871113"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WCK0DP3" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 14. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WCK0DP-3&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=14&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=13073a28d5be3bbf05758a8aed9ce3f0"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Policy implications of protected area  discourse in the Pacific islands&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 99-104&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;C.Y.  Bartlett, T. Maltali, G. Petro, P. Valentine&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WCK0DP-3','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WCK0DP-3&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=14&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000724&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=f97580f17844205277e1b7fe92123a18','B6VCD-4WCK0DP-3-abs','B6VCD-4WCK0DP-3-figs','B6VCD-4WCK0DP-3-refs','B6VCD-4WCK0DP-3-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WCK0DP-3-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WCK0DP-3" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WCK0DP-3-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000724&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=b0923cda5a2728f1eb7200673fe583e6&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (148 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WCK0DP-3&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=5430f51298cc3e9e655dfaa1206df2e0"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WDNBY41" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 15. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WDNBY4-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=15&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=1a88e2589116973adefa64cd797506f5"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tuna dreams and tuna realities: Defining the  term “maximising economic returns from the tuna fisheries” in six  Pacific Island states&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 105-113&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Hannah  Parris&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WDNBY4-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WDNBY4-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=15&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000736&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=68155cbacc57cf01dbe4c77d7e1563b1','B6VCD-4WDNBY4-1-abs','B6VCD-4WDNBY4-1-figs','B6VCD-4WDNBY4-1-refs','B6VCD-4WDNBY4-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WDNBY4-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WDNBY4-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WDNBY4-1-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000736&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=ed780c4dc47131b38eea1e918efe4c60&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (152 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WDNBY4-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=c73f3b0624153e19c21a097d75d82996"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WD6Y1F2" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 16. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WD6Y1F-2&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=16&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=20a02e03319507e3945ff25a3d5e2f00"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Accounting for indirect effects and  non-commensurate values in ecosystem based fishery management (EBFM)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages  114-119&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kate Richerson, Phillip S. Levin, Marc Mangel&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WD6Y1F-2','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WD6Y1F-2&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=16&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000748&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=fe1189cd202a95f2f5d70f8a68b71ed0','B6VCD-4WD6Y1F-2-abs','B6VCD-4WD6Y1F-2-figs','B6VCD-4WD6Y1F-2-refs','B6VCD-4WD6Y1F-2-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WD6Y1F-2-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WD6Y1F-2" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WD6Y1F-2-9&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000748&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=3dca5e765670a906d7d0128374409980&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (283 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WD6Y1F-2&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=b439400f8f40506dc65ea97caeb6e6fe"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WGJKT01" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 17. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WGJKT0-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=17&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=d41bb78ab82040a47f8f6be2165daa65"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Artisanal fishing in Andalusia (and III):  “The Day After…”&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 120-132&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Francisco  Piniella, Milagrosa Casimiro Soriguer, Francisco Pastoriza&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WGJKT0-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WGJKT0-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=17&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000852&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=34b5358f086ac22abdf38e47aaee7b22','B6VCD-4WGJKT0-1-abs','B6VCD-4WGJKT0-1-figs','B6VCD-4WGJKT0-1-refs','B6VCD-4WGJKT0-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WGJKT0-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WGJKT0-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WGJKT0-1-T&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000852&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=a661c935f9017aa88140707a30c7c974&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (596 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WGJKT0-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=3a80945064727f1043bba2f5ec8c5643"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WJG8T91" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 18. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WJG8T9-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=18&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=8c5567dd09e21fce54c0cd9dd0ad6c7c"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A tenuous triumvirate: The role of  independent biologists in Chile's co-management regime for shellfish&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages  133-138&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sarah Schumann&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WJG8T9-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WJG8T9-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=18&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000864&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=5c7c2ace34e0e41f82d6b89dd682811b','B6VCD-4WJG8T9-1-abs','B6VCD-4WJG8T9-1-figs','B6VCD-4WJG8T9-1-refs','B6VCD-4WJG8T9-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WJG8T9-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WJG8T9-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WJG8T9-1-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000864&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=f3b888dc8126ffcce165e7c5c7915f26&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (126 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WJG8T9-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=b62a2799d9b5f3b81c8f4817028f97cd"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WJG8T92" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 19. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WJG8T9-2&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=19&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=648cc15c0c65bfae15b6a1591cf74b49"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Citation analysis for the 1995 FAO Code of  Conduct for Responsible Fisheries&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 139-144&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Joan  Parker, David Doulman, Jean Collins&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WJG8T9-2','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WJG8T9-2&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=19&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000876&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=955fd8571c67331a18ea834e664d1530','B6VCD-4WJG8T9-2-abs','B6VCD-4WJG8T9-2-figs','B6VCD-4WJG8T9-2-refs','B6VCD-4WJG8T9-2-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WJG8T9-2-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WJG8T9-2" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WJG8T9-2-C&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000876&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=ba70a6ffb05c5585c0ff7d99f2699912&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (222 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WJG8T9-2&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=46f3cfe582316f5436c513f51e4d42c9"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WR2C5K1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 20. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WR2C5K-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=20&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=a08977d3bcb7e57490e01c7a6672d277"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sea turtle bycatch to fish catch ratios for  differentiating Hawaii longline-caught seafood products&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages  145-149&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Paul K. Bartram, J. John Kaneko, Katrina Kucey-Nakamura&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WR2C5K-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WR2C5K-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=20&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000888&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=cb7e664bba08d0d9c05de4b25b29b945','B6VCD-4WR2C5K-1-abs','B6VCD-4WR2C5K-1-figs','B6VCD-4WR2C5K-1-refs','B6VCD-4WR2C5K-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WR2C5K-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WR2C5K-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WR2C5K-1-5&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000888&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=23cfef62061169ad6da25ff4ae24343b&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (157 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WR2C5K-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=29260d98a9c7a402d8d7b00ff9e2ece6"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WK4B5R1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 21. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WK4B5R-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=21&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=e968fe3c506c2097aa155f55bb826769"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Factors influencing participation of  ‘top-down but voluntary’ fishery management—Empirical evidence from  Taiwan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 150-155&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Chung-Ling Chen&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WK4B5R-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WK4B5R-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=21&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X0900089X&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=d6de5c309c0967b7fa0902fe98d05c23','B6VCD-4WK4B5R-1-abs','B6VCD-4WK4B5R-1-figs','B6VCD-4WK4B5R-1-refs','B6VCD-4WK4B5R-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WK4B5R-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WK4B5R-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WK4B5R-1-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X0900089X&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=a2409045b36b5c1ab72b07fc71fa3d54&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (124 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WK4B5R-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=d634085aa0373dc6307019a0105d23df"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WRKF9H1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 22. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WRKF9H-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=22&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=523257adf649a3fb29f8ad0b395dcac7"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Economic tradeoffs in the Gulf of Maine  ecosystem: Herring and whale-watching&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 156-162&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Min-Yang  Lee&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WRKF9H-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WRKF9H-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=22&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000906&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=261f9100b7e3308b77da7309e00f9b17','B6VCD-4WRKF9H-1-abs','B6VCD-4WRKF9H-1-figs','B6VCD-4WRKF9H-1-refs','B6VCD-4WRKF9H-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WRKF9H-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WRKF9H-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WRKF9H-1-7&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000906&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=3b7fcc6b6e6084a8a3b85a299b35d383&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (259 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WRKF9H-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=a80c15e0b3775bc268f5dc1584b60203"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WTHB6J1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 23. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WTHB6J-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=23&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=fd61bccac1be36126f76039eef59319c"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Community involvement in fisheries  management: Experiences in the Gulf of Thailand countries&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages  163-169&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Nopparat Nasuchon, Anthony Charles&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WTHB6J-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WTHB6J-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=23&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000918&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=63cda107c0a8fa3f56af33fbf2e25f89','B6VCD-4WTHB6J-1-abs','B6VCD-4WTHB6J-1-figs','B6VCD-4WTHB6J-1-refs','B6VCD-4WTHB6J-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WTHB6J-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WTHB6J-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WTHB6J-1-5&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000918&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=0f2eb01b3394c64c46a375dce8769466&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (195 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WTHB6J-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=61be47e52bee0049ce0d8b433ce90069"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WNGDFR1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 24. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WNGDFR-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=24&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=a57b473fd18b6eb3f404b0dc7958e627"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;How will climate change alter fishery  governance&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/entities/294.gif" alt="glottal stop" title="glottal stop" /&gt; Insights from seven  international case studies&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 170-177&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Alistair  McIlgorm, Susan Hanna, Gunnar Knapp, Pascal Le Floc’H, Frank Millerd,  Minling Pan&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WNGDFR-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WNGDFR-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=24&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X0900092X&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=64c30e5ab8ad1477ad139f6feef8ef1d','B6VCD-4WNGDFR-1-abs','B6VCD-4WNGDFR-1-figs','B6VCD-4WNGDFR-1-refs','B6VCD-4WNGDFR-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WNGDFR-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WNGDFR-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WNGDFR-1-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X0900092X&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=fcf8dc726ec3e052c58758ae5c8937a7&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (150 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WNGDFR-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=5a75967566f1dff1849167d7fd7d5fc6"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WMD2P31" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 25. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WMD2P3-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=25&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=27cb36b9b717614cbb9cc0ddc0a0e4ef"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ecosystem-based management institutional  design: Balance between federal, state, and local governments within the  Gulf of Mexico Alliance&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages 178-181&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Cristina  Carollo, Dave J. Reed&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WMD2P3-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WMD2P3-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=25&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000931&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=68a4f5aa59158734d6b4793385c0292c','B6VCD-4WMD2P3-1-abs','B6VCD-4WMD2P3-1-figs','B6VCD-4WMD2P3-1-refs','B6VCD-4WMD2P3-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WMD2P3-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WMD2P3-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WMD2P3-1-1&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000931&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=800765666ad2135a91fe3ae29a930adf&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (121 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WMD2P3-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=601885ac7fcc70842f69bfd0cdd12c55"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WNPDPM1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 26. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WNPDPM-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=26&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=041e1105ddea523a8d19263c36fde7b8"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dysfunctions in common fishing regulations&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages  182-188&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Fernando González Laxe&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WNPDPM-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WNPDPM-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=26&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000943&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=97edffbf83ca1ec24aa56e23ada242ab','B6VCD-4WNPDPM-1-abs','B6VCD-4WNPDPM-1-figs','B6VCD-4WNPDPM-1-refs','B6VCD-4WNPDPM-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WNPDPM-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WNPDPM-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WNPDPM-1-3&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000943&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=345d36043b1317c6961a6fce6ee0b802&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (175 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WNPDPM-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=074267ce7f4e02b2d2f558bccf679ae8"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="margin: 2px;"&gt;&lt;div class="sectionH1 heading1" style="width: 100%; background-image: url(&amp;quot;/scidirimg/headerBG.gif&amp;quot;);"&gt; &lt;span style="padding: 2px;"&gt;Short Communications&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4WCK0DP1" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 27. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WCK0DP-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=27&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=2f318e11ec9bfb0c32419e2c18666d63"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fisheries traffic: The poor relation of port  devolution. Lessons from Spanish state ports of general interest&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages  189-192&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;José I. Castillo-Manzano, David Florido-Del-Corral,  Lourdes Lopez-Valpuesta&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4WCK0DP-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4WCK0DP-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=27&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000517&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=f8a1264f288bcb65906f7a9fbcc799ec','B6VCD-4WCK0DP-1-abs','B6VCD-4WCK0DP-1-figs','B6VCD-4WCK0DP-1-refs','B6VCD-4WCK0DP-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4WCK0DP-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4WCK0DP-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4WCK0DP-1-3&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000517&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=269a8705fced821976431540795e8809&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (161 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4WCK0DP-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=188830c9cc63367f3ac68bb2825d1766"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="resultRow" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" width="5%" align="left"&gt; &lt;table width="100%" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="80%" align="left"&gt;&lt;input name="art" value="B6VCD4W99NT81" type="checkbox"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="20%" align="left"&gt; 28. &lt;/td&gt; &lt;td width="5%"&gt;&lt;img src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/sci_dir/jrn_sub.gif" alt="You are entitled to access the full text of this document" title="You are entitled to access the full text of this document" width="12" border="0" height="14&amp;quot;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td colspan="2" width="95%" align="left"&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W99NT8-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=28&amp;amp;_fmt=high&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info%28%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume%29&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=b0f64df758503d61fcfa458db70957da"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pretty Good Yield and exploited fishes&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pages  193-196&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Ray Hilborn&lt;br /&gt;&lt;span class="nojs"&gt;&lt;a href="javascript:openPreview('B6VCD-4W99NT8-1','http://www.sciencedirect.com/science/preview/abstract?_udi=B6VCD-4W99NT8-1&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_rdoc=28&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_srch=doc-info(%23toc%235952%232010%23999659998%231528283%23FLA%23display%23Volume)&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_sort=d&amp;amp;_docanchor=&amp;amp;_ct=28&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_urlVersion=0&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;_fmt=full&amp;amp;_pii=S0308597X09000682&amp;amp;_issn=0308597X&amp;amp;md5=55444c0784b8d203386e35531952ef2f','B6VCD-4W99NT8-1-abs','B6VCD-4W99NT8-1-figs','B6VCD-4W99NT8-1-refs','B6VCD-4W99NT8-1-img','/scidirimg/preview_off.gif','/scidirimg/preview_on.gif')"&gt;&lt;img id="B6VCD-4W99NT8-1-img" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/preview_off.gif" alt="Open" title="Open" name="imgB6VCD-4W99NT8-1" border="0" /&gt; Preview&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&amp;amp;_imagekey=B6VCD-4W99NT8-1-9&amp;amp;_cdi=5952&amp;amp;_user=9396822&amp;amp;_pii=S0308597X09000682&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_coverDate=01%2F31%2F2010&amp;amp;_sk=999659998&amp;amp;view=c&amp;amp;wchp=dGLzVzb-zSkzV&amp;amp;md5=f6d019fa647acb7e822c94274d549c66&amp;amp;ie=/sdarticle.pdf" target="newPdfWin" onclick="var  newWidth=((document.body.clientWidth*90)/100); var  newHeight=document.body.clientHeight; var pdfWin;  pdfWin=window.open('','newPdfWin','width='+newWidth+',height='+newHeight+',resizable=yes,  left=50, top=50');pdfWin.focus()"&gt;&lt;img name="pdf" style="vertical-align: middle;" src="http://www.sciencedirect.com/scidirimg/icon_pdf.gif" alt="" border="0" /&gt; PDF (210 K)&lt;/a&gt;  | &lt;a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=RelatedArtURL&amp;amp;_udi=B6VCD-4W99NT8-1&amp;amp;_orig=browse&amp;amp;_acct=C000050221&amp;amp;_version=1&amp;amp;_userid=9396822&amp;amp;md5=defbc49b865c47ed6337203f88722dfd"&gt;Related  Articles&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-2952227043876960396?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/2952227043876960396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=2952227043876960396' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/2952227043876960396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/2952227043876960396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2010/07/informasi-jurnal-marine-policy.html' title='Informasi Jurnal Marine Policy'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-8752294665725181229</id><published>2010-06-10T09:26:00.000+07:00</published><updated>2010-06-10T09:27:03.924+07:00</updated><title type='text'>Ekonomi Perikanan dan Kesejahteraan Nelayan</title><content type='html'>Rabu, 09 Juni 2010 13:42&lt;br /&gt;Ekonomi Perikanan dan Kesejahteraan Nelayan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLEH: SUHANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan eko­nomi per­ikanan pa­da triwulan I-2010 belum menunjuk­kan ada­nya perbaikan yang signifikan diban­dingkan periode yang sama pada tahun 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat ditunjukkan dengan beberapa indikator, yaitu total investasi, jumlah kapasitas produksi terpakai pada industri perikanan, nilai ekspor dan kesejahteraan nelayan, serta pembudi daya ikan.&lt;br /&gt;Hal ini perlu mendapat perhatian serius agar target pembangunan kelautan dan per­ikanan tahun 2010 dapat ter­­wujud dengan baik. Oleh sebab itu, berbagai terobosan dan perbaikan di internal bi­rokrasi kelautan dan perikanan hen­dak­nya terus dilakukan. Te­muan Badan Pemeriksa Ke­uangan (BPK) tahun 2010 mem­perlihatkan masih ba­nyak­nya kelemahan dalam ma­najemen pengelolaan per­ika­nan yang dilakukan Kemen­terian Kelautan dan Perikanan.&lt;br /&gt;Data Badan Koordinasi Pe­nanaman Modal (BKPM) 2010 menunjukkan bahwa total in­vestasi di sektor perikanan pa­da triwulan I-2010 mencapai US$ 1,3 juta atau setara Rp 11,96 miliar—asumsi nilai tu­kar rupiah terhadap dolar AS Rp 9200. Jumlah ini menurun 48,42 persen dibandingkan triwulan I-2009 yang mencapai Rp 24,7 miliar. Selain itu, data BKPM (2010) memperlihatkan bahwa total investasi sektor perikanan triwulan I-2010 ter­sebut seratus persen merupakan investasi asing (penanaman modal asing/PMA). Se­men­tara itu, pada triwulan I-2009 investasi sektor perikanan seratus persen bersumber dari dalam negeri (penanaman modal dalam negeri/PMDN).&lt;br /&gt;Hal ini membuktikan bah­wa minat investor dalam negeri belum membaik sejak triwulan II-2009, sementara kepercayaan investor asing cenderung meningkat sejak triwulan IV-2009. Memburuknya minat investor dalam negeri tersebut hendaknya menjadi perhatian utama pemerintah agar potensi sumber daya ke­lautan dan perikanan Indo­nesia dapat dinikmati ma­syarakat Indonesia. Hal ini pun sesuai dengan amanat Pasal 33 (3) UUD 1945 yang menyata­kan bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya ke­mak­muran rakyat.”&lt;br /&gt;Perlu diakui bahwa untuk saat ini, meningkatnya kepercayaan investor asing di sektor perikanan sejak triwulan IV-2009 sangat membantu dalam peningkatan kegiatan usaha perikanan. Data Bank Indo­nesia menunjukkan bahwa ka­pasitas produksi yang terpakai pada industri perikanan pada triwulan I-2010 meningkat sebesar 86,72 persen, diban­dingkan periode yang sama ta­hun 2009. Nilai kapasitas produksi terpakai industri per­ikanan pada triwulan I-2010 mencapai 79,14 persen, sementara triwulan I-2009 hanya mencapai 68,63 persen. Gairah industri perikanan ini hendaknya terus dioptimalkan agar target peningkatan nilai ekspor perikanan nasional da­pat tercapai secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan Ekspor&lt;br /&gt;Pertumbuhan nilai rata-rata ekspor produk perikanan pada triwulan I-2010 diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 34,73 persen diban­dingkan periode yang sama pada tahun 2009. Menurut data Badan Pusat Statistik (2009) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (2010), rata-rata nilai ekspor produk perikanan triwulan I-2010 diperkirakan mencapai US$ 184.408.666,66, se­mentara  nilai rata-rata ek­spor produk perikanan triwulan I-2009 mencapai US$ 136.877.399,66.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, perkiraan nilai ekspor triwulan I-2010 tersebut masih jauh dari target nilai ekspor produk perikanan tahun 2010 yang mencapai US$ 2,9 miliar. Oleh sebab itu, diperlukan upaya ekstra untuk terus memperbaiki mutu hasil produk per­ikanan nasional. Temuan BPK (2010) memperlihatkan, pe­ngem­bangan sarana dan prasarana sistem rantai dingin (cold chain system) selama ini di beberapa wilayah tidak dimanfaatkan secara efektif untuk memperbaiki kualitas produk perikanan. Selain itu, juga banyak peralatan pada Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Per­ikanan (LPPMHP) rusak dan belum dimanfaatkan secara optimal.&lt;br /&gt;Di sisi lain, meningkatnya investasi asing di sektor per­ikanan ternyata belum ber­dampak signifikan terhadap kesejahteraan nelayan Indo­nesia. Hal ini disebabkan be­sarnya investasi asing tersebut tidak diikuti dengan me­ningkatnya penyerapan tenaga perikanan dari nelayan. Bahkan, tidak sedikit perusahaan perikanan yang masih menggunakan tenaga kerja asing di atas 30 persen sesuai ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;Temuan BPK (2010) memperlihatkan bahwa masih banyak perusahaan perikanan, khususnya perikanan tangkap, yang memperkerjakan tenaga asing di atas 80 persen. Pa­dahal, dalam Peraturan Men­teri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2009 tentang Usaha Perikanan Tangkap, tenaga asing yang dibolehkan maksimal 30 persen. Besarnya porsi tenaga asing tersebut, menurut BPK, berdampak pada berkurangnya kesempa­tan kerja bagi tenaga kerja Indonesia, khususnya nelayan nasional dan berkurangnya pe­nerimaan negara dari Pe­nerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).&lt;br /&gt;Berkurangnya kesempatan kerja untuk nelayan nasional tersebut sangat berpengaruh terhadap belum meningkatnya kesejahteraan nelayan. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan nilai tukar nelayan yang belum mengalami pening­katan. Nilai Tukar Nelayan dan Pembudi Daya Ikan (NTN) triwulan I-2010 rata-rata hanya 105,35. Pertumbuhan NTN ini menurun 0,07 persen diban­dingkan periode yang sama pada tahun 2009, yang mencapai 105,39. Penurunan ini meng­indikasikan bahwa kesejahteraan nelayan cenderung belum mengalami pening­katan. Hal ini disebabkan, selain minimnya kesempatan kerja bagi nelayan, juga karena sampai saat ini pemerintah belum berperan banyak dalam menurunkan biaya produksi perikanan. Hal ini terlihat dari terus meningkatnya harga pa­kan dan kurangnya pasokan ba­han bakar minyak untuk ne­layan dan pembudi daya ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbaikan Menyeluruh&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut, guna meningkatkan kinerja ekonomi perikanan nasional dan kesejahteraan nelayan ser­ta pembudi daya ikan, diperlukan upaya komprehensif mulai dari perbaikan iklim investasi dalam negeri, keberpihakan terhadap tenaga kerja nasional, peningkatan mutu produk perikanan, dan penuru­nan biaya produksi perikanan.&lt;br /&gt;Dalam memperbaiki iklim investasi dalam negeri, pemerintah perlu meminimalkan besarnya biaya transaksi yang selama ini dikeluhkan para investor. Sementara itu, guna meningkatkan penyerapan te­naga kerja nasional, pemerintah perlu menindak tegas perusahaan perikanan yang memperkerjakan tenaga kerja asing di atas 30 persen, sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia.&lt;br /&gt;Dalam upaya mening­katkan mutu hasil perikanan, pemerintah perlu mendorong pemerintah daerah agar dapat mengoptimalkan sarana dan prasarana cold chain system yang telah dibangun selama ini. Selain itu, juga diperlukan perbaikan dan perbanyakan pe­ralatan pada LPPMHP. Pe­nurunan biaya produksi per­ikanan dapat dilakukan de­ngan terus meningkatkan jumlah dan kualitas pelayanan stasiun pengisian bahan bakar khusus untuk nelayan dan pembudi daya ikan di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini di­maksudkan agar para nelayan dan pembudi daya ikan dapat membeli bahan bakar solar sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah.&lt;br /&gt;Selain itu, pemerintah perlu mendorong terwujudnya ru­mah-rumah pakan ikan yang dikelola setiap kelompok pembudi daya ikan dengan bahan baku lokal. Dengan begitu, mereka tidak tergantung lagi pada pakan pabrik yang harganya jauh dari jangkauan mereka. Tanpa adanya upaya perbaikan yang menyeluruh, dikhawatirkan kinerja ekonomi perikanan dan nasib ne­layan serta pembudi daya ikan tidak akan meningkat. Aki­batnya, target pembangunan kelautan dan perikanan tidak akan tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/ekonomi-perikanan-dan-kesejahteraan-nelayan/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-8752294665725181229?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/8752294665725181229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=8752294665725181229' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8752294665725181229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/8752294665725181229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2010/06/ekonomi-perikanan-dan-kesejahteraan.html' title='Ekonomi Perikanan dan Kesejahteraan Nelayan'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-7647953879601173343</id><published>2010-03-23T12:24:00.000+07:00</published><updated>2010-03-23T12:25:08.074+07:00</updated><title type='text'>Ekosistem Rusak, Penebaran Benih Sia-sia</title><content type='html'>Ekosistem Rusak, Penebaran Benih Sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 23 Maret 2010 | 04:11 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Program pemerintah untuk penebaran kembali benih ikan di perairan umum, seperti waduk, sungai, dan danau, tidak akan efektif jika ekosistem perairan telanjur rusak. Penebaran kembali benih ikan akan efektif jika hutan dan kawasan di sekitar sungai diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dikemukakan Kepala Riset Pusat Kajian Sumber Daya Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana di Jakarta, Senin (22/3). Dia menjelaskan, ekosistem di sejumlah daerah aliran sungai saat ini rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu, kata Suhana, dampak dari kerusakan hutan dan lingkungan sekitar perairan. Selain itu, masih banyak sungai yang difungsikan sebagai tempat pembuangan sampah serta limbah rumah tangga ataupun pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhana mengingatkan, dalam program penebaraan kembali benih ikan (restocking), benih ikan yang ditebar harus merupakan benih asli sungai tersebut agar tidak mengganggu habitatnya. Oleh sebab itu, perlu keterlibatan masyarakat lokal dalam menentukan benih yang akan ditebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, benih ikan yang ditebar kembali pada 2009 berkisar 7-8 juta ekor ikan. Benih ikan itu ditebar, antara lain, di Waduk Jatiluhur, Waduk Cirata, dan Danau Batur. Jumlah itu belum termasuk benih ikan yang ditebar oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, misalnya, melakukan penebaran kembali benih ikan nila dan mas 2 juta ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penebaran benih ikan itu dilakukan di Danau Tempe 1,3 juta ekor dan 700.000 ekor di 10 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, seperti Kabupaten Tana Toraja, Luwu, Pinrang, dan Kabupaten Gowa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danau Tempe luasnya 30.000 hektar pada musim hujan dan 10 ribu hektar pada musim kemarau. Jenis ikan habitat asli Danau Tempe adalah ikan betok, sidat, nila, mas, lele, tawes, dan betutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan perikanan yang tidak bertanggung jawab di Danau Tempe dalam beberapa tahun terakhir memicu kerusakan lingkungan perairan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Made L Nurdjana mengemukakan, upaya penebaran kembali benih ikan tidak hanya untuk memperkaya stok ikan. Kegiatan ini juga memperbaiki daya dukung perairan yang rusak akibat endapan kotoran dan sisa pakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penumpukan kotoran dan sisa pakan di perairan umum kerap terjadi akibat dari maraknya pertumbuhan budidaya keramba jaring apung. Oleh karena itu, kata Made, pengembangan keramba jaring apung butuh penebaran benih ikan secara berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, penebaran benih ikan harus didahului dengan survei kelayakan lingkungan sekitar perairan dan pemilihan spesies yang tidak merusak lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau lingkungan perairan telanjur rusak, restocking ikan tidak efektif dilakukan,” ungkap Made. (LKT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/23/04113572/ekosistem..rusak.penebaran..benih.sia-sia..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-7647953879601173343?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/7647953879601173343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=7647953879601173343' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/7647953879601173343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/7647953879601173343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2010/03/ekosistem-rusak-penebaran-benih-sia-sia.html' title='Ekosistem Rusak, Penebaran Benih Sia-sia'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-1429158046199983815</id><published>2010-03-22T06:04:00.000+07:00</published><updated>2010-03-22T06:05:02.744+07:00</updated><title type='text'>70 Persen Hutan Mangrove Rusak</title><content type='html'>70 Persen Hutan Mangrove Rusak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 22 Maret 2010&lt;br /&gt;Kelautan dan Perikanan I Pendapatan Nelayan Semakin Merosot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merehabilitasi sekitar 2,25 juta ha hutan mangrove yang rusak, dibutuhkan anggaran sekitar 2.225 triliun rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan hutan mangrove dalam kondisi yang memprihatinkan. Malah, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) memperkirakan luas hutan mangrove di Indonesia menyusut dengan sangat drastis dari 4,25 juta ha pada 1982 menjadi kurang dari 1,9 juta ha pada 2010 atau bekurang 2,25 juta ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rusaknya hutan pencegah banjir tersebut berakibat pada terputusnya rantai penghidupan dan obat-obatan masyarakat pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, musnahnya produktivitas perikanan dan hilangnya habitat pesisir lainnya kian meningkatkan kerentanan masyarakat pesisir atas badai dan gelombang tinggi,” ujar M Riza Damanik, Sekretaris Jenderal Kiara, di Jakarta, Minggu (21/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam logika Lembaga Pengkajian dan Pengembangan (LPP) Mangrove Indonesia, untuk merehabilitasi hutan mangrove di Jakarta yang digunakan untuk areal tambak dengan luas 1x4 meter sedalam 1,5 meter dibutuhkan biaya 10 juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, untuk merehabilitasi sekitar 2,25 juta hektare hutan mangrove yang berkurang itu, dibutuhkan anggaran sekitar 5.625 triliun rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat 4,51 juta hektare lahan mangrove mengalami kerusakan skala sedang dan 2,15 juta hektare rusak parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan secara tidak langsung berdampak pada merosotnya pendapatan nelayan karena mangrove tidak lagi menjadi tempat berpijah dan berkembang biak bagi ikan. Ikan hilang, wilayah tangkapan nelayan pun semakin jauh ke tengah laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKP juga sudah mengalokasikan 10 juta bibit untuk mempercepat gerakan menanam mangrove nasional. Program itu diharapkan mampu meminimalisasi kerusakan. Pasalnya, dari 9,36 juta hektare luas hutan mangrove, 70 persennya telah rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu, nelayan masih bisa menangkap ikan di sekitar pantai yang ditumbuhi mangrove. Sekarang, nelayan harus melaut sejauh 12 mil dari pantai untuk mendapatkan ikan,” kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) wilayah Jakarta, Tri Sukmono, kepada Koran Jakarta, Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas mangrove di Jakarta awalnya mencapai 18 kilometer yang membentang di sepanjang pantai mulai dari Muara Angke sampai Muara Kamal, namun saat ini hanya tersisa tiga kilometer di wilayah Muara Angke. Akibat hilangnya hutan mangrove itu, kata Tri, nelayan sulit menangkap ikan di pinggir pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tahun 1990-an, kata Tri, nelayan Jakarta masih mampu menangkap berbagai jenis ikan di sekitar hutan mangrove, namun saat ini hanya ikan kembung yang bisa ditangkap, itu pun tidak setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menangkap ikan semakin sulit, dan pendapatan nelayan tidak seberapa karena volume ikan yang ditangkap menyusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling yang ditangkap ikan kembung dengan harga jual 13 ribu per kilogram. Udang dan kakap merah sudah tidak ditemukan di pinggiran pantai,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, kerusakan mangrove dipicu ulah manusia yang mengonversi hutan mangrove menjadi permukiman, lokasi rekreasi, kawasan industri, dan pemanfaatan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, dari 9,36 juta hektare hutan mangrove, 70 persennya mengalami kerusakan dengan komposisi 4,51 juta hektare rusak sedang dan 2,15 juta hektare rusak parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah kerusakan itu, KKP menyiapkan upaya rehabilitasi lahan mangrove. “Kita sudah alokasikan 10 juta bibit mangrove di tingkat nasional. Angka itu masih kurang. Seharusnya sampai 100 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tingkat abrasi laut yang pesat, maka kita perlu segera lakukan rehabilitasi,” katanya seusai menyerahkan 100 ribu bibit mangrove dalam jambore tanam mangrove di Pekalongan, Jumat (19/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadel meyebut dari 530 kilometer lahan mangrove yang membentang di pantai utara Jawa, tercatat 700-800 hektare lahan telah mengalami kerusakan, dan tingkat kerusakan terparah berada di Jawa Tengah dengan panjang pantai 325 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KKP, kata Fadel, menggandeng Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk melakukan rehabilitasi lahan mangrove. Salah satu yang dilakukan ialah menggelar jambore mangrove untuk menggelorakan penanaman mangrove di Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsisten Menjaga Sementara itu, seusai menghadiri jambore tanam mangrove yang melibatkan ribuan masyarakat di pantai Depok, Kabupaten Pekalongan, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo meminta nelayan konsisten menjaga mangrove yang sudah ditanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya minta bantuan mangrove tidak hanya seremoni formal dan menyebut angka. Lagian siapa yang mau menghitung jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya minta mangrove dipelihara dan dirawat, jangan sampai setelah ditanam terus dibiarkan,” tegasnya. Hal senada diungkapkan pengamat kelauatan dan perikanan Suhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebut selama ini pemerintah menggelorakan penanaman mangrove tetapi belum mampu memberdayakan masyarakat agar menjaga dan melanjutkan kelestarianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Langkah penanaman dan rehabilitasi mangrove tidak secepat kerusakan yang terjadi. Sepanjang tahun 1980-an, di pantai utara Jawa, hutan mangrove beralih fungsi menjadi tambak. Dan luasnya sangat besar,” ungkapnya saat dihubungi, Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhana meminta KKP memberikan kompensasi kepada nelayan yang terdampak dari rusaknya hutan mangrove.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, selama ini mangrove menjadi habitat ikan. Saat rusak, maka ikan menghilang dan tangkapan nelayan menyusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kompensasi yang seharusnya diberikan ialah memberikan perahu berukuran sedang agar nelayan memiliki kemampuan tangkap di wilayah perairan dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika tidak diberikan kompensasi, maka nelayan kecil yang selama ini menangkap ikan di pesisir pantai sekitar hutan mangrove akan terancam pendapatanya,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, rusaknya habitat ikan di hutan mangrove, kata Suhana, telah mengakibatkan volume tangkapan ikan nelayan turun signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi yang perlu dipikirkan pemerintah tidak hanya menanam mangrove, tetapi memikirkan nelayan yang terdampak akibat kerusakan mangrove.”&lt;br /&gt;aan/E-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=47977&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-1429158046199983815?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/1429158046199983815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=1429158046199983815' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/1429158046199983815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/1429158046199983815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2010/03/70-persen-hutan-mangrove-rusak.html' title='70 Persen Hutan Mangrove Rusak'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-5415387649191943526</id><published>2010-02-08T20:37:00.000+07:00</published><updated>2010-02-08T20:38:45.639+07:00</updated><title type='text'>Kenaikan Harga Ikan dan Kesejahteraan Nelayan</title><content type='html'>Sinar Harapan, Senin, 08 Pebruari 2010 13:58&lt;br /&gt;Kenaikan Harga Ikan dan Kesejahteraan Nelayan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLEH: SUHANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publikasi Badan Pu­sat Sta­tistik awal Februari ini menunjukkan bahwa sumbangan inflasi ikan segar pada bulan Desember 2009 dan Januari 2010 menga­lami peningkatan, yaitu dari 0,03 persen menjadi 0,07 per­sen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inflasi tersebut terjadi akibat meningkatnya har­ga ikan segar di pasar nasional.&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari kondisi perikanan saat ini, kenaikan harga ikan segar tersebut sa­ngat wajar terjadi, karena sampai akhir Januari lalu para nelayan masih banyak yang memilih untuk menyandarkan perahunya di pantai ketimbang melaut karena cuaca yang belum bersahabat. Selain itu, produksi ikan budi daya sampai saat ini belum dapat diandalkan sebagai pengganti ke­butuhan ikan segar di ma­syarakat, karena tingkat produksinya masih rendah.&lt;br /&gt;Perkiraan penulis, kenaikan inflasi ikan segar ini masih terjadi sampai akhir Februari 2010 nanti, karena menurut perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca buruk di per­airan Indonesia diperkirakan ma­sih akan terjadi sampai akhir Februari. Selain itu, juga ber­dasarkan kasus-kasus da­lam lima tahun terakhir, bia­sanya pada pertengahan Fe­bruari, pada saat puncaknya mu­sim hujan, para pembudi daya ikan nasional mengalami kegagalan panen akibat kematian massal. Sentra-sentra perikanan budi daya seperti di Waduk Jatiluhur dan Cirata, Jawa Barat, hampir setiap tahun pada saat rendahnya tingkat penyerapan sinar matahari di perairan tersebut, terdapat ribuan ton ikan mati karena kekurangan oksigen dan per­gerakan massa air dari da­sar perairan yang membawa racun.&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang: apakah ada dampak kenaikan harga ikan segar tersebut terhadap kesejahteraan nelayan dan pembudi daya ikan nasio­nal? Secara logis pasti akan berdampak positif, karena secara otomatis dengan adanya kenaikan harga ikan segar pendapatan nelayan dan pembudi daya ikan akan mengalami peningkatan. Dengan demi­kian, kesejahteraan pun akan meningkat. Akan tetapi, kenya­taannya di lapangan, kenaikan harga ikan segar tersebut ternyata berdampak negatif ter­hadap kesejahteraan nela­yan dan pembudi daya ikan. Hal ini ditunjukkan dengan terus menurunnya nilai tukar nelayan dan pembudi daya ikan sampai akhir Desember 2009.&lt;br /&gt;Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2010 menunjukkan bahwa nilai tu­kar nelayan pada bulan De­sember 2009 terjadi penurunan sebesar 0,29 persen. Penurunan tersebut lebih disebabkan oleh terus meningkatnya kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi perikanan yang semakin tinggi, baik di nelayan maupun para pembudi daya ikan. Biaya produksi nelayan pada saat cuaca buruk seperti saat ini jauh lebih besar dibandingkan biaya produksi pada saat cuaca yang tenang.&lt;br /&gt;Sementara itu, biaya produksi para pembudi daya saat ini sangat tinggi karena harga pakan yang terus meningkat. Harga pakan di tingkat pembudi daya ikan saat ini sudah berada di atas Rp 260.000 per zak. Hal ini juga terus diperparah dengan minimnya permodalan yang dimiliki oleh nelayan dan pembudi daya ikan tersebut.&lt;br /&gt;Kondisi ini memang sangat ironis. Kenaikan harga ikan yang seharusnya dapat me­ningkatkan kesejahteraan ne­layan dan pembudi daya ikan, kenyataannya tidak terjadi. Hal ini pun diperparah lagi dengan belum adanya kebijakan yang komprehensif dalam mena­ngani kesejahteraan nelayan dan pembudi daya ikan. Ke­bijakan dan program pemerintah saat ini lebih banyak di­arahkan untuk meningkat­kan harga jual ikan, tetapi tanpa diikuti dengan kebijakan dan program untuk menurunkan biaya produksi nelayan dan pembudi daya ikan.&lt;br /&gt;Misalnya, kebijakan-kebijakan pemerintah lebih banyak untuk membangun coldstorage dibandingkan dengan memperbaiki dan memperbanyak stasiun pengisian bahan bakar khusus bagi nelayan dan pembudi daya ikan. Selain itu, sampai saat ini juga belum terlihat adanya upaya serius guna menekan harga pakan ikan dan mencari alternatif lain untuk menggantikan tepung ikan sebagai bahan baku pakan ikan.&lt;br /&gt;Bahkan, kalau kita melihat program Kementerian Ke­lautan dan Perikanan saat ini, ter­lihat pemerintah kurang tanggap terhadap kondisi ter­sebut dan terkesan tidak me­miliki arah pembangunan yang jelas. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya kesinambungan antara kebijakan menteri-men­teri sebelumnya dengan men­teri saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan Komprehensif&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut di atas, sudah saatnya pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pembudi daya ikan untuk me­nyusun kebijakan yang lebih komprehensif dan berke­si­nambu­ngan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk me­ningkatkan kesejahteraan ne­layan dan pembudi daya ikan, adalah pertama, terus me­ningkatkan mutu ikan segar yang dihasilkan oleh nelayan dan pembudi daya ikan, se­hingga harganya jauh lebih tinggi dari sekarang.&lt;br /&gt;Kedua, memperkuat industri pengolahan ikan nasional, hal ini dimaksudkan agar ikan hasil produksi nelayan dan pembudi daya ikan dapat ter­serap industri nasional. Ketiga, penurunan biaya rumah tangga nelayan dan pembudi daya ikan, misalnya, dengan mene­ruskan dan meningkatkan program biaya kesehatan dan pendidikan gratis untuk keluarga nelayan dan pembudi daya ikan.&lt;br /&gt;Hal ini sangat diperlukan karena dengan adanya program kesehatan dan pendi­dikan gratis, para nelayan dan pembudi daya ikan dapat menginvestasikan biaya yang seharusnya untuk menjamin kesehatan dan pendidikan ke­luarganya untuk mening­kat­kan permodalan.&lt;br /&gt;Keempat, penurunan biaya produksi perikanan. Misalnya, dengan terus meningkatkan jumlah dan kualitas pelayanan stasiun pengisian bahan bakar khusus nelayan dan pembudi daya ikan di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar para nelayan dan pembudi daya ikan dapat membeli bahan bakar solar sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, pemerintah perlu perlu mendorong terwujudnya rumah-rumah pakan ikan yang dikelola oleh setiap kelompok pembudi daya ikan dengan bahan baku lokal. Dengan begitu, me­reka tidak tergantung lagi pada pakan pabrik yang harganya jauh dari jangkauan mereka.&lt;br /&gt;Kelima, dalam upaya menjaga kelestarian sumber daya ikan laut, khususnya ikan pelagis kecil (small pelagic) dan nilai ekonomis—karena harga pakan tinggi, pemerintah perlu mengembangkan perikanan budi daya untuk ikan-ikan jenis herbivora seperti ikan nila (tilapia), ikan detrivora seperti ikan bandeng dan gurami, serta rumput laut. Sementara untuk ikan-ikan jenis karnivora seperti kerapu lebih baik dikurangi. Hal ini disebabkan ikan-ikan jenis herbivora dan de­trivora tidak tergantung pada pakan pabrik.&lt;br /&gt;Sementara itu, menurut Daniel Pauly, peneliti per­ikanan University of British Columbia (UBC),  untuk menghasilkan 1 kilogram daging ikan kerapu (atau ikan karni­vora lainnya), bisa butuh 5-10 kilogram ikan rucah/small pelagic. Artinya, pemerintah lebih banyak mengembangkan budi daya ikan jenis karnivora seperti kerapu sama saja de­ngan menguras sumber daya ikan pelagis kecil yang ada di perairan laut Indonesia.&lt;br /&gt;Alhasil, kelima hal tersebut di atas hendaknya menjadi perhatian serius pemerintah da­lam arah pembangunan kelautan dan perikanan ke depan, khususnya dalam jangka pendek ini. Dengan adanya kebijakan yang komprehensif dan berkesinambungan, dengan adanya kenaikan harga ikan, diharapkan ini berdampak positif terhadap kesejahteraan nelayan dan pembudi daya ikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Kepala Riset Pusat Kajian Sumber Daya Kelautan dan Peradaban Maritim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/cetak-sinar/berita/read/kenaikan-harga-ikan-dan-kesejahteraan-nelayan/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-5415387649191943526?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/5415387649191943526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=5415387649191943526' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5415387649191943526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5415387649191943526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2010/02/kenaikan-harga-ikan-dan-kesejahteraan.html' title='Kenaikan Harga Ikan dan Kesejahteraan Nelayan'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-2248163962214830949</id><published>2010-02-01T10:47:00.001+07:00</published><updated>2010-02-01T10:47:54.283+07:00</updated><title type='text'>Ambisi Jadi Terbesar di Dunia</title><content type='html'>Ambisi Jadi Terbesar di Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 28 Januari 2010&lt;br /&gt;Sektor Perikanan I Infrastruktur Pendukung Pengembangan Belum Memadai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah akan meningkatkan inovasi teknologi sektor perikanan, khususnya teknologi pengadaan bibit unggul dan teknik budi daya, guna mengejar target pertumbuhan produksi. Tidak ada menteri yang se ambisius Fadel Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kader Golkar dan pengusaha yang ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai menteri kelautan dan perikanan itu mematok target yang luar biasa untuk sektor perikanan budi daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bertekad memacu produksi perikanan budi daya hingga 2014 sebesar 16,89 juta ton atau mening kat 353 persen dibandingkan dengan produksi 2009 yang ba ru sebesar 4,78 juta ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila angka itu tercapai, Indonesia akan menjadi penghasil produk per ikanan terbesar di dunia. ”Untuk itu, harus ada akselerasi guna menyamakan persepsi antarpelaku dan regulator terhadap kebijakan di sektor perikanan dalam lima tahun ke depan. Stra tegi yang digunakan harus fokus,” tuturnya di Batam, Senin (25/1) malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fadel, pemerintah akan meningkatkan inovasi teknologi sektor perikanan, khususnya teknologi pengadaan bibit atau benih unggul dan teknik budi daya, guna mengejar target pertumbuhan produksi perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, teknologi pengadaan bibit atau benih udang, ikan patin, ikan mas dan lainnya serta teknologi budi daya seperti budi daya rumput laut yang lebih efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, teknologi pengemasan atau pendinginan perlu ditingkatkan untuk mempertahankan kualitas. ”Pusat penelitian perikanan agar lebih diberdayakan, dan pemerintah juga akan meningkatkan anggaran untuk pe neltian tersebut,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadel menegaskan produksi perikanan nasional saat ini masih sangat rendah, bahkan lebih ren dah dari negara yang potensi lautnya minim seperti Thailand dan China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu terlihat dari jumlah pro duksi perikanan nasional pada 2009 yang hanya 4,78 juta ton, se dangkan China mencapai 40 juta ton. Mungkinkah? Mari kita lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan target kenaikan perikanan budi daya sekitar 353 persen, dalam lima tahun akan ada kenaikan sebesar 50,4 per sen setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saat ini ada 762.320 hektare lahan budi daya, harus tersedia paling tidak 1,9 juta hektare pada akhir 2014. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai target Kemente rian Kelautan dan Perikanan (KKP) terlalu konseptual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realisasi target itu dikhawatirkan menemui kendala seperti minimnya infrastruktur dan anggaran. “Infrastruktur pendukung pengembangan perikanan belum memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana juga terbatas. Tahun 2010, KKP hanya menda patkan alokasi APBN sebesar 3 triliun. Untuk budi daya baru ter sedia 400 miliar rupiah,” kata Anggota Komisi IV DPR Herman Khaeron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memprediksi target peningkatan produksi perikanan sebesar 12 persen pada tahun ini bisa tercapai. Namun, target pertum- buhan 353 persen pada 2012 akan sulit tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, belum banyak pembudi daya perikanan memiliki akses terhadap sumber pendanaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). Penyerapan KUR untuk sektor perikanan di bawah 5 persen dari target 4 triliun rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini akibat mekanismenya yang rumit,” tutur Sekjen KKP Syamsul Maarif. Di sisi lain, seperti seperti disampaikan Dirjen Perikanan Budidaya Made L Nurdjana, kebutuhan investasi perikanan budi daya hingga 2014 mencapai 16 triliun rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ada uang, tar get bisa direalisasikan, dan itu bergantung dukungan perbankan dan investasi masyarakat,” katanya. Fadel mengaku sudah menemukan solusi bagi KUR ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah, katanya, akan memperbesar plafon kredit bagi nelayan dari hanya 5 juta rupiah men jadi 5 juta sampai 500 juta de ngan 70 persen pinjaman akan dijamin oleh pemerintah dan 30 persen oleh nelayan. Karakter masyarakat pun bakal turut menentukan keberhasilan program itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pejabat di KKP menuturkan masyarakat Indonesia pascareformasi sangat susah diatur. ”Ini berbeda dengan Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat di sana sangat menurut pada penyuluh dan pemerintah sehingga program pembangunan bisa cepat terealisasikan,” katanya. Harga Pakan Hambatan lain yang bakal meng adang pencapaian produksi perikanan adalah harga pakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat perikanan Suhana menyebut KKP harus mempriori taskan penurunan harga pakan ikan karena merupakan penyumbang 80 persen terhadap ongkos produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga pakan pelet mencapai 250 ribu per sak, padahal harga maksimal yang dinilai masuk akal oleh pembudi daya sebesar 150 ribu–200 ribu per sak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri pakan ikan dan udang pun bakal lesu akibat pemberla kuan pajak pertambahan nilai (PPN) atas bahan baku pa kan. “Bahan baku pakan berupa bungkil dan kedelai serta tepung ikan masih impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan impor yang tinggi menyebabkan harga pakan tidak kompetitif,” kata Ketua Divisi Pakan Ikan dan Udang Akuakultur Asosiasi Produsen Pakan Ikan Denny D Indradjaja. Impor tepung ikan mencapai 60 ribu ton per tahun atau separo kebutuhan dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, ia mencontohkan, dibandingkan produk Vietnam, harga pakan lebih mahal hingga 500 rupiah per kilogram. Produksi pakan ikan dikuasai China disusul Thailand.&lt;br /&gt;gus/aan/E-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=43705&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-2248163962214830949?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/2248163962214830949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=2248163962214830949' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/2248163962214830949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/2248163962214830949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2010/02/ambisi-jadi-terbesar-di-dunia.html' title='Ambisi Jadi Terbesar di Dunia'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-1252479810877288067</id><published>2009-12-30T20:00:00.003+07:00</published><updated>2009-12-30T20:09:13.137+07:00</updated><title type='text'>Kenangan Bersama GUSDUR</title><content type='html'>Inalillahi Wainaillahi Rojiun. Satu lagi tokoh kelautan nasional telah meninggalkan kita. Saya dan keluarga besar Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim mengucapkan turut berduka Cita Atas meninggalnya Tokoh Kelautan Nasional GUS DUR pada Hari Rabu, 30 Desember 2009 pukul 18.45. Semoga Almarhum mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Dan kita sebagai generasi muda kelautan harus dapat meneruskan perjuangan pembangunan kelautan nasional untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Gus DUR adalah Presiden RI yang telah berjasa besar pada pembangunan kelautan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_MFYb5vruOck/SztPJ2sToTI/AAAAAAAAAG4/F1yZQ9H3Huk/s1600-h/foto+gusdur+016.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MFYb5vruOck/SztPJ2sToTI/AAAAAAAAAG4/F1yZQ9H3Huk/s400/foto+gusdur+016.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421013607189291314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-1252479810877288067?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/1252479810877288067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=1252479810877288067' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/1252479810877288067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/1252479810877288067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/12/kenangan-bersama-gusdur.html' title='Kenangan Bersama GUSDUR'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MFYb5vruOck/SztPJ2sToTI/AAAAAAAAAG4/F1yZQ9H3Huk/s72-c/foto+gusdur+016.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-967127339062413207</id><published>2009-12-21T10:17:00.000+07:00</published><updated>2009-12-21T10:20:29.933+07:00</updated><title type='text'>Penghapusan Retribusi Ditargetkan Tuntas Tahun 2010</title><content type='html'>Penghapusan Retribusi Ditargetkan Tuntas Tahun 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 21 Desember 2009 | 03:47 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Penghapusan retribusi perikanan untuk nelayan kecil di semua kabupaten/kota ditargetkan tuntas tahun 2010. Meski demikian, hingga kini belum ada kejelasan alokasi dana insentif pengganti kepada daerah yang menghapus retribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Jenderal Departemen Kelautan dan Perikanan Syamsul Ma’arif di Jakarta, Minggu (20/12), mengemukakan, penghapusan retribusi untuk nelayan kecil ditargetkan tuntas tahun 2010. Daerah yang menghapus retribusi nelayan akan mendapat kompensasi berupa penambahan dana alokasi khusus (DAK) ke daerah yang senilai dengan retribusi nelayan yang dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2010 DAK untuk kabupaten/kota yang mengembangkan sektor perikanan ditetapkan sebesar Rp 1,8 triliun. Pihaknya sedang mengusulkan kepada Departemen Keuangan mengenai tambahan alokasi DAK akibat penghapusan retribusi nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami masih merumuskan formula dan hitung-hitungan penambahan DAK sebagai pengganti retribusi,” ujar Syamsul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retribusi nelayan selama ini diatur dalam peraturan daerah (perda) dan menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah. Beberapa bentuk retribusi nelayan antara lain retribusi pengangkatan hasil tangkapan ke daratan dan retribusi pelelangan ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit diterapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Divisi Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana mengingatkan, implementasi penghapusan perda tentang retribusi nelayan tidak mudah dilaksanakan. Ini karena pencabutan perda membutuhkan sosialisasi kepada pejabat daerah, aparat birokrasi, dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pencabutan perda tentang retribusi nelayan membutuhkan persetujuan DPRD di setiap daerah. Ini memakan waktu cukup lama,” kata Suhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meminta pemerintah menghindari target yang tidak realistis karena dikhawatirkan berakhir menjadi wacana yang mengecewakan publik. Dibutuhkan langkah konkret berupa kejelasan instrumen hukum dan mekanisme kompensasi atas penghapusan retribusi nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat Gatot Rudiyono mengemukakan, pungutan retribusi perikanan di kabupaten/kota di Kalimantan Barat terhitung cukup besar, yakni mencapai Rp 500 juta per bulan. Namun, sejauh ada imbal balik yang sepadan, penghapusan retribusi tidak akan membawa persoalan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Diperlukan sosialisasi ke tingkat daerah serta penjelasan rinci kepada pemerintah daerah dan legislatif agar program penghapusan retribusi betul membawa manfaat bagi nelayan,” ujar Gatot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana retribusi nelayan di tempat pelelangan ikan antara lain dikembalikan kepada nelayan sebagai jaring pengaman sosial. Bantuan itu di antaranya dana paceklik berupa beras atau uang.(LKT) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/21/03475566/penghapusan.retribusi.ditargetkan.tuntas.tahun.2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-967127339062413207?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/967127339062413207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=967127339062413207' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/967127339062413207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/967127339062413207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/12/penghapusan-retribusi-ditargetkan.html' title='Penghapusan Retribusi Ditargetkan Tuntas Tahun 2010'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-7238816210171697444</id><published>2009-12-01T14:39:00.000+07:00</published><updated>2009-12-01T14:42:11.952+07:00</updated><title type='text'>DAFTAR RUU PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN 2010-2014 BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN</title><content type='html'>DAFTAR RUU PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN 2010-2014 &lt;br /&gt;DAN RUU PRIORITAS TAHUN 2010 BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Keputusan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) pada tanggal 1 Desember 2009, RUU Program Legislasi Nasional Tahun 2010-2014 Dan Ruu Prioritas Tahun 2010 Bidang Kelautan Dan Perikanan adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO JUDUL RUU                 &lt;br /&gt;1 RUU Tentang Kelautan &lt;br /&gt;2 RUU Tentang Daerah Perbatasan &lt;br /&gt;3 RUU Tentang Ketenagakerjaan Sektor Pertanian, Perkebunan Dan Kelautan &lt;br /&gt;4 RUU Tentang Pengakuan Dan Perlindungan Masyarakat Adat &lt;br /&gt;5 RUU Tentang Pengelolaan Dan Pembiayaan Sektor Pertanian Dan Perikanan &lt;br /&gt;6 RUU Tentang Perlakuan Khusus Provinsi Kepulauan &lt;br /&gt;7 RUU Tentang Perlindungan Dan Pemberdayaan Nelayan &lt;br /&gt;8 RUU Tentang Perubahan Atas UU No 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil &lt;br /&gt;9 RUU Tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan &lt;br /&gt;10 RUU Tentang Pemanfaatan Perairan Indonesia Dan Zona Tambahan Serta Penegakan Hukum Di Perairan Indonesia Zona Tambahan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRIORITAS 2010&lt;br /&gt;1 RUU Tentang Kelautan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-7238816210171697444?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/7238816210171697444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=7238816210171697444' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/7238816210171697444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/7238816210171697444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/12/daftar-ruu-program-legislasi-nasional.html' title='DAFTAR RUU PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN 2010-2014 BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-3757645951439148453</id><published>2009-11-15T21:14:00.000+07:00</published><updated>2009-11-15T21:15:08.721+07:00</updated><title type='text'>Pemerintah Perlu Cek Ulang Kebutuhan Cakalang DN</title><content type='html'>Pemerintah Perlu Cek Ulang Kebutuhan Cakalang DN&lt;br /&gt;Antara&lt;br /&gt;Antara - Sabtu, 14 November&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Pemerintah Perlu Cek Ulang Kebutuhan Cakalang DN] Pemerintah Perlu Cek Ulang Kebutuhan Cakalang DN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta (ANTARA) - Pemerintah diminta mengecek ulang kebutuhan ikan cakalang di dalam negeri (DN) sebelum membuka kran ekspor dalam bentuh utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat Kelautan dan Perikanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria, di Jakarta, mengatakan keputusan membuka kran ekspor cakalang disaat stok berlimpah memang keputusan yang pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perlu diteliti lebih lanjut apakah benar di dalam negeri cakalang tidak terserap. Karena bisa jadi masalahnya ada di distribusi sehingga pasokan ke berbagai daerah tidak merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan-jangan yang berlimpah di Sulawesi saja, apa benar di daerah lain tidak butuh. Di Surabaya misalnya," kata Arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, memang pemerintah perlu juga memperhatikan masalah kelebihan stok sehingga tidak merusak harga di dalam negeri, ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan, menurut Arif, telah diingatkan agar lebih berhati-hati dalam pembentukan Peraturan Menteri (Permen) Kelautan Perikanan Nomor 5 Tahun 2008 tentang Usaha Perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah, lanjut dia, kurang mencermati fenomena-fenomena musim ikan di tanah air, sehingga kebijakan yang terbentuk lupa memperhitungkan kepentingan nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produsen pengolahan memang mengambil peran dalam pembentukan Permen ini. Produk perikanan memang membutuh nilai tambah, tapi jangan sampai produsen pengolahan menjadi pengontrol harga, akibatnya harga jual bisa tertekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau di Thailand harga bisa tinggi kenapa di Indonesia tidak. Perlu ada titik temu antara industri pengolahan, produsen primer, dan produsen sekunder, hasilnya menjadi dasar kebijakan pemerintah," lanjut Arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide DKP untuk membuka keran ekspor ikan utuh ketika stok ikan berlimpah dan menutup keran ekspor saat jumlah ikan menipis di 2010, menurut dia, sangat baik. Hal tersebut dapat mengontrol harga di tingkat nelayan agar tidak jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika kebijakan itu dijalankan maka Permen Kelautan Perikanan Nomor 5 Tahun 2008, yang mengharuskan hasil perikanan diolah di dalam negeri harus segera direvisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Suhana menekankan perlunya pertimbangan kembali soal pembukaan keran ekspor cakalang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia justru mengkhawatirkan pembukaan izin ekspor cakalang menjadi legalisasi ekspor ikan dalam bentuk utuh yang diduga selama ini ada yang tidak terlaporkan (unreported).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut, menurut Suhana, ditakutkan hanya untuk memudahkan ikan memperoleh "catch sertificate" untuk ekspor ke Uni Eropa (UE) yang akan diterapkan awal Januari 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Padahal `catch sertificate` ini kan untuk memerangi pencurian ikan, penangkapan ikan tak sesuai peraturan, dan penangkapan tak terlaporkan (Illegal, unregulated, unreported fishing/IUU Fishing)," ujar Suhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DKP, menurut Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP), Martani Huseini, telah membuka keran ekspor khusus cakalang dalam bentuk utuh sejak 11 November lalu. Keputusan tersebut diambil setelah diketahui stok cakalang berlimpah, sehingga harga sempat jatuh berada dikisaran Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram (kg).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi lain yang diambil, menurut Martani, akan menambah "cool storage" untuk menampung ikan-ikan tertentu yang sering kali berlimpah di musim-musim tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://id.news.yahoo.com/antr/20091113/tpl-pemerintah-perlu-cek-ulang-kebutuhan-cc08abe_1.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-3757645951439148453?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/3757645951439148453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=3757645951439148453' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/3757645951439148453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/3757645951439148453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/11/pemerintah-perlu-cek-ulang-kebutuhan.html' title='Pemerintah Perlu Cek Ulang Kebutuhan Cakalang DN'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-3159292982274907244</id><published>2009-10-19T23:39:00.000+07:00</published><updated>2009-10-19T23:40:28.658+07:00</updated><title type='text'>7 Daerah Berjuang Menjadi Provinsi Kepulauan</title><content type='html'>7 Daerah Berjuang Menjadi Provinsi Kepulauan&lt;br /&gt;Kompas/Priyambodo&lt;br /&gt;Ilustrasi Pulau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 19 Oktober 2009 | 13:28 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUPANG, KOMPAS.com - Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda NTT Ricard Djami mengatakan, NTT cukup antusias menyambut gagasan terbentuknya Provinsi Kepulauan, karena wilayah perairannya lebih luas dari wilayah daratan yang berimplikasi pada tolok ukur pemberian Dana Alokasi Khusus (DAK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh provinsi di Indonesia, yakni Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Maluku Tenggara, Maluku, Bangka Belitung dan Riau, terus memperjuangkan status Provinsi Kepulauan kepada pemerintah pusat guna mendapat legitimasi hukum.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Demikian hal yang mengemuka dalam rapat pemantapan persiapan pelaksanaan pertemuan Badan Provinsi Kepulauan di Kupang, Senin yang dipimpin Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda NTT, Ricard Djami dihadiri Kadis Kebudayaan dan Pariwisata NTT Ans Takalapeta, Kadis Perhubungan NTT Gulam Husein dan Kadis Perikanan dan Kelautan NTT Ny Anna Adam.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;"Jika selama ini alokasi DAK dengan hanya mengacu pada provinsi satu daratan, mungkin dengan status provinsi kepulauan, alokasi dananya diatur khusus dalam DAK Kepulauan," ujarnya.    &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Mandat otoritas Badan Provinsi Kepulauan saat ini masih dipegang Gubernur Maluku Tenggara yang bertindak sebagai tuan rumah dalam pertemuan serupa di Ternate pada Februari 2009.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Gubernur NTT Frans Lebu Raya telah menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah pertemuan Badan Provinsi Kepulauan yang akan dilangsungkan di Hotel Kristal Kupang pada 29-31 Oktober mendatang dan dihadiri oleh tujuh gubernur dan para asisten tata pemerintahan di masing-masing provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/19/13280868/7.daerah.berjuang.menjadi.provinsi.kepulauan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-3159292982274907244?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/3159292982274907244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=3159292982274907244' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/3159292982274907244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/3159292982274907244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/10/7-daerah-berjuang-menjadi-provinsi.html' title='7 Daerah Berjuang Menjadi Provinsi Kepulauan'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-9200276143771357093</id><published>2009-10-14T12:47:00.000+07:00</published><updated>2009-10-14T12:49:47.239+07:00</updated><title type='text'>Telephone interview with Elinor Ostrom</title><content type='html'>Interview&lt;br /&gt;"That's what I've been working on for all my life! Humans have great capabilities and somehow we've had some sense that the officials had genetic capabilities that the rest of us didn't have."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telephone interview with Elinor Ostrom recorded immediately following the announcement of The 2009 Sveriges Riksbank Prize in Economic Sciences in Memory of Alfred Nobel, 12 October 2009. The interviewer is Adam Smith, Editor-in-Chief of Nobelprize.org.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Elinor Ostrom] Hello&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Adam Smith] Oh, good morning. May I speak to Elinor Ostrom please?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Yes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Hello, my name is Adam Smith. I'm calling from the Nobel Foundation's official website, in Stockholm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Yes. Adam Smith, what a name! I'm sorry, you're kidded a lot, I'm sure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Exactly, and I think sometimes the new Economics Laureates think I'm a hoax caller when I do this. We have a tradition of recording very short telephone interviews for the Nobel Foundation website, with the new Laureates, so would you mind speaking for a few minutes?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Ah, yes, fine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Thank you very much indeed. Of course, congratulations on the award.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Well, it's an unbelievable honor, yes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] You, as I know has just been pointed out on the Press Conference, are the first woman in the forty year history of the Sveriges Riksbank Prize in Economic Sciences to be awarded. Does that make it a greater honor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Yes. Having lived through an era, where I was thinking of going to graduate school and was strongly discouraged because I would never be able to do anything but teach in a city college ... Ah ha ha, life has changed!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Do you think that the ratio of Laureates in Economic Sciences – the gender ratio – is it in any way representative of the ratio of people working in the subject now or has it really changed?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] It's slowly changed. I've attended economic sessions where I've been the only woman in the room, but that is slowly changing and I think there's a greater respect now that women can make a major contribution. And I would hope that the recognition here is helping that along.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] I imagine it sends a strong signal, yes. Now, you work on the management of common property by common ownership contrasting it with the effects ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Among other things, yes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Would it be true to say that, broadly, you've found that common ownership can be more effective than people thought it might be?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Yes! It's not a panacea but much more effective than our common understanding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] And, is there one example you'd like to give of where this is so?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Well, let me use the example of lobster fisherman in the state of Maine. In the 1920s, they almost destroyed the lobster fishery. They regrouped and thought hard about what to do and over time developed a series of ingenious rules and ways of monitoring that have meant that the lobster fishery in Maine is among the most successful in the world. The big threat that comes now is that the other fisheries around it have so over-fished fish, that the lobster is a little bit of an extreme example of ... If there were an illness or something that came, a bug, that infected them, they would be very exposed. But they have been incredibly effective through the years. There are many other small to medium sized groups that have taken on the responsibility for organizing resource governance. We've studied several hundred irrigation systems in Nepal. And, farmer-managed irrigation systems are more effective in terms of getting water to the tail end, higher productivity, lower cost, than the fancy irrigation systems built with the help of Asian Development Bank, World Bank, USAID, etc. So, what we have is many local groups are very effective, but that it's not universal. So we can't just now be naïve and think, 'Oh, well, just leave it to the people, they will always organize.' There are many settings that discourage self-organization&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Right.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] And, thus, we must understand both the conditions - that they can, but the conditions under which they will.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Well, I was going to ask you whether your research has also shed light on the conditions that lead to good self-organization. Are there particular features that have to be in place, for instance enough time for participants to work out what their set of regulations should be?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Yeah, and I have an article in Science in July of this past year which lays out a broad diagnostic framework and identifies a number of variables that are associated with self-organization.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Would you say broadly though that self-organization should be used and trusted more than it is now? That society should move towards trying to implement self-organizing structures?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Yes, but not with a formula. So there are many, many efforts now to decentralize and they create a rigid formula and give people rules from on top and say, 'Now it's yours.' And that isn't worked very well either.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] So, again, there's a great deal of subtlety to it ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] It's this ... yes. And, you think about the variety. If you look at a countryside, think of the variety out there in terms of the ecological variety. Well, if people are going to manage ecological variety, no single set of rules will work in a semi-arid versus a tropical-wet region. They have to be different.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Indeed. Another thing you've done is to conduct lab experiments ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Oh, yeah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Which I believe have shown that people appear to be more willing to enforce mutually agreed rules than had been expected, again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Yes, we're showing that. But we're also showing a very important role for face-to-face or even written communication. So, the prediction was that nobody would self-monitor because that's a second level social dilemma, if you go to Game Theory. But, what we've found is that people will, but it can be ... people can escalate into, 'I'll punish you, you punish him, mamamamamma,' and it gets worse and worse. So, with communication, where there's an agreement on what is going to be the ... what we are going to do. The 'we' then being well-defined, then people can follow rules, be cooperative and, occasionally, sanction one another to help that continue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] You mentioned Game Theory, there. How much of this is actually an extension of Game Theory and what we're looking are repeated games in developing these structures?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] The ... Game Theory has been very, very important in our work in that we've been able to take game-theoretic models and put them in the lab and test them. And thus my early exposure in the 1980s to the work of Reinhardt Selten, who is himself a Nobel Laureate, was a very, very important step in my training. We still ... Classical Game Theory is very predictive in some environments but not fully predictive, by any manner/means, in an environment which is a social dilemma. But very helpful for us in analyzing and as we develop a behavioral theory of humans and of other formal mechanisms we can explain why people do cooperate in some settings and not others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Right, yes. I'd like to finish just by asking whether you consider that your work is economics or political science or social science, or maybe it doesn't matter what it is, what it's branded?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] I consider it to be political economy or the study of social dilemmas. I was trained heavily in economics as an undergraduate. I studied with Armen Alchian and others, and then worked with Reinhardt Selten in the 80s. I work with two colleagues, economists, here in Bloomington that have been very, very important in my work. My husband worked with Charlie Tiebout and they developed a theory of metropolitan organization that was an economic/political science overview, so the ... I've crossed disciplines, there's just no question about it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] I suppose this award has the potential to catch the public imagination, because the citation brands it as economic governance and you're talking about people getting involved in their own governance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Yes!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] It's likely to be ... it's likely to spark people's imaginations and they're going to ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] I hope! Ha ha! That's what I've been working on for all my life! Humans have great capabilities and somehow we've had some sense that the officials had genetic capabilities that the rest of us didn't have.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Uh hum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] I hope we can change that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Excellent. Well that's a lovely note to stop on, thank you. When you come to Stockholm in December to receive your Prize we have a change to speak at greater length, so ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Wonderful, I'll look forward to that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] I look forward to it too. I hope you have a splendid rest of day and once again congratulations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[EO] Thank you very, very much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[AS] Thank you, bye, bye. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://nobelprize.org/nobel_prizes/economics/laureates/2009/ostrom-telephone.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-9200276143771357093?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/9200276143771357093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=9200276143771357093' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/9200276143771357093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/9200276143771357093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/10/telephone-interview-with-elinor-ostrom.html' title='Telephone interview with Elinor Ostrom'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-5119451888181470545</id><published>2009-10-14T05:28:00.000+07:00</published><updated>2009-10-14T05:46:47.279+07:00</updated><title type='text'>Organisasi Sosial dan Nobel Ekonomi</title><content type='html'>Organisasi Sosial dan Nobel Ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 13 Oktober 2009 | 03:51 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kejutan menyenangkan dalam pengumuman Nobel Ekonomi 2009, Senin (12/10). Untuk pertama kalinya sejak 1968, seorang ekonom wanita memenangi penghargaan paling bergengsi di bidang ekonomi yang selama ini dikuasai oleh kaum pria tersebut. Bersama Oliver Williamson (77), profesor dari University of California, Berkeley; Elinor Ostrom (76) dari Indiana University diumumkan sebagai pemenang Nobel Ekonomi 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan kedua ekonom ini sangat di luar dugaan karena keduanya nyaris tidak masuk bursa kandidat yang diunggulkan untuk menerima penghargaan tersebut. Keduanya berbagi Nobel Ekonomi lewat hasil kajian terpisah tentang tata kelola ekonomi (economic governance). Suatu isu sentral di tengah krisis global, di mana perekonomian dunia diporakporandakan oleh perilaku dan kerakusan segelintir eksekutif yang mengendalikan institusi raksasa finansial global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang kajian Ostrom dan Williamson adalah bidang yang hampir tak tersentuh oleh krisis finansial dan kurang mendapat perhatian kaum ekonom mainstream selama ini. Lewat penelitiannya, kedua ekonom itu menghadirkan konsep alternatif tata kelola ekonomi di luar format yang ada selama ini, yang sepenuhnya menyerahkan semua pada pasar, yakni dalam bentuk organisasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ostrom menunjukkan bagaimana sumber daya bersama bisa dikelola dengan baik oleh sekelompok orang yang menggunakan sumber daya tersebut, tanpa campur tangan pihak luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat sejumlah penelitian terhadap kesuksesan dan kegagalan pengelolaan sumber daya alam, seperti kehutanan, perikanan, lapangan minyak, padang rumput, dan sistem irigasi oleh sekelompok individu, ia membuktikan bahwa di tangan organisasi sosial sumber daya berhasil dikelola lebih baik daripada yang diperkirakan oleh berbagai teori standar selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian Ostrom ini melawan pemahaman konvensional (tragedy of the commons theory) yang menganggap suatu sumber daya bersama hanya akan terkelola dengan baik jika diregulasi dengan ketat oleh negara lewat pajak dan pungutan, atau diserahkan pengelolaannya kepada swasta melalui privatisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori tradisional ini menganggap hancurnya prasarana umum (public goods) atau lingkungan adalah diakibatkan individu hanya memikirkan keuntungan dan kerugian pribadi, tanpa memedulikan dampak negatif perilaku mereka terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Royal Swedish Academy of Sciences memuji Ostrom yang mendedikasikan puluhan tahun kariernya di Indiana University untuk mempelajari interaksi antarmanusia dan sumber daya alam, atas temuan inovatifnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi konflik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Williamson yang sebelumnya pernah menjadi konsultan Komisi Perdagangan Federal AS (1978-1980) mengembangkan teori mengenai tata kelola ekonomi dalam organisasi perusahaan serta peran penting organisasi bisnis (perusahaan) dalam resolusi konflik, sesuatu yang tidak bisa ditawarkan oleh pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi hierarkial seperti perusahaan, menurut dia, merepresentasikan struktur tata kelola dan pendekatan yang berbeda dalam hal mekanisme penyelesaian konflik kepentingan. Berbeda dengan pasar yang diwarnai karakteristik konflik dan negosiasi, organisasi perusahaan bisa berperan lebih baik dalam meredam konflik jika kompetisi dibatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian Williamson ini memberikan sumbangan besar terhadap pemahaman tentang mengapa organisasi perusahaan bisa eksis, dan jawaban terhadap pertanyaan ini adalah karena organisasi perusahaan menawarkan mekanisme resolusi konflik yang efisien lewat struktur hierarki yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teorinya juga menjelaskan pergeseran batas-batas yang dimiliki perusahaan, seperti mengapa outsourcing kini menjadi tren yang populer, kenapa perusahaan sering menyalahgunakan wewenangnya, dan kenapa perusahaan besar berkutat dalam sejumlah industri, sementara di sejumlah sektor lain tidak seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian kedua ekonom mengenai bagaimana suatu keputusan yang dibuat di luar pasar bisa jauh lebih efektif ini menjadi angin segar di tengah rezim ekonomi global yang selalu mengagungkan pasar sebagai solusi terhadap semua persoalan yang dihadapi masyarakat dan ekonomi global selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan kedua ekonom ini menjadi semacam oase di tengah kesuntukan kegagalan pasar karena mengangkat pentingnya dikembalikannya otoritas individu (baik melalui organisasi sosial kemasyarakatan maupun organisasi perusahaan) dalam pengelolaan ekonomi atau sumber daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci keberhasilan sistem ini, menurut Ostrom, adalah partisipasi aktif individu dalam pengambilan keputusan dan penegakan aturan. Cara ini terbukti jauh lebih berhasil ketimbang jika aturan diterapkan oleh pihak di luar organisasi. Salah satu dari temuan mengagumkan Ostrom adalah masyarakat dengan sukarela ikut memantau dan memberi sanksi kepada mereka yang melanggar, tanpa menuntut imbalan apa pun untuk tindakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan dua ekonom ini boleh dikatakan juga kemenangan bagi komite Nobel Ekonomi. Runtuhnya ekonomi global akibat krisis juga menjadi pukulan besar bagi kredibilitas Nobel Ekonomi karena masyarakat melihat teori-teori yang dikembangkan oleh para ekonom dan membuat mereka menyabet Nobel Ekonomi selama ini terbukti tidak bekerja atau tidak berfungsi dan justru menuntun kepada kehancuran ekonomi global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia tidak akan melupakan bagaimana tidak sampai setahun berselang setelah duo Robert Merton-Myron Scholes (Option Pricing Theory) menyabet Nobel Ekonomi 1997, lembaga hedge funds raksasa yang mereka kelola (Long Term Capital) ambruk dan nyaris menyeret seluruh sektor finansial AS sehingga terpaksa ditalangi oleh Federal Reserve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada sebuah televisi Swedia, Ostrom sendiri mengaku kaget mengetahui dirinya menang. ”Banyak orang yang berjuang gigih (untuk mendapatkan penghargaan ini) dan merupakan kehormatan besar untuk terpilih,” ujarnya. Williamson, yang berbagi hadiah senilai 10 juta kronor Swedia (1,44 juta dollar AS) dengan Ostrom, dikutip kantor berita TT juga menyatakan tak percaya, ia menang. Ia hanya berharap, dengan kemenangan ini, isu organisasi akan mendapat tempat lebih besar dalam kajian mengenai aktivitas ekonomi ke depan.(tat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIODATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Nama: Elinor Ostrom •Lahir: Los Angeles, California, AS, 1933 •Pendidikan: Gelar PhD di Ilmu Politik dari University of California, Los Angeles, tahun 1965; Arthur F Bentley Professor di bidang Ilmu Politik dan Professor School of Public and Environmental Affairs dari Indiana University, Bloomington&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Nama: Oliver Williamson •Lahir: Superior, Wisconsin, AS, 1932 •Pendidikan: Gelar BSc di bidang manajemen dari MIT Sloan School of Management tahun 1955 dan PhD di bidang Ilmu Ekonomi tahun 1963 dari Carnegie Mellon University, Pittsburgh •Saat ini merupakan profesor emeritus di Bisnis, Ilmu Ekonomi dan Hukum Edgar F Kaiser serta Professor of the Graduate School, University of California, Berkeley&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/13/03510499/organisasi.sosial.dan.nobel.ekonomi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-5119451888181470545?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/5119451888181470545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=5119451888181470545' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5119451888181470545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5119451888181470545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/10/organisasi-sosial-dan-nobel-ekonomi.html' title='Organisasi Sosial dan Nobel Ekonomi'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-2858052098141815643</id><published>2009-10-13T10:27:00.000+07:00</published><updated>2009-10-13T10:28:23.743+07:00</updated><title type='text'>PEMBANGUNAN PERBATASAN</title><content type='html'>Presiden Perlu Bentuk Badan Pengelola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 13 Oktober 2009 | 03:37 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, Kompas - Keberadaan badan pengelola perbatasan di tingkat pusat diperlukan untuk mempertegas arah kebijakan pembangunan dan melaksanakan program pembangunan di perbatasan. Ironinya, meski Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara sudah mengamanatkan hal itu, sampai kini badan yang posisinya di bawah presiden itu belum juga terbentuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apabila badan pengelola perbatasan dapat terbentuk bersamaan dengan pembentukan kabinet (tahun ini), pembangunan wilayah perbatasan diharapkan bisa lebih sinergi dan komprehensif,” kata Nyoman Sudana, pemerhati masalah perbatasan, Senin (12/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24 UU No 43/2008 mengharuskan pemerintah membentuk badan pengelola perbatasan, baik di tingkat pusat maupun di daerah, paling lambat 6 bulan setelah ketentuan itu diundangkan. UU wilayah negara diundangkan pada 14 November 2008. Jika merujuk pada Pasal 24 itu, pembentukan badan pengelola perbatasan seharusnya terealisasi pertengahan Juni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut anggota Dewan Perwakilan Daerah, Daerah Pemilihan Kalimantan Barat (Kalbar), Erma Ranik Suryani, dengan tidak membentuk badan pengelola perbatasan sesuai dengan batas waktu yang diamanatkan undang-undang, presiden bisa dikatakan mengabaikan ketentuan hukum. ”Ini cukup ironi mengingat di daerah seperti Kalbar justru sudah memiliki badan perbatasan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Komitmen presiden terhadap perbatasan patut dipertanyakan. Jika selama ini presiden menyatakan wilayah perbatasan sebagai beranda depan, seharusnya ditindaklanjuti dengan political will membentuk badan pengelola perbatasan,” kata Erma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan badan tersebut, menurut Nyoman, akan membuat pembangunan di perbatasan menjadi lebih fokus tidak bersifat parsial seperti yang terjadi selama ini. Sejak perbatasan dijadikan wilayah strategis nasional dan hal itu selalu disinggung di dalam pidato kenegaraan presiden, hampir semua departemen dan instansi terkait membuat program dan mengalokasikan anggaran yang tidak sedikit untuk membangun perbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sayangnya, banyak program yang masuk ke sana tidak terpadu sehingga tidak banyak mendorong kemajuan di perbatasan,” kata Nyoman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencontohkan adanya alokasi anggaran untuk membangun gerbang perbatasan di Kabupaten Bengkayang (Kalbar). Padahal, belum ada kesepakatan Indonesia-Malaysia soal titik temu akses yang akan dijadikan pos pemeriksaan lintas batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, pembangunan pasar dan rumah susun sewa sederhana di perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar, yang tidak didukung fasilitas listrik. ”Program yang menelan biaya miliaran rupiah itu sampai sekarang belum bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat,” kata Nyoman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya badan pengelola perbatasan, ujar Nyoman, penanganan persoalan yang berkaitan dengan batas wilayah negara juga akan lebih jelas. ”Artinya, ada kejelasan soal siapa yang bertanggung jawab menanganinya,” katanya seraya mengatakan, jika pengelola perbatasan sudah terbentuk, kasus klaim wilayah ataupun lepasnya wilayah negara bisa diminimalisasi.(WHY)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/13/03370744/presiden.perlu.bentuk.badan.pengelola&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-2858052098141815643?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/2858052098141815643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=2858052098141815643' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/2858052098141815643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/2858052098141815643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/10/pembangunan-perbatasan.html' title='PEMBANGUNAN PERBATASAN'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-5313050739407113533</id><published>2009-10-12T05:21:00.000+07:00</published><updated>2009-10-12T05:22:44.262+07:00</updated><title type='text'>Potensi Selat Malaka</title><content type='html'>Pulau Nipah Strategis untuk Jasa Pelayaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 12 Oktober 2009 | 03:40 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batam, Kompas - Potensi ekonomi dari kegiatan pelayaran kapal-kapal asing di jalur Selat Malaka, Selat Philip, dan Selat Singapura belum tergarap secara maksimal. Jasa pemandu kapal-kapal asing di jalur ketiga selat itu selama ini lebih banyak dilakukan perusahaan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo)I segera memanfaatkan potensi ekonomi di ketiga selat itu dengan usaha jasa pemandu kapal-kapal asing. Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan potensi ekonomi di Selat Malaka dan Selat Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dikemukakan Direktur Utama PT Pelindo I Harry Sutanto di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (10/10). ”Ada sekitar 200 kapal per hari yang lalu- lalang di Selat Malaka, termasuk Selat Singapura. Namun, jasa pemandu kapal selama ini lebih banyak dilakukan oleh perusahaan asing,” kata Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 200 kapal itu, lanjut Harry, sekitar 10 persen merupakan kapal tanker minyak berukuran besar. Kapal-kapal tanker yang melewati Selat Malaka dan Singapura membutuhkan jasa pemandu untuk keselamatan pelayaran dan perlindungan aspek lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelindo I, badan usaha milik negara yang bergerak di bidang usaha jasa kepelabuhanan, menurut Harry, siap memberikan pelayanan jasa pemandu kapal-kapal di Selat Malaka dan Selat Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelindo telah melakukan uji coba pemanduan kapal di perairan Pulau Iyu Kecil, Kabupaten Karimun. Pihak Pelindo I juga terus mengikuti pertemuan kelompok ahli teknis mengenai keselamatan navigasi di Selat Malaka dan Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajer Pelayanan Kapal Pelindo Cabang Tanjung Pinang Jauhari mengatakan, nilai ekonomis dari kegiatan kapal-kapal jalur pelayaran Selat Malaka dan Singapura sangat besar. Sebagai gambaran, biaya jasa pemandu sekitar 0,026 dollar AS per kapasitas ruang muatan (gross register tonnage/GRT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jauhari, pihak PT Pelindo I menargetkan dapat melayani 10 kapal tanker berukuran besar per hari. Dengan asumsi, biaya jasa pemandu sebesar Rp 100 juta per kapal, berarti pendapatan dari jasa pemandu kapal mencapai Rp 1 miliar per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauhari menyatakan, jasa pemandu kapal asing bersifat sukarela. Artinya, pihak kapal asing dapat menggunakan jasa pemandu dari perusahaan yang diakui oleh suatu negara, seperti PT Pelindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Nipah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menambahkan, potensi Pulau Nipah, Provinsi Kepulauan Riau, sangat strategis untuk usaha jasa pelayaran kapal-kapal asing yang melintas di Selat Malaka dan Selat Singapura, seperti kapal-kapal minyak dari Timur Tengah ke negara-negara di Asia Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Harry, ada banyak jasa pelayaran dan kepelabuhanan yang dapat ditawarkan kepada kapal-kapal asing, seperti lego jangkar, pengadaan logistik, dan jasa pemandu. (FER)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/12/03405335/potensi.selat..malaka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-5313050739407113533?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/5313050739407113533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=5313050739407113533' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5313050739407113533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/5313050739407113533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/10/potensi-selat-malaka.html' title='Potensi Selat Malaka'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-7247398962783831148</id><published>2009-09-23T22:05:00.000+07:00</published><updated>2009-09-23T22:08:45.124+07:00</updated><title type='text'>Jalur Nenek Moyang, Jalur Ilegal Masuk Filipina Selatan</title><content type='html'>[ Selasa, 22 September 2009 ]&lt;br /&gt;Jalur Nenek Moyang, Jalur Ilegal Masuk Filipina Selatan&lt;br /&gt;Nelayan Pemberani Pasang Tarif Rp 3 Juta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 35 nama militan Indonesia yang terdeteksi di kamp-kamp Minda­nao Selatan dan Tengah diperkirakan bertambah. Sebab, jalur masuk Indonesia-Filipina relatif "mudah" diterobos oleh pendatang ilegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JALUR masuk itu melalui pulau-pulau terluar di Sulawesi Utara (biasa disebut Kepulauan Nusantara Utara, disingkat Nusa Utara, Red), kemudian masuk ke Mindanao. Banyak jalur untuk masuk secara ilegal dari Sulawesi Utara (Sulut) ke Mindanao. Begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di sana biasa menyebutnya sebagai "jalur nenek moyang", mengacu pada rute perjalanan yang ditempuh orang-orang Sangihe dan Mindanao Selatan zaman dulu. Sepanjang 2008, Polda Sulut memperkirakan, total pelintas batas -baik legal maupun ilegal- 30 ribu orang. Bila satu persennya saja kelompok militan, berarti sekitar 300 orang belajar militer secara ilegal setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak rute yang menghubungkannya. Di antaranya, "jalur resmi" via Pulau Marore dan Pulau Miangas. Yang dimaksud jalur resmi adalah semacam pos imigrasi yang memberikan pass border hanya untuk warga sekitar. ''Namanya border crossing area,'' kata Kasi Umum Imigrasi Tahuna Stevie Warouw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, pos imigrasi itu ditujukan untuk pelintas batas warga sekitar yang memang keperluannya mengharuskan mondar-mandir Filipina-Indonesia. Untuk itu, imigrasi memberikan semacam pass border kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pulau Marore, biasanya mereka menuju Pulau Balut atau Saranggani di Filipina sebelum sampai di Kota General Santos. Ada pos imigrasi Filipina di dua pulau itu. Total perjalanan yang dibutuhkan bila menggunakan rute via Marore-Mindanao Selatan sekitar 28 jam dari Pulau Sangihe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Miangas, biasanya mereka langsung ke Pelabuhan Davao, yang hanya berjarak empat jam perjalanan. Ada lagi jalur resmi lainnya. Yakni, ikut kapal barang dari Manado ke Davao. Biasanya, kapal tersebut berangkat sebulan sekali dengan jadwal yang tak bisa ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk jalur tak resmi, pilihannya lebih banyak lagi. Yakni, menyewa kapal pump boat dari Indonesia langsung ke Jen-San (pelafalan orang-orang sekitar sebagai akronim dari Kota General Santos). Tak semua pulau menjadi sentra ''carteran" pump boat. Pump boat adalah semacam kapal kayu bermesin dengan jukung berukuran sekitar 2 x 6 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, pulau-pulau tersebut minim penjagaan. Berdasar penelusuran Jawa Pos, orang-orang yang bersedia menyeberangkan berasal dari Pulau Tinakareng, Pulau Kawaluso, atau Pulau Matutuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang paling terkenal adalah Pulau Tinakareng. Pulau yang hanya mempunyai empat kampung (dan bila penduduk kampung A mau ke kampung B harus lewat laut) tersebut sejak dulu dikenal sebagai kampung nelayan-nelayan pemberani. Selain itu, pulau tersebut dikenal sebagai sentra penyelundupan. Hingga kini, Pulau Tinakareng masih menjadi jujukan para pencari minuman beralkohol kelas atas dari Filipina dengan harga sangat miring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara tiga pulau itu, Jawa Pos menjajaki tarif dan lamanya rute nenek moyang tersebut. Ada beberapa alternatif. Bila ingin sedikit nyaman, bisa menyewa perahu fuso, sebuah perahu barang agak besar. Namun, tarifnya sangat tinggi. Di Kawaluso saja (yang relatif lebih dekat ke Jen-San), nelayan mematok paling rendah Rp 8 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bila kenyamanan agak diabaikan (karena toh tak berbeda jauh tingkat kenyamanannya), bisa menggunakan pump boat. Di Tinakareng, Jawa Pos bertemu seorang nelayan yang mau mengantarkan ke Jen-San dengan harga miring. Yakni, Rp 3 juta sebagai ongkos perjalanan plus Rp 900 ribu sebagai ongkos beli solar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Nanti Mas saya jemput di Petta (salah satu pelabuhan di Pulau Sangihe, Red) karena ketat di sini (Tinakareng, Red). Kalau jadi, kita berangkat siang supaya ketika masuk Fili­pina malam. Kalau masuk siang, ditangkap tentara Filipina. Ka­rena pump boat dilarang masuk kalau siang,'' ucap Raffles, nama nelayan yang bersedia mengantar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Jen-San menempuh waktu 15 jam. Risikonya tinggi karena kapal sekecil itu harus menempuh lautan lepas Pasifik sebelum masuk Filipina. Apalagi, cuaca laut Juni-Desember tak pernah bisa diprediksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, upaya pengetatan dan pengawasan telah dilakukan. Kebetulan yang jadi Kapolda Sulut adalah Brigjen Pol Bekto Suprapto, mantan Kadensus 88 Antiteror Mabes Polri. Karena menguasai betul, Kapolda menempatkan personel di sejumlah pulau-pulau tersebut. ''Sebisa mungkin kami meminimalkan jalur ilegal tersebut,'' tegas jenderal bintang satu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetatan itu terasa di Tinakareng. Ketika Jawa Pos masuk ke sana, sudah ada pos polisi dan pos militer di kampung yang hanya berpenduduk sekitar 20 KK tersebut. Selain diperiksa oleh tim dari Batalyon 712 Manado, Jawa Pos digeledah dan ditanya-tanya oleh personel Densus yang ditempatkan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tetap saja pengetatan itu belum secara maksimal mampu ''membendung" arus jalur nenek moyang tersebut. Buktinya, Jawa Pos bisa mendapatkan perahu dari Sangihe ke Jen-San, yang berarti jalur tersebut masih sangat mungkin menjadi jalur utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada jalur dari Sandakan, Kalimantan, kemudian ke Tawi-Tawi, berlanjut ke Sulu, Basilan, dan Zamboanga. Dari sana langsung ke Cotabato City atau daerah mana pun yang menjadi areal kekuasaan MILF maupun Abu Sayyaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula sebaliknya dari Filipina. Ketika Jawa Pos ke Jen-San, juga tak terlalu sulit mendapatkan perahu untuk mengantarkan balik ke Indonesia. Tarifnya pun lebih murah, yaitu 15 ribu Php (Philipines peso) atau sekitar Rp 3,5 juta. Itu sudah termasuk semua. Lebih murah lagi bila mencari pump boat dari Pulau Balut. ''Saya punya banyak teman di sa­na. Bisa dapat 13 ribu peso. Kalau serius, nanti saya hu­bungi,'' ucap Rico, nama nelayan yang juga mengaku sebagai orang Sangir (sebutan untuk Pulau Sangihe, Red) tersebut. Bahkan, dia menawarkan diri untuk mengantar hingga Dermaga Tahuna, bukan hanya Tinakareng. (ano/kum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&amp;nid=91480&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-7247398962783831148?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/7247398962783831148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=7247398962783831148' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/7247398962783831148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/7247398962783831148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/09/jalur-nenek-moyang-jalur-ilegal-masuk.html' title='Jalur Nenek Moyang, Jalur Ilegal Masuk Filipina Selatan'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-3345803284016126166</id><published>2009-09-02T10:21:00.000+07:00</published><updated>2009-09-02T10:25:36.684+07:00</updated><title type='text'>Hak Pengusahaan Mustahil Hentikan Penjualan Pulau</title><content type='html'>Hak Pengusahaan Mustahil Hentikan Penjualan Pulau&lt;br /&gt;Tuesday, 01-09-09 @ 13:43&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metrotvnews.com, Jakarta: Rencana pemberlakukan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP3) oleh pemerintah diragukan mampu menghentikan kasus penjualan pulau. Keraguan itu disampaikan pengamat kelautan dan perikanan Institut Pertanian Bogor Suhana di Jakarta, Selasa (1/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suhana, justru penjualan pulau akan semakin marak karena status kepemilikannya menjadi milik perorangan atau perusahaan, sehingga menjadi mudah untuk diperjualbelikan. Terlebih lagi dalam Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diperbolehkan untuk "diperjualbelikan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suhana, kata-kata dalam Pasal 20 ayat 1 tentang HP3 yang dapat beralih, dialihkan, dan dijadikan jaminan utang dengan dibebankan hak tanggungan adalah kata lain dari diperjualbelikan. "Kata-kata dialihkan dan dijadikan jaminan utang kan adalah nama lain dari dapat diperjualbelikan," ujar dia. Jual-beli akan marak katena pengawasan sangat lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Sesditjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan Sudirman Saad mengatakan, pihaknya bersama pemerintah daerah menargetkan 20 perda zonasi yang mendukung terlaksananya HP3 akan selesai dibentuk tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pemberian HP3, menurut Dirman, akan ada pembatasan pemberian hak untuk swasta dan perorangan, kecuali untuk masyarakat adat, sehingga tidak ada yang bisa mengakumulasi hak yang telah diberikan untuk pengelolaan suatu wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada batas maksimal dari luas areal pesisir yang boleh dikelola oleh swasta maupun perorangan," ujar dia. Setap peralihan hak pun, lanjut Dirman, harus ada izin peralihan dari pemerintah daerah atau menteri. Instrumen ini yg akan mengontrol agar tidak terjadi penumpukan. (Ant/DOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.metrotvnews.com/index.php/mobile/news_aktual/2892/cek&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-3345803284016126166?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/3345803284016126166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=3345803284016126166' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/3345803284016126166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/3345803284016126166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/09/hak-pengusahaan-mustahil-hentikan.html' title='Hak Pengusahaan Mustahil Hentikan Penjualan Pulau'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-641557632818870050</id><published>2009-09-01T10:07:00.000+07:00</published><updated>2009-09-01T10:08:38.180+07:00</updated><title type='text'>Lapian, 80 Tahun Nakhoda Sejarah Kelautan</title><content type='html'>Kompas, Selasa, 1 September 2009 | 03:13 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulyawan Karim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 1 September ini, sejarawan Prof Dr Adrian Bernard Lapian genap berusia 80 tahun. Dalam usia senja, lelaki ini masih berbicara dengan jelas dan runut. Ia mampu mencari sendiri di rak bukunya beberapa pustaka dan majalah yang pernah memuat tulisan tentang dirinya. Salah satunya, Itinerario, jurnal sejarah maritim Belanda, yang lima tahun lalu memuat hasil wawancara dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali asam urat dan daya pendengaran yang dirasakannya menurun, Lapian relatif tak punya keluhan kesehatan serius. Ia biasa melakukan perjalanan sendiri ke Jakarta dari Tomohon, Sulawesi Utara. Setelah pensiun sebagai peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1994, ia lebih banyak tinggal di kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan lalu ia kembali tinggal di Jakarta guna menyiapkan penerbitan buku yang akan diluncurkan dalam acara peringatan ulang tahunnya ke-80 ini. Meski, ia sudah memercayakan penyuntingan naskah itu kepada penerbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mungkin mereka (penerbit) khawatir saya tak puas, jadi minta saya mengedit sendiri,” katanya. Maklum, Komunitas Bambu, penerbitnya, dikelola beberapa mantan mahasiswa Lapian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara peringatan ulang tahunnya bakal diisi peluncuran buku Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Buku ini adalah naskah disertasinya yang pernah diterbitkan menjadi buku pada 2001. Namun, ia tak puas dengan hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tesis yang dikemukakan Lapian adalah tentang bajak laut. Menurut dia, definisi yang hanya melihat bajak laut sebagai kriminal perlu dikoreksi. Ia mencontohkan Sir Francis Drake, petualang Inggris yang oleh bangsa Spanyol disebut pirate, perompak/bajak laut. Namun, Pemerintah Inggris justru menganggap Drake sebagai corsair, orang yang diberi hak merompak sebagai tugas negara. Ia bahkan diberi gelar kehormatan, Sir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, seseorang disebut bajak laut atau corsair tergantung dari pihak yang bicara. Ini sama dengan mereka yang disebut teroris dan berkonotasi negatif, tetapi oleh pihak lain malah dianggap pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku lain yang juga diluncurkan dalam acara sama yang digelar di Auditorium Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta, petang nanti, adalah Kembara Bahari. Antologi esai Kehormatan 80 Tahun Lapian ini didedikasikan untuk dia, dari para rekan dan mantan mahasiswanya, yang menjadi sejarawan dan budayawan Indonesia ataupun asing, seperti RZ Leirissa, guru besar sejarah UI, Pieter Drooglever, sejarawan Belanda, Ajip Rosidi, sastrawan, dan sosiolog Mely G Tan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluncuran kedua buku tersebut membangkitkan gairah Lapian. ”Saya senang karena teman-teman ternyata tidak melupakan saya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada duanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun bentuk acara peringatannya, Lapian adalah sosok peneliti dan akademisi Indonesia yang membanggakan. Keberadaannya lebih dari pantas untuk dirayakan. Ia, sejarawan yang lewat penelitian dan karya tulis, ikut mengharumkan nama bangsa di berbagai seminar dan lokakarya internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih spesifik lagi, Lapian adalah maestro di bidang sejarah maritim, sejarah kelautan, dan sejarah bahari. Sampai kini boleh dikata belum ada sosok yang mampu menandingi keempuannya itu, bahkan di Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kurang dari begawan sejarah Indonesia, almarhum Prof Sartono Kartodirdjo, memuji Lapian setinggi langit. ”Apa yang dilakukan Lapian dengan karyanya merupakan keberhasilan cemerlang. Ia sudah melakukan prinsip yang mengarah ke excellence. Caranya memegang dan menghayati prinsip ini dalam berkarya sebagai akademisi mengingatkan bahwa only the best is good enough,” kata guru besar sejarah Universitas Gadjah Mada itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah bimbingan Sartono, Lapian lulus dengan predikat cum laude dalam ujian doktor tahun 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Anthony Reid, sejarawan senior dan peneliti utama Asia Research Institute, National University of Singapore, menilai Lapian sebagai sejarawan Indonesia yang tak ada duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tak ada sarjana Indonesia yang menunjukkan keahlian sebagai sejarawan lebih baik dari Lapian,” kata Reid, seperti dikutip di sampul belakang buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapian bukan ilmuwan yang hanya meneropong dari menara gading. Saat sebagian di antara kita baru belakangan sadar dan mewacanakan kurangnya perhatian bangsa kepada kebaharian, Lapian sejak 30-an tahun lalu mengingatkan pentingnya mengalihkan orientasi kehidupan bangsa dari darat ke laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sebagai negara kepulauan, mengacu pada kata archipelago yang diterjemahkan menjadi nusantara. Terjemahan ini, menurut Lapian, salah kaprah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Archipelago berasal dari kata arche yang artinya besar dan pelago yang maknanya laut. Jadi, archipelago berarti laut besar, bukan kepulauan atau nusantara, kata yang sebetulnya bermakna pulau-pulau luar atau pulau-pulau di seberang laut,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan istilah nusantara menunjukkan cara pandang bangsa yang lebih berorientasi kepada darat daripada laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tambah Lapian, kesadaran kebaharian sudah jauh lebih baik. Ia menunjuk adanya Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai bukti. ”Saya senang karena makin banyak sarjana, termasuk sejarawan, yang berminat terhadap masalah kelautan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga melihat semakin banyak buku sejarah kebaharian, termasuk Angkatan Laut, seperti buku yang ditulis sejumlah purnawirawan perwira tinggi TNI AL, Dan Toch Maar. Buku ini berisi pengalaman anggota TNI AL pertama yang dikirim ke Eropa untuk belajar di Sekolah Tinggi Angkatan Laut Belanda tahun 1950-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seminar sejarah di Jakarta pada 1998, Shahril Talib, guru besar sejarah University of Malaysia, untuk pertama kali menyebut Lapian sebagai ”Nakhoda Sejarah Maritim Asia Tenggara”. Sejak itu ia kerap disapa dengan julukan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julukan nakhoda bagi Lapian tak berlebihan. Ia pelopor sekaligus pengembang utama disiplin sejarah kelautan Indonesia dan Asia Tenggara. Ia menentukan ke mana biduk ilmu pengetahuan itu berlayar. Meski sejarawan maritim muda bermunculan, pengaruh Lapian tetap terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIODATA &lt;br /&gt;• Nama: Adrian Bernard Lapian • Lahir: Tegal, Jawa Tengah, 1 September 1929 • Pendidikan: - SD, SMP, SMA/AMS di Tomohon, Sulawesi Utara, lulus ”algemene middelbare school” (AMS), 1950 - Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Jurusan Sipil (kini ITB), 1950-1953, tak selesai - Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UI, 1956-1961 - Mendalami sejarah maritim di Universitas Leiden, Belanda, 1966 - Doktor ilmu sejarah Universitas Gadjah Mada, lulus 1978 • Karier: - Pustakawan Biro Perancang Negara (kini Bappenas), awal 1950-an - Wartawan ”The Indonesian Observer”, 1954-1957 - Kepala Seksi Sejarah Angkatan Laut dan Maritim, Markas Besar TNI Angkatan Laut, 1962-1965 - Peneliti Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (kini LIPI), antara lain sebagai Kepala Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan, 1957 sampai pensiun, 1994 - Dosen dan pembimbing kandidat doktor UGM, UI, dan Universitas Sam Ratulangi - Guru besar luar biasa UI, 1992 • Penghargaan: - Bintang Jasa Utama dari Pemerintah Indonesia, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://koran.kompas.com/read/xml/2009/09/01/0313155/lapian.80.tahun.nakhoda.sejarah.kelautan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-641557632818870050?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/641557632818870050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=641557632818870050' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/641557632818870050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/641557632818870050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/09/lapian-80-tahun-nakhoda-sejarah.html' title='Lapian, 80 Tahun Nakhoda Sejarah Kelautan'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-6854398077676911987</id><published>2009-08-31T04:18:00.001+07:00</published><updated>2009-08-31T04:18:46.804+07:00</updated><title type='text'>Melaut di Indonesia, Sekolah di Filipina</title><content type='html'>Melaut di Indonesia, Sekolah di Filipina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 30 Agustus 2009 | 03:37 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan Santosa/Agung Setyahadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari nafkah sehari-hari di perairan Indonesia dan menuntut ilmu hingga kuliah di Filipina. Itulah kekhasan masyarakat Indo-Filipina yang tersebar di Tobelo, Maluku Utara, Kabupaten Sangihe-Talaud, di Sulawesi Utara, hingga pesisir selatan Mindanao, Filipina, dari Cotabato-Balud-Sarangani-General Santos dan Davao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar anak nelayan Indo-Filipina yang di Sulawesi Utara (Sulut) dikenal sebagai komunitas ”Sapi” alias ”Sangir-Pilipina”, mempunyai kemampuan linguistik yang unik di tengah keterbatasan ekonomi. Mereka berkomunikasi dengan ayah Indonesia-nya dalam bahasa Melayu dan berdialek Visayag atau Tagalog dengan ibunya, serta berbahasa Inggris saat bersekolah di Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”I want to work as nurse in the Philippines. I want to take good care of my parent (Saya ingin jadi perawat di Filipina. Saya ingin merawat orangtua saya). Saya juga suka tinggal di Indonesia seperti sekarang,” kata Crystal Gae Manabong (14), gadis ”Sangir-Pilipina” yang ditemui di rumah ayahnya di pesisir Pantai Tobelo, Maluku Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari, Crystal dan adiknya, Cydney B Manabong (12), berbicara dalam empat bahasa dengan komunitas yang berasal dari Sangihe-Talaud, Mindanao, dan Cebu. Demikian pula sepupu mereka, Rose (8), yang besar di Indonesia, putri pasangan Indo-Filipina, Rapol Sahal dan Owingce Minabo. Namun, Rose tidak bisa berbahasa Inggris karena bersekolah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crystal yang tiba di Tobelo akhir 2008, mulai lancar berbahasa Indonesia. Crystal yang bersekolah setingkat SMP di General Santos, Filipina, semula hanya berbicara dalam bahasa Inggris, Sangir, Visayag, dan Tagalog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika disapa ”Mahal Kita” (sayangku) dalam bahasa Tagalog, Crystal tertawa. Saat ditanya ”Balai ikau sa Balud?” (rumah kamu di Balud, Mindanao?) Crystal menggeleng kepala dan menjawab, ”General Santos.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rose yang sedang ditinggal orangtuanya ke Balud, diawasi sepupunya, Marbeline (18). Rumah mereka tidak jauh dari pondok kelompok nelayan Akmas Manabong. Komunitas gado-gado itu bergantian mendengarkan siaran radio bahasa Tagalog dan berbahasa Indonesia untuk mendapatkan informasi di tempat yang terpencil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah di Filipina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anak saya kembali sekolah bulan November di Gensan (General Santos). Sebagian besar anak Indo-Filipina bersekolah di Filipina karena banyak kemudahan. Mereka punya banyak kerabat di Filipina dari perkawinan campur orangtua. Banyak yang kuliah lalu jadi pegawai negeri atau tenaga profesional di kota besar, seperti General Santos atau Davao,” kata Luz Manabong (40), wanita Filipina, istri dari Akmas Manabong (46), nelayan asal Tahuna, Kabupaten Talaud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Luz dan dua putrinya menyusul Akmas ke Tobelo, mereka tinggal di General Santos. Biasanya, Akmas-lah yang menjenguk keluarga dan berlayar dari Tobelo-Pulau Maroreh, lalu tiba di General Santos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luz mengaku, bersekolah di Filipina, seperti di Genral Santos dan Davao, menjanjikan perbaikan nasib bagi anak-anak peranakan Indo-Filipina. ”Setahu saya tidak ada yang kuliah di Manado,” kata Luz dalam bahasa Inggris yang lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota General Santos berada di dekat Pulau Balud dan Pulau Sarangani, yang menjadi sentra hunian warga Indonesia asal Sangihe-Talaud. Warga Indonesia di sana berjumlah puluhan ribu orang di pulau yang berada beberapa puluh mil sebelah barat Pulau Miangas, titik paling utara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Konsul Muda RI di KJRI Davao FX Soekirno Soetohardjo menerangkan, hampir sepuluh ribu warga Indonesia bermukim di Filipina Selatan pada awal 1980-an. ”Waktu itu saya membuat beberapa rukun warga dan rukun tetangga agar memudahkan koordinasi. Mereka sering ditekan gerilya komunis New People’s Army (NPA) dan pemberontak Moro,” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut Indonesia kaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencari ikan, para nelayan Indo-Filipina mengaku lebih mudah melaut di perairan Indonesia. ”Kalau di Filipina, semalam melaut paling banyak dapat 1.000 peso sampai 2.000 peso (sekitar Rp 250.000 hingga Rp 500.000). Hasil itu dibagi dua orang atau tiga orang yang bekerja dalam satu perahu kecil. Kalau melaut di Indonesia bisa dapat di atas tiga juta rupiah hingga lima juta rupiah dengan bekerja dua atau tiga hari. Hasil itu dibagi satu kelompok kami sebanyak sepuluh orang,” kata Luther Mandome (52), nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaut hingga jauh sudah menjadi tradisi orang Sangir. John Mamalu (35), yang pernah bekerja di kapal ikan Taiwan, berkata, nelayan Sangir melaut hingga Laut Pasifik Selatan di sekitar Tuvalu, Vanuatu, Kepulauan Solomon, dan Papua Niugini. ”Orang Sangir bekerja di kapal ikan, berkebun di sekitar pesisir Mindanao, hingga Maluku Utara atau mendulang emas,” kata Mamalu menjelaskan profesi tradisional masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nelayan Sangir mengadopsi perahu Pam Boat Filipina. Berbekal teknologi Filipina, Akmas masih bisa mencari ikan di Maluku Utara saat ombak besar melanda. Sekolah di Filipina juga menjadi pilihan untuk memperbaiki nasib generasi penerus keluarga Indo-Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/30/03373684/melaut.di.indonesia.sekolah.di.filipina&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5494041368097764945-6854398077676911987?l=suhana-ocean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/feeds/6854398077676911987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5494041368097764945&amp;postID=6854398077676911987' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/6854398077676911987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5494041368097764945/posts/default/6854398077676911987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suhana-ocean.blogspot.com/2009/08/melaut-di-indonesia-sekolah-di-filipina.html' title='Melaut di Indonesia, Sekolah di Filipina'/><author><name>Suhana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08953935178477415528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_MFYb5vruOck/R7kukTGwDAI/AAAAAAAAABg/0p01p2M2zuE/S220/P1120088.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5494041368097764945.post-5867964677866165932</id><published>2009-08-26T05:49:00.001+07:00</published><updated>2009-08-26T05:49:59.986+07:00</updated><title type='text'>WILAYAH KEPULAUAN : Nusa Utara Bergantung pada Ombak</title><content type='html'>Nusa Utara Bergantung pada Ombak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 26 Agustus 2009 | 03:09 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Agus Mulyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sebenarnya ingin, saat rombongan dari Jakarta ini datang ke Tahuna dan Marore, ombak mencapai 4 meter atau lebih. Orang Jakarta harus tahu kondisi sebenarnya di kepulauan ini. Kok, sekarang ombak sangat bagus,” ujar Bupati Sangihe W Salindeho mengemukakan hal itu ketika berbincang di atas kapal Pelni yang disewa khusus menuju Pulau Marore, Sulawesi Utara, Minggu (16/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin rombongan pejabat dari Jakarta, yakni Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan Alex Retraubun, tersenyum mendengar ucapan bupati. ”Kami datang dengan hati bersih dan niat yang baik sehingga laut pun bersahabat,” kata Alex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan laut mulai dari Pelabuhan Bitung, Sabtu (15/8) pukul 17.00 Wita, hingga Pelabuhan Tahuna esok harinya pukul 08.00 Wita, ombak memang terus tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki Teluk Tahuna, setelah 13 jam berlayar dari Bitung, melihat laut yang begitu jernih dan alun ombak yang begitu tenang, ingin rasanya terjun dari kapal dan berenang di laut biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut memang sedang bersahabat. Sebagian masa lain dalam setahun, ombak di perairan Sangihe sangat tidak bersahabat. Seorang anak buah kapal Pelni yang membawa rombongan menyebutkan, ombak kadang setinggi 4 meter lebih. Kalau seperti itu, barang-barang di kapal harus diturunkan ke lantai agar tidak berjatuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami, para nelayan, tidak ada yang berani mencari ikan,” ujar Jimmy (22), nelayan asal Pulau Marore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Marore, pulau terluar berpenduduk 669 jiwa, berhadapan langsung dengan kawasan Filipina selatan. Dari Manado, pulau itu berjarak 206 mil laut (381,5 kilometer), sedangkan dari Pulau Balut (Filipina selatan) hanya 40 mil laut (74 kilometer). Marore dapat ditempuh hampir dua hari jika menggunakan kapal perintis yang rutin melayani kawasan itu.&lt;br /&gt;&lt;
